Peradaban Ikhlas

Laskar Hizbullah

Laskar Hizbullah

Mbah Kaelani kini 94 tahun, tinggal di Desa Landoh, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang. Pada 1944, ia mondok di Sarang, mengaji kepada Mbah Kyai Ahmad Syu’aib dan Mbah Kyai Zubair Dahlan.

“Itu jaman nggak ada sarung, nggak ada kitab, nggak ada buku”, Mbah Kaelani mengenang, “Aku mencatat ngaji tajwidku pada bekas-bekas bungkus rokok yang kupunguti dari sembarang tempat”.

Belum dua tahun dia mondok, pecah konflik melawan Sekutu di Surabaya. Kyai Bisri mengajaknya bergabung dengan Laskar Hizbullah. Tapi setelah Sekutu mundur dan Pemerintah RI mengkonsolidasikan laskar-laskar untuk membentuk TRI (Tentara Republik Indonesia), Kyai Bisri menyuruhnya berhenti.

“Kalau kamu ikut TRI, kamu menjadi pegawai Pemerintah, digaji Pemerintah. Ikut Laskar Hizbullah kemarin itu ‘kan kamu jadi pegawainya Gusti Allah”, begitu kata Kyai Bisri. Mbah Kaelani menurut saja.

Waktu itu Mbah Kaelani baru 25 tahun dan Mbah Bisri hanya 4 tahun lebih tua darinya. Jadi ini bukan kisah sufi-sufi tua yang sudah merdeka dari segala perhiasan dunia. Ini tentang anak-anak muda yang dipenuhi gairah hidup. Dan alangkah bergairahnya mereka kepada Tuhan. Apakah mereka itu orang-orang khowash? Tidak. Mereka hanya dua batang jiwa di antara lautan santri-santri Nahdlatul Ulama dengan gairah dan cara berpikir yang sama.

Apakah itu sekedar trend? Terbawa suasana perjuangan melawan Penjajah?

“Jaman sekarang ini, pondok ABC lebih laku daripada pondok Alif-Ba-Ta”, kata Mbah Maimun Zubair. Pondok ABC maksudnya yang punya sekolah-sekolah formal dengan kurikulum Pemerintah, sedang pondok Alif-Ba-Ta yang masih memakai kurikulum ngaji saja.

Belakangan Mbah Maimun menyatakan keheranannya saat mendengar bahwa saya tidak mau membuka pondok ABC dan terima hanya menjalankan pondok Alif-Ba-Ta saja.

“Dia itu pantesnya ada bau-bau liberal gitu, kok malah nggak doyan ABC?” begitu beliau mengomentari saya.

Maka saya membuat penjelasan.

“Saya tidak mampu mencarikan gaji buat guru-guru matematika, IPA, dan sebagainya”, kata saya.

Kalau mengajar Alfiyah, Fat-hal Mu’in, dan kitab-kitab klasik lainnya, banyak alumni yang mau melakoninya tanpa gaji. Saat ini ada banyak alumni, bahkan yang tinggal di kota-kota lain yang agak jauh, masih mau mengajar di madrasah pesantren kami. Mereka rata-rata harus menghabiskan antara 10-15 ribu rupiah untuk transport setiap kali datang mengajar. Jangankan gaji, uang transport mereka saja tidak diganti!

Ikhlas adalah peradaban yang masih kita nikmati hingga kini. Semoga kita tidak merusaknya.

2 thoughts on “Peradaban Ikhlas”

  1. Haryono says:

    Matur nuwun artikelnya Gus. Inspirasinya sangat bermanfaat.

  2. azro says:

    Aamiin…!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *