Pangkat NU

KH. Ahmad Umar Abdul Mannan

KH. Ahmad Umar Abdul Mannan

NU seolah terbelah gara-gara para pemimpin dan tokoh-tokohnya berbeda pilihan. Ada yang dukung sana ada yang dukung sono. Lantas mengajak-ngajak warga untuk mengikuti pilihan mereka hingga nyaris berebut.

Banyak orang melihat keadaan ini sebagai bencana dan merasa nelangsa karena mengira kiamat segera tiba. Sebenarnya sih tidak harus banget-banget begitu. Toh NU sudah pernah mengalami yang lebih berat dari ini. Sekarang ini yang diributkan adalah pilihan pemimpin DI LUAR NU. Dulu, “perpecahan” dipicu kontroversi pilihan PEMIMPIN NU sendiri. Yang terlibat pertentangan pun jauh lebih dhugdheng daripada sekarang.

Awal 1980-an, kemelut melanda NU berujung “pembelahan kepemimpinan” antara apa yang disebut “kubu Situbondo” dan “kubu Cipete”. Yang satu didepani Kyai As’ ad Syamsul Arifin dan Kyai Ali Ma’shum, di seberangnya adalah Kyai Idham Chalid dan Kyai Anwar Musaddad. Kebingungan warga jauh lebih hebat dibanding hari ini.

Dian Nafi’, seorang santri yang sedang menyala-nyala rasa ke-NU-annya, mencurahkan kegalauan kepada Kyai Umar Abdul Mannan, Mangkuyudan, paman sekaligus orang tua angkatnya,

“Bagaimana ini, Pakdhe? Apa yang sedang terjadi? Bagaimana kita harus bersikap?”

Laksana permukaan samudera tak berangin, Kyai Umar tak sedikit pun terusik ketenangannya, seolah yang ditanyakan tidak penting sama sekali.

“Orang itu pangkatnya lain-lain, Nak”, suara beliau meluncur ringan, spontan dan alami, seperti suling yang niscaya keluar bunyi kalau ditiup, “ada yang pangkatnya memikirkan NU, ada yang pangkatnya mengurusi NU…”, Kyai Umar membuat jeda dengan helaan napas, tapi tidak menyiratkan beban. Hanya mengumpulkan perhatian, “Lha kita ini baru sampai pangkat MENGAMALKAN NU. Ya sudah… bagian kita ini saja kita laksanakan. Mengajar santri, ngopeni orang kampung….Jangan sampai terlalu banyak orang memikirkan dan ngurusi NU tapi langka yang mengamalkannya…”

3 thoughts on “Pangkat NU”

  1. Yoga says:

    Alhamdulillah,,
    Mksh bnyak jwbnnya pak kyai ^_^

  2. laili says:

    Terimakis jawabannya Yai.
    Mudah2an tetap istiqomah mengamalkan amalan NU

  3. dhimas says:

    Sangat bagus. Rendah hati, mengena dan inspiratif. Terima kasih, Gus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *