Kyai Brahmana

tasbih-kyai-brahmanaMengapa struktur kepemimpinan NU harus dibagi, ada Syuriah ada Tanfidziyah? Karena NU adalah organisasinya kyai-kyai. Harus dipimpin kyai-kyai. Masalahnya, maqom kyai dalam tradisi NU adalah maqam “brahmana”. Orang yang mengambil jarak dari urusan duniawi. Sedangkan organisasi mau tak mau harus bergulat dengan “dinamika duniawi”.

Maka para kyai dalam kepemimpinannya itu harus dilindungi dari tungkus-lumus duniawi. Menentukan, tapi tak harus “mengotori” maqomnya. Disitulah wilayah Syuriah. “Ranah suci” para kyai. “Sanctuary”. “Manajemen duniawi” yang meniscayakan cipratan lumpur, diserahkan kepada Tanfidziah.

Implikasi lainnya adalah bahwa didalam Syuriah itu musyawarah harusnya tidak hanya berdasarkan “ilmu”, tapi juga “ngelmu”, hikmah. Karena maqam brahmana para kyai diharapkan pula memancarkan kewaskitaan ruhani.

Apakah “kesucian syuriah” dengan demikian menghalangi sama-sekali keterlibatan kyai dalam pertarungan duniawi? Jika muncul ancaman yang menuntut ikhtiar politik dan laga kekuatan, apakah kyai harus pasrah dan menyingkir?

Menjelang Muktamar ke-27, 1984, suasana kontroversial merebak di lingkungan Nahdlatul Ulama, karena para dedengkot politik NU belum cukup rela melepas jam’iyyah ini kembali ke khittahnya. Dalam sebuah rapat Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah, tiba-tiba muncul desakan untuk menunda Konferensi Wilayah yang sudah dijadwalkan. Adalah para politisi yang punya agenda itu, karena mereka khawatir jika dalam Konferwil itu akan terjadi pergantian pengurus sehingga utusan yang dikirim ke Muktamar nanti bukan dari kalangan mereka. Mereka mendesak sedemikian keras sehingga para kyai di jajaran Syuriah menjadi risih dan cenderung diam.

Kecuali Gus Mus.

Beliau pada waktu itu menjabat Katib Syuriah dan telah ditunjuk untuk menjadi Ketua Panitia Pengarah Konferwil. Setelah mengajukan argumentasi yang tandas, Gus Mus menancapkan ultimatum,

“Kalau mau menunda Koferwil silahkan saja. Tapi saya berhenti dari pengurus!”

Semua yang hadir terkejut. Tapi raut muka para kyai justru kelihatan bersemangat. Dan bahasa tubuh mereka mengisyaratkan siap pergi bersama Gus Mus! Rapat pun akhirnya tak berani membuat keputusan selain meneruskan rencana penyelenggaraan Konferwil seperti semula.

Sepanjang prosesi Konferwil itu Gus Mus laksana Lone Ranger mengerahkan dayanya habis-habisan untuk memastikan segala seseuatu berjalan sebagaimana mestinya. Beliau bahkan ngotot minta menjadi Pembawa Acara — yang seharusnya sudah bukan maqom Katib Syuriah — dalam Upacara Pembukaan untuk memastikan agar yang memberi pidato sambutan atas nama PBNU adalah Rais ‘Aam, Kyai Ali Ma’shum, karena Gus Mus mencium gejala sabotase.

Matori Abdul Djalil (almarhum), salah seorang Wakil Ketua Tanfidziyah dan jagoan kelompok politisi yang sudah diplot untuk menjalankan peran “destroyer” dalam skenario mereka, oleh Gus Mus “dikempit” habis tanpa bisa lepas sama sekali.

“Kamu jangan jauh-jauh dari saya”, kata Gus Mus, “supaya kamu terlihat dekat dengan kyai. Jangan sampai kamu ikut dianggap memusuhi kyai”. Matori tak punya kata-kata untuk membantah ataupun mengelak.

Usai Konferwil yang sukses, Matori menghampiri Gus Mus dan berujar sambil garuk-garuk kepala,

“Saya salah sangka…. Saya pikir panjenengan itu nggak ngerti politik…”

2 thoughts on “Kyai Brahmana”

  1. Kang Juli says:

    ceritakan lebih banyak tentang NU yi, biar tambah cinta sama poro kiai,, syukron,,,

  2. udin naja says:

    Simbang Kakung memang Kyai yang komprehensif….mugi tetep diparingi sehat…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *