Pengorbanan Kyai Maimoen

Amirul Mu’minin Sayyidina ‘Umar ibnil Khatthab menanyakan kepada putrinya, berapa lama daya tahan seorang isteri tidak ketemu suaminya. Sang putri memperkirakan tiga bulan. Berdasarkan itu, Amirul Mu’minin menetapkan kebijakan pergantian pasukan perang di medan pertempuran setiap tiga bulan. Supaya tidak ada prajurit yang bertugas jauh dari isteri lebih tiga bulan. Supaya istri-istri tidak tersiksa.

Aku sendiri tidak akan tahan lebih sebulan tidak ketemu istri. Belum ada sebulan pasti sudah kutinggalkan segala urusan dunia fana ini untuk pulang menemui kekasihku. Kalau toh ada orang yang tahan berpuluh-puluh tahun tidak ketemu isteri –seperti Savic Ali, misalnya– itu khariqul ‘aadah, memang tidak normal.

Karena cinta itu berat. Rindu itu menyiksa.

Kyai Wahab Hasbullah sudah siap-siap, merasa Izrail hendak datang, meminta santri membacakan Yasin di dekat pembaringannya. Tapi Muktamar NU sudah dekat. Maka,

“Aku minta verleeng kepada Izrail”, kata beliau, “nanti sesudah Muktamar saja”.

Menjelang Muktamar Yogya, 1989, Mbah Hamid Kajoran juga sudah siap-siap. Ketika Mbah Lim dan Gus Dur menengok, beliau pamit,

“Aku tak mati yo, Lim”, begitu beliau berkata kepada Mbah Lim. Aku mau mati ya, Lim.

“Tidak bisa tidak bisa tidak bisa!” spontan Mbah Lim menyergah, “Mau Muktamar kok mati”, Mbah Lim terus memberondong, “Mati ya mati… mati ya mati… tapi sesudah Muktamar!”

Terpaksa Mbah Hamid menunggu hingga sesudah Muktamar baru wafat.

Padahal cinta itu berat. Rindu itu menyiksa.

Kyai Maimoen menyeret tubuh sepuhnya ke Lombok, NTB, nun alangkah jauh dari Sarang, untuk hadir dalam Munas Alim Ulama NU tahun 2017. Karena beliau merasa harus mewejang langsung para kyai yang sedang berdiskusi di Komisi Bahtsul Masail, tentang nalar fiqih yang harus ditegakkan dalam hal-hal yang menyangkut negara. Agar jangan sampai fiqih secara sembrono ditabrakkan dengan negara.

Setelah tiga tahun melewati umur setengah abad ini, aku sendiri merasakan bahwa segala enak-enaknya dunia ini tidak terasa seenak dulu lagi. Gigi tanggal, banyak makanan sedap malah jadi momok ancaman kesehatan, otot-otot gampang kesemutan dan tak lagi bisa kencang sekuat dulu. Dunia jadi kurang menarik dan semakin tidak layak dikeloni.

Kyai Maimoen sudah melampaui usia 90 tahun. Aku yakin, sudah puluhan tahun dunia ini kurang menyenangkan bagi beliau. Sedangkan beliau punya cinta yang dirindu-rindu. Kalau aku, pasti sudah kupersetankan dunia jelek ini untuk segera ngacir memburu cinta-rinduku.

Kau tahu ‘kan, Siapa yang dicinta segala rindu oleh Kyai Maimoen?

Berapa lama beliau harus memendam cinta dan menahankan siksaan rindu? Demi apa?

Ya demi kamu! Iya! Kamuu!

Karena beliau kasihan kepadamu. Ingin menungguimu, membimbing tanganmu, menjagamu dari mara bahayanya zaman. Beliau kuatkan diri sekuat-kuatnya. Demi kau!

Walaupun cinta itu berat. Rindu itu menyiksa

4 thoughts on “Pengorbanan Kyai Maimoen”

  1. Kang NUr says:

    Top

  2. Kang NUr says:

    Top Nan

  3. Mohamad Kambali says:

    Alhamdulillah… akhirnya terbit lagi.

    Lama sekali menunggu terbitnya tulisan Kyai Yahya. Semoga di kesempatan berikutnya Kyai Yahya diberi kesempatan untuk memberi pencerahan melalui teronggosong ini.

    Matur suwun

    1. Adif says:

      Al-fatihah kagem mbah kyai maimun… Mugi yai yahya kerso nerusaken seng mboten enak2 niku..hhe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *