Kaffarot Goblok

Sudah banyak bertebaran di media sosial penjelasan dari orang-orang ‘alim bahwa mufti memberi fatwa hanya jika diminta, dan fatwanya wajib diikuti hanya oleh yang minta. Adapun pendapat yang diumumkan itu namanya “pernyataan publik”. Baik fatwa maupun pernyataan publik tidak dapat serta-merta diberi status “ketetapan hukum” –yang dalam bahwa fiqih disebut qadla atau (bentuk jamaknya:) qadlaya— sebagai hasil keputusan hakim.

Pengertian tersebut di atas berkelindan dengan adanya kewajiban bagi setiap Muslim untuk mempelajari sendi-sendi agamanya, minimal sampai batas cukup untuk menjalani hidupnya sehari-hari. Kalau ketanggor hal yang ia tak tahu, baru nanya mufti. Maka jadi tidak lazim jika, umpamanya, ada orang minta fatwa tentang apakah kentut itu membatalkan wudlu atau tidak.

Asy-Sya’bi masih duduk-duduk di masjid usai shalat ‘Ied, ketika seseorang mendatanginya minta fatwa,

“Saya tadi keburu shalat ‘Ied sebelum sempat belanja permen dan suguhan-suguhan lebaran untuk keluarga dan tamu-tamu. Apa kaffarotnya?” (“Kaffarot” itu artinya denda)

“Sedekah dua dirham!” jawab Asy-Sya’bi.

Orang itu pun berlalu setelah mengucapkan terima kasih, dan segera menunaikan fatwa yang didapatkannya.

Beberapa murid Asy-Sya’bi yang menyaksikan semua itu lantas protes,

“Masak ada kaffarot macam begitu? Apa dasarnya?”

Asy-Sya’bi kalem saja,

“Nggak ada jeleknya fakir-miskin menikmati barang dua dirham duitnya orang goblok”

7 thoughts on “Kaffarot Goblok”

  1. hud@nur says:

    Sueeee… (kata orang mbekasi)
    Hehe…

  2. angin says:

    web site sesat….sombong….angkuh….mempertontonkan kebodohan dan keagungan muslim..padahal dia mengaku muslim….seperti centeng kompeni jaman dahulu, membela belanda mati-matian untuk menindas pribumi sendiri, …semoga Allah SWT bisa memberikan pembalasan setimpal bagi anda semua. Aamiin.

    1. Zhang says:

      Ojo gampang2 ngelaknat, ga cocok yo wes ora usah di eleng2.
      Kok repot uripmu

    2. khoirul says:

      @angin serius amat omm…laknatnya kayak film mahabarata aja.

    3. Har says:

      @angin, Sy makin yakin, sudut pandang, bener-bener Hal yg berharga, Sy membaca cerita, munculnya ‘ngerti’ maksud tokoh cerita. Tapi jd heran ketika ada orang mengartikannya dengan persepsi yang Sy sendiri sampai bingung. Sy kadang berpikir – Sy yang bodoh atau @angin?. Satu-satunya yg membuat Sy tenang, kalupun Sy yg bodoh, setidaknya membaca cerita2 terong gosong, hati jd “adem” dan muncul inspirasi.
      Selalu Ada yang berbeda Jalan, karena tidak semua orang sama dalam memandang, makanya bener2 iman Sy pada alquran, salah satunya karena tulisan “Lakum dinukum waliyadin” ada di sana.

  3. Agus salim,s.ik says:

    Angin modele ceng duwe laknat biasae uripe sumpek thok iku g tau ngopi paleng

  4. ataeh.blogspot.com says:

    hahahahaha
    Pancen wong alim iku angel dikalahno

    Mantab nasehatnya….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *