Dibentak

Kyai Muslim Rifa'I Imampuro (Mbah Lim)

Kyai Muslim Rifa’I Imampuro (Mbah Lim)

Menjelang Muktamar NU ke-28, 1989, Mbah Lim (Kyai Muslim Riva’i Imampuro) rahimahullah mementingkan berkeliling Nusantara untuk berziarah kepada para wali, baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup, untuk bertawassul dan beristighotsah, merengek kepada mereka agar memohonkan kepada Allah perlindungan dan pertolongan bagi Bangsa Indonesia dan Nahdlatul Ulama.

Begitu masuk Kudus, Mbah Lim langsung menghadiahkan Fatihah kepada Syaikh Ja’far Shodiq, Sang Sunan. Terus-menerus ia menjaga sikap ta’dhim, lebih-lebih ketika mulai mendekati pesarean.

Tepat saat kakinya melangkahi pintu makam, Mbah Lim mendadak terperanjat hingga jatuh terduduk. Wajahnya pucat-pasi, kelihatan ketakutan sekali! Lalu sambil merunduk-runduk berjalan mundur menjauh, tidak jadi sowan Kanjeng Sunan.

Santri pendhereknya pun terheran-heran,

“Ada apa, Mbah?”

Mbah Lim masih gemetaran,

“Aku dimarahi…”

Dan ia pun bercerita, betapa saat melangkahi pintu tadi, tiba-tiba sebuah suara membentaknya keras sekali,

“Ngapain kesini?!! Kau kira aku nggak ikut mikir dari kemaren-kemaren?!!!”

_______
Catatan tentang sumber cerita:

Dari Kudus itu Mbah Lim langsung menuju Rembang dan di rumah Gus Mus bertemu dengan Gus Dur yang datang dari arah lain. Saya mendengar mereka membicarakan pengalaman Mbah Lim ini.

11 thoughts on “Dibentak”

  1. ashari says:

    hum amanul ardhi, faddhakiri

  2. lautankata says:

    mintalah pada yang maha kuasa. bukannya malah meminta kepada manusia. sudah mati pula.

    1. sugeng says:

      Salam,Tidak mungkin Mbah lim meminta secara langsung,Orang Alim tidak meninggal,mbahlim hanya minta di Do’akan oleh mbah sunan,Kalao mbah lim tidak bisa bicara dengan mbah sunan,kenapa beliao tau kalao dimarahi,pelajaran yang di ambil,Walaopun orang Alim sudah meninggal didalam kubur tetep memikirkan Ummat,Sepuntene menawi wonten lepat ipon kaulo,Barokalloh Wassalam.(Sugeng al jahil)

    2. pemuda NU says:

      monggo, panjenengan lebih banyak baca dan berguru. Belajar agama tanpa guru kata kanjeng nabi berarti gurunya syaiton. Kalo kalimat ini tidak cocok, ya sudah kembali ke kumpulan sampean aja, kalo perlu kembali ke arab. jangan ganggu islam indonesia. maturnuwun..

    3. Ahmad says:

      Kalo sakit ndak usah Ke dokter. Ngapain minta bantuan manusia. Musyriiikk….

  3. Agus Mulyadi says:

    Bodong bodong bodong

  4. imron says:

    lautankata jauh dg lautanrasa krn kata tidak bisa mewakili rasa..monggo dimaklum

  5. KANG JULI says:

    kok yo sek enek islam kata2 mlebu rene, lautankata kan brrt kakean omong,

  6. mbah napex says:

    “Jangan kalian mengira
    orang-orang yang gugur di jalan
    Allah itu mati, bahkan mereka
    hidup di sisi Allah Swt
    mendapatkan rezeki.”

  7. gadankaji says:

    nek kiro-kiro luwe ngalim mbah Lim opo lautankata….???,
    wahabong detected sing seneng ngafir2ke..!

  8. aws says:

    Tak kenal mk tak sayang… Mbah Lim adalah kyai nasionalis… Semua buah pikirannya untuk kesatuan dan perdamaian Indonesia semata. Yg g suka perdamaian, ke laut aja…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *