Anak

ayam-tirakatWahai, anak-anaknya orang awam, kalian tahu ngajiku kocar-kacir, sekolahku kocar-kacir, kehidupan masa mudaku pun kocar-kacir. Tapi janganlah kalian iri kepadaku kalau sekarang orang-orang bodoh menyebutku kyai dan aku pun laku diundang ceramah kesana-kemari dan jadi narasumber diskusi-diskusi ilmiah di sana-sini seolah-olah aku ini orang pandai.

Mbah Kyai Muromi, seorang kerabat ibuku dari Salatiga sana, mendatangiku suatu hari. Di ruang tamu tempat aku biasa menerima tamu-tamu pencari keramat, Mbah Muromi memandangiku lekat-lekat dari ujung kepala ke ujung kaki: kopiyah putih harga 25 real asli dari Mekah, baju takwa merek terbaik hadiah lebaran dari seorang saudagar, sarung pelekat yang pabriknya di Sulawesi hadiah lebaran dari seorang politisi. Tak terlalu kentara sudut-sudut bibir Mbah Muromi bergerak ke samping sedikit. Aku menandainya tapi tak tahu artinya. Apakah senyum atau menjep? Sorot matanya saja yang membuatku mengkeret. Jenaka tapi galak dan terus-terang. Aku baru merasa agak tenang ketika sorot mata itu mendadak berubah teduh.

“Kamu ini…”, beliau berkata, diselai helaan napas yang dalam, “seandainya pendahulu-pendahulumu bukan ahli tirakat… entah jadi apa kamu…?”

Aku terhenyak seolah tenggelam kedalam busa kursiku.

Entah kemana perginya kenakalan Gus Qayyum sewaktu kecil dulu. Alih-alih, kini Kyai Abdul Qayyum Manshur menampakkan keluasan dan kematangan ilmu di usia yang relatif muda. Solah-bawanya pun halus bukan buatan.

“Aku menirakatinya 12 tahun”, kata Mbah Manshur, ayahnya.

Gopar penjual gorengan di dekat Pondok Krapyak. Almarhum ayahnya dulu imam langgar di kampungnya, di Pekalongan sana. Saat lahir anak pertamanya, Gopar melapor kepada Kyai Kholil Bisri Rembang.

“Laki-laki, Mbah”, katanya.

“Alhamdulillah”, Kyai Kholil menanggapi ala kadarnya, lalu minta dipijit seperti biasa.

“Bapakmu dulu suka tirakat juga ya, Par?” Kyai Kholil bertanya disela menikmati pijitan Gopar.

“Alhamdulillah, setahu saya memang begitu, Mbah”.

“Puasa?”

“Iya. Sering, Mbah. Cuma tidak nDawud atau ndalail“.

Kyai Kholil diam sejurus, seolah merenung.

“Lha iya, Par…”, beliau bergumam, “bapakmu sudah tirakat saja hasilnya cuma anak macam kamu. Kalau kamu tidak tirakat, anakmu jadi apa?”

Sejak saat itu, Gopar tak berhenti puasa nDawud sampai sekarang, lebih lima belas tahun kemudian.

3 thoughts on “Anak”

  1. Nuryadi Wulantoro says:

    Wuah, jadi anda orang kocar-kacir beneran ya ? Kok bisa jadi Khatib Syuriah PBNU dan pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin ? Malah pernah jadi jubir seorang presiden lagi. Allah benar-benar semena-mena. Saya meri banget sama sampeyan. Ora terima aku. Saya mau ambil alih PBNU ! Sayang sekali saya tidak bisa mendengarkan tauziah anda di Ponpes Al Kahfi Somalangu, Sumberadi, Kebumen hari ini, 22 Juni 2014

  2. Jazim Hamidi says:

    Jadi juru bicara presiden???jan gayeng tenan

  3. Must Abi says:

    Mak jleb dening qolbu gus.. Maturnuwun tulisanipun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *