Qurban Profesional

kambing-qurbanProfesional adalah sikap-laku (attitude) berdisiplin menjalankan pekerjaan atau tugas sebagaimana mestinya tanpa memberi ruang kompromi pada hal-hal yang dapat merusak tujuan.

Pada Muktamar I PKB tahun 2000 di Surabaya, saya dibebani tanggung jawab bidang kesekretariatan, termasuk –diantara yang terberat– memastikan bahwa setiap orang yang memasuki arena muktamar benar-benar secara administratif memenuhi syarat. Maka kepada tim yang saya bentuk untuk memeriksa persyaratan saya tanamkan betul keharusan bersikap profesional dan saklek. Tak boleh memberi atribut apa pun kepada yang tidak berhak. Zonder tawar-menawar!

Salah seorang anggota tim itu adalah Sapek –sisi lain dari anak ini telah saya kisahkan disini: http://teronggosong.com/2011/03/sopir-kampungan-jalur-lambat/. Dan dia menjalankan tugasnya dengan baik sekali, dibuktikan dengan caranya menghadapi rombongan dari Rembang, daerah asalnya sendiri. Diantara rombongan DPC Rembang itu adalah Kyai Makin Shoimuri, paman saya yang juga kyainya Sapek. Hampir semua yang diketahui Sapek tentang agama didapatkannya dari Kyai Makin ini. Dalam alam pesantren, Kyai Makin adalah tuan, dan Sapek budaknya.

Masalah timbul karena dua orang peserta rombongan Rembang itu membawa isteri-isteri mereka. Memang ada famili di Surabaya untuk numpang menginap selama Muktamar. Tapi perempuan-perempuan itu kepingin juga bisa ikut keluar-masuk arena Muktamar untuk membawakan penganan-penganan atau tetek-bengek lainnya bagi suami-suami mereka. Merasa punya akses, Kyai Makin bertindak membantu. Ia datangi Sapek dan minta dua kartu ID ekstra. Tak dinyana, Sapek menggeleng,

“Tidak bisa, Pak”.

“Cuma buat keluar-masuk arena saja kok. Mereka tidak akan masuk ruang sidang”.

Sapek tetap menggeleng,

“Sama saja, Pak. Tidak bisa”.

“Masak kamu nggak percaya aku?”

“Percaya, Pak. Tapi aturan…”

“Jangan kaku-kaku! Ini aku yang minta! Nanti aku bilang sendiri ke Yahya!”

Sapek teguh menggeleng. Dan itu terasa menjengkelkan sekali hingga Kyai Makin naik darah.

“Aku ini siapa?!!!” Ia membentak galak.

Sapek pucat-pasi. Kuwalat terbayang-bayang didepan mata. Perasaannya tak karuan. Tak kuasa mengeluarkan bunyi. Hanya kepalanya yang terus menggeleng, hampir-hampir bergetar…

Kyai Makin pun balik-badan, berungut-sungut dan menggerutu panjang-pendek, tetap dengan tangan hampa.

“Semangat Idul Qurban itu sangat relevan dengan poisisi kaum profesional”, kata Gus Dur, “karena kaum profesional dituntut untuk senantiasa siap berkorban. Walaupun tidak berkorban kambing atau sapi, minimal KORBAN PERASAAN!”

One thought on “Qurban Profesional”

  1. Arifudin says:

    Idul Adha sudah dekat semakin hari harga kambing kurban pasti semakin melambung tinggi saat mendekati hari H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *