Gelar

Begitu melapor ke meja registrasi Muktamar Al Azhar di hotel Fairmont, Kairo, itu, aku diberi kartu tanda pengenal. Hampir saja aku meneriakkan takbir sangking girangku. Di kartu itu tertulis:

Dr. Yahya Cholil Staquf.

Universitas Al Azhar memberiku gelar doktor!

Soal “causa”-nya nggak penting. Apakah honoris causa, ngênyèkis causa atau sekedar undanganis causa…. Yang penting doktor! Nggak jelas bidangnya apa ya luwwèh!

Aku jadi ingat lagi cerita Kang Zainal Arifin, salah seorang pionir PKB di Kecamatan Senopati, Jakarta Selatan. Pada waktu pertama kali membentuk kepengurusan PAC PKB untuk kecamatan itu, harus ada negosiasi soal gelar bagi calon pengurusnya.

“Bang Niman nih pake apaan nih? De-er-es yak?” juru tulis rapat usul.

Bang Niman yang rendah hati menolak,

“Udeeeh kosongan aje daah…!”

“Wah! Ya jaangan dong! Kagak ade wibawanye ntar!”

Bang Niman jadi pikir-pikir. Belum sampai ia menemukan keputusan, si juru tulis dapat ide lain,

“Be-A aje gimane Be-A?”

Bang Niman mengangguk pasrah,

“Terserah deh”.

Eh, ngomong-ngomong, karena doktornya duluan aku, maka aku berkewajiban menyampaikan ucapan selamat kepada Abdul Muhaimin Iskandar atas gelar doktor honoris causa yang diterimanya dari Universitas Airlangga. Di antara orang-orang terhormat itu memang ada yang sungguh pantas dihormati.

Sekali lagi: Selamat! Allaahu yabariku fiika lid diin wasy sya’b wal insaaniyyah. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *