Jenis-jenis Partai

Pemilu 1955

Pemilu 1955

Sesudah Proklamasi Kemerdekaan, Bung Hatta selaku Wakil Presiden mengeluarkan Maklumat X, berisi seruan kepada rakyat untuk membentuk partai-partai sebagai saluran aspirasi politik dalam Negara milik rakyat ini. Pemilu yang pertama dan satu-satunya yang sungguh-sungguh bebas, jujur dan bersih, pemilu tahun 1955, diikuti oleh 172 kontestan.

Maka Reformasi tahun 1998 berdampak laksana Maklumat XX. Walaupun jauh lebih sedikit dari 1955, jumlah kontestan pemilu 1999 terhitung cukup kolosal: 48 kontestan. Intinya: orang berlomba-lomba membentuk parpol baru. Sebagian besar dengan mendaur ulang simbol-simbol lama, karena simbol-simbol itu dipercaya masih punya kekuatan untuk menarik dukungan rakyat.

Kini walaupun jumlahnya lebih sedikit, dasar pembentukan partai jauh lebih arbitrer (ngawur) atau superfisial (dibuat-buat). Gagasan politik yang menggugah hati nyaris tak penting lagi. Asal ada uang, partai bisa jalan. Kalau kau punya amat banyak uang berlebih, hal pertama yang menggoda hatimu adalah membentuk partai. Apalagi kalau kau punya perusahaan media massa milikmu sendiri. Semakin kuat kesan bahwa partai bukan lagi milik publik tapi milik pribadi atau keluarga.

Mbah Aman, Kyai Amanullah Abdurrohim rahimahullah, Tambak Beras, punya impresi unik tentang fenomena maraknya pembentukan partai-parati di era reformasi ini.

“Partai sekarang banyak, macam-macam jenisnya”, kata beliau waktu itu, di tahun 1999, “ada partai yang didirikan melalui musyawarah orang banyak, kampanyenya juga diikuti orang banyak, nanti waktu pemilu yang nyoblos juga banyak. Tapi ada juga partai yang pendirinya satu orang bersama anak dan isterinya. Waktu kampanye yang datang juga dia, isterinya, anaknya. Nanti yang nyoblos pun dia, isterinya, anaknya…”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *