Kumpul-kumpul

kumpul-kumpul

Tradisi Islam Nusantara ini penuh dengan kumpul-kumpul. Hamil tujuh bulan, kumpul, selametan. “Mitoni”, kata orang Jawa. Sholawatan. Bayi lahir selapan (35) hari, kumpul-kumpul lagi. Sholawatan lagi. Ada yang mati, kumpul, tahlilan. Tiga harinya, kumpul lagi. Tujuh hari, lagi. Empat puluh hari, setahun, setiap tahun, seribu hari, dan seterusnya. Belum lagi tiap malam Jumat. Ya Yasinan, ya tahlilan, ya sholawatan….

“Yadu ‘lLaahi ma’a ‘ljamaa’ah”, demikian sabda Kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Pertolongan Allah itu menyertai perkumpulan. Sedangkan serigala itu hanya berani menerkam domba yang menjauh dari rombongannya.

Agaknya, ini yang menginspirasi tumbuhnya tradisi kumpal-kumpul itu.

Kenapa bukan jama’ah sholat sekalian? Karena sholat itu “berat” — “Wa innahaa lakabiirotun illaa ‘ala ‘lkhoosyi’iin”. Dan belum semua orang bisa sholat. Kalau cuma selametan, semua orang bisa serta. Walaupun mulut nggak ikut bunyi, asal ikut duduk saja tak bakal ada yang mengusili.

Maka, di antara hikmah tradisi ini adalah penguatan kohesi sosial yang menyertakan semua warga tanpa kecuali. Tetangga sebelah kami — berbagi pagar dengan rumah mendiang kakek saya — adalah keluarga pemuka Nasrani. Setiap kami punya hajat selametan, tetangga kami itu tak pernah absen ikut hadir, lengkap dengan peci. Ketika isterinya meninggal, ia pun mengadakan selamatan tiga hari, walaupun (tentu saja) tanpa bacaan tahlil.

Penguatan kohesi sosial itu pada gilirannya memupuk rasa tanggung jawab setiap warga atas kepentingan sesamanya dan kepentingan bersama. Karena semua menjadi saudara, tak perduli segala perbedaan yang ada. Tak ada saudara mengkhianati saudara, kecuali sudah kebangetan bajingnya. Saudara juga tak akan membiarkan saudaranya terjerumus dalam celaka tanpa upaya mencegahnya. Kalaupun terlanjur nyungsep, pasti ikut bela sungkawa.

Gus Mus itu sebenarnya agak kurang mbeling sedikit dibanding kakaknya, Gus Kholil. Ketika Sang Kakak mbolos suatu hari, Gus Mus tak mau ikut, sebenarnya. Tapi Mbah Ali Ma’shum, guru mereka, tetap saja menyertakan Gus Mus dalam ta’ziran. Mereka berdua harus menyapu halaman Pondok Krapyak seluas itu hingga bersih sebersih-bersihnya.

“Kamu saudaranya”, kata Mbah Ali, “kalau kakakmu salah, kamu juga ikut salah karena tidak mencegahnya”.

Koruptor dan teroris itu biasanya tidak pernah atau jarang sekali ikut kumpul-kumpul dengan warga masyarakat lainnya. Tak heran orang macam itu tega mengkhianati bangsa dan sesamanya. Dan semua orang pun ringan hati saja mencaci-maki mereka. Wong ya nggak pernah bersama-sama kita.

4 thoughts on “Kumpul-kumpul”

  1. Anas Sa'dullah says:

    Karena semua menjadi saudara, tak perduli segala perbedaan yang ada. Tak ada saudara mengkhianati saudara, kecuali sudah kebangetan bajingnya. Saudara juga tak akan membiarkan saudaranya terjerumus dalam celaka tanpa upaya mencegahnya. Kalaupun terlanjur nyungsep, pasti ikut bela sungkawa. (Terharu Gus)

  2. Yusran Fadil says:

    Tradisi ini mulai ada yg mengusik, Gus. Pihak yg mengusik biasanya mendatangi org2 awam yg gak paham dalil dan argumen tradisi ini, shg pihak yg mengusik dg mudah mengeluarkan dalil mereka yg intinya tradisi spt ini sunnah, lakukan yg wajib saja. Yg lbh parah lg, mereka melarangnya, dikatakan bid’ah. Gimana Gus menghadapi spt ini? Kalau jenengan yg menghadapi mudah, krn jenengan tau dasarnya. Tp kebanyakan yg mereka “teror” itu org awam tp terbiasa dg tradisi spt ini.

    1. moh.bisri says:

      Pengalaman gini mah sering terjadi..nah kemarin warga jamaah masjid dikampung jg heboh krn ada ustadz yg nantang seluruh jamaah tentang jumlah rokaat terawih..kebetulan saya tdk hadir saat itu..akhirnya saya bilang gitu aja kok pusing..bilang ja kalau pak ustadz pingin debat..bukan disini kami tak tahu dalilnya.., tpkami percaya sama para kyai kami..kami begini karena ngikut bimbingan dan kebiasaan guru kyai kami..dan kami percayadg beliau beliau…sedangkan anda ini siapa…?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *