Hak

sungkem-lebaran Perintah yang bersifat umum itu berlaku umum kecuali ada dalil yang mentakhshishnya (menetapkan pengkhususan tertentu). Misalnya: perintah memuliakan tetangga berlaku umum tanpa membeda-bedakan tetangga yang mukmin dan bukan mukmin. Begitu pula perintah silaturrahmi.

Kyai Bisri Mustofa punya seorang paman — dari hubungan famili yang agak jauh — di Purworejo. Pada tahun 1970-an, Kyai Bisri menjadi salah satu Wakil Rais Syuriyah Partai NU Jawa Tengah. Sebagai bagian dari jajaran pimpinan NU, Kyai Bisri meniati kiprahnya sebagai jihad fi sabilillah. Sedangkan tantangan utama jihadnya — pada waktu itu — adalah Golkar.

“Alhamdulillah. Untung ada Golkar!”, katanya, “karena ada Golkar itulah kita jadi punya alasan dan kesempatan untuk ber-jihad fi sabilillah“.

Tapi pamannya itu justru masuk Golkar. Dalam suasana lebaran, Kyai Bisri bertandang ke Purworejo menjenguknya. Si Paman malah kaget,

“Lho! Nggak salah ini, Sri?”

“Salah apanya, Lik?”

“Aku ‘kan bukan golonganmu!”

“Lha sampeyan itu paklik saya je!”

Si Paman meringis,

“Iya ya…”

“Namanya berbeda itu bawaannya orang. Cingkir pecah nggo nggawe kopi, tiyang kathah rupi-rupi“, Kyai Bisri berpantun, cangkir pecah untuk membuat kopi, orang banyak berwarna-warni, “Saudara tetap saudara!”

Perintah untuk mengerjakan sesuatu dengan menunjuk suatu pihak sebagai obyeknya, berarti pula menetapkan hak bagi si obyek atas manfaat dari laku yang diperintahkan itu. Maka, perintah menyambung persaudaraan berarti juga penetapan hak bagi saudara untuk “disambungi”. Yang namanya hak, dalam kerangka syari’at, adalah “hak adam” yang bisa ditagih kapan saja hingga ke yaumil hisab nanti.

Demikianlah jalan pikiran Nyai Hafidhoh Suyuthi, Tasik Agung. Beliau beriparan dengan Kyai Bisri. Suami beliau, Kyai Suyuthi Kholil adalah kakak kandung dari Nyai Ma’rufah Bisri, isteri Kyai Bisri. Saya bernenek kepada beliau.

Kini beliau sudah teramat sepuh. Sudah berat bagi beliau untuk bangkit dari tempat duduk, apalagi pergi-pergi dari rumah. Bahwa kami jadi agak jarang bertemu, jelas disebabkan cucunya ini miskin adab. Tapi ketika kami sekeluarga sowan beliau di hari lebaran, justru beliau yang merengek-rengek minta ampun,

“Maafkan Embah ya, Nak. Embah nggak pernah menengokmu… Halalkan ya, Nak…”

2 thoughts on “Hak”

  1. Toni Pangcu says:

    Mas, adab atau sopan-santun seperti ini, sekarang sudah amat langka
    Matur nuwun catatannya. Sangat menginspirasi

  2. muhammad soim says:

    matursuwon yai.. angsang gbung teng TERONG GOSONGe panjenengan, mugi pikantok berkahipon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *