Banser Lugu vs Banser Disiplin

Menjadi tempat digelarnya Muktamar NU ke-28, 1989, seantero kawasan Pondok Pesantren Al Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, ditutup dan disterilkan dari segala jenis kendaraan. Bahkan jalan kampung di depan rumah Kyai Attabik Ali pun dipalang dan dijagai banser sepanjang waktu untuk mencegah kendaraan lewat, karena jalan itu membelah komplek pesantren.

Banser-banser penjaga palang jalan itu kaget ketika bakda isyak ada jip nyaris menabrak dan berhenti dengan rem berdecit-decit di depan palang. Hanya tampak orang di belakang setir tanpa ada penumpang lainnya. Orang itu bertampang Arab dengan jubah dan sorban.

“Buka!” ia membentak dari jendela mobil.

Sesuai perintah komandan, banser menolak dan mempersilahkannya mencari tempat parkir.

“Kalian nggak ngerti adab ya?” Si Arab muntab, “Kalian nggak tahu? Aku ini…” dia menyebut nama, lengkap dengan “bin” dan “al” yang kedengaran seperti nama keturunan Nabi.

Banser-banser termangu. Dan segera saja mereka terbelah menjadi dua kubu: banser disiplin tetap tak mau memberi jalan jip itu masuk, sedangkan banser lugu takut kuwalat dan dengan ta’dhim hendak menyingkirkan palang dari jalan. Sejurus terjadi percekcokan di antara mereka. Hanya karena banser lugu lebih ngotot, jip itu pun lolos hingga ke depan kediaman Mbah Ali Maksum.

Si Arab turun dari mobil, dan spontan sejumlah orang berebut mencium tangannya. Setelah rebutan sungkem mereda, Si Arab bukannya mencari tuan rumah atau siapa pun tokoh NU yang mungkin sesuai dengan keperluannya. Dia malah langsung berpidato di tengah jalan sambil mengacung-ngacungkan tongkat dan dengan suara terus meninggi tapi tak seorang pun mampu memahami maksudnya.

Banser pun segera sadar bahwa orang itu bukanlah tokoh keramat melainkan tak lebih dari orang tidak genap. Mereka berusaha memintanya berhenti pidato dengan cara sesopan mungkin–masih dengan berjaga-jaga siapa tahu orang itu keramat betulan–tapi malah membuatnya mengamuk tidak keruan dan baru berhasil diatasi dengan bantuan personil polisi dan tentara, yang lantas menyingkirkannya dengan paksa.

Keributan usai, tinggal banser ketawa-ketawa. Kubu banser lugu pun tak kalah ngakak ketawanya walaupun kubu banser disiplin meledek mereka habis-habisan.

Itu tandanya mereka semua masih sama-sama berakal. Kubu banser lugu tidak terus ngotot mengeramatkan si arab tidak genap tadi, karena mereka genap. Pasti kejadiannya berbeda seandainya banser-banser itu sama tidak genapnya.

5 thoughts on “Banser Lugu vs Banser Disiplin”

  1. Adi w says:

    Bravo Banser lugu yg berakhlak…walau mereka tak digaji.

  2. Suherman says:

    Ha…ha…ha…kadang kita perlu watak keduanya. Bravo Banser…..

  3. M Taufik says:

    Banser heheheh selalu ada yang lucu

  4. Muhammad Rifky says:

    Wkwkwk keliatan amat bung benci arabnya dari dulu, wajar aja mau terima undangan jewish wkwkwk

  5. Hamba Allah says:

    Hahahaha…
    Itu foto ilustrasinya Ustadz Syafiq…
    Maksudnya apa yah… ????
    Masa kiyai ustadz pengasuh pondok pesantren melakukan fitnah…??
    Bisa dijelaskan kenapa… ??
    (Tabayyun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *