Beban Kepala Kampung

Kepala Kampung Jakarta.

Salah seorang Kepala Kampung di sebuah wilayah di Indonesia.

Rasanya amat jarang kita mempersoalkan apakah puasa itu beban atau rahmat. Bagi kita, itu tidak krusial. Kalaupun menjadi beban, toh tidak kita rasa terlalu berat.

Berkaitan dengan Ramadlan, sungguh nikmat agung tersendiri bahwa kita hidup di wilayah tropis. Di sini tidak pernah terlalu panas ataupun terlalu dingin. Siang-malamnya pun seimbang, tak ada siang yang terlalu panjang. Di wilayah sub-tropis seperti bentangan India hingga Afrika Barat, Ramadlan di musim panas merupakan tantangan yang luar biasa. Ketika mukim di Makkah, saya mengalami Ramadlan dengan suhu siang hari mencapai 50 derajat Celcius, jam 3 pagi sudah shubuh, jam setengah tujuh sore baru maghrib. Untung di zaman moderen ini ada AC. Dan engkau boleh bergelung didalam kamar hingga malam hari. Semakin ke utara hingga batas wilayah beriklim dingin, keadaan semakin ekstrim.

Itu sebabnya Ibn Ar Ruumy (221 – 283 H), seorang penyair Baghdad, berpuisi ngenas tentang Ramadlan musim panas:

شهر الصيام مبارك # ما لم يكن في شهر آب
الليل فيه ساعة # و نهاره يوم الحساب
خفت العذاب فصمته # فوقعت في نفس العذاب

“Bulan Puasa itu diberkahi
Selagi tak jatuh di bulan yang panasnya setengah mati
Malamnya cuma sekejap
Lama siangnya bak yaumil hisab
Aku berpuasa karena takut adzab
Saat berpuasa, aku menanggung adzab!”

Suatu hari di bulan Ramadlan, seorang musafir mampir di sebuah kampung dan terheran-heran menyaksikan tak seorang pun penduduknya berpuasa.

“Kepala Kampung amat menyayangi kami dan tidak tega kami sengsara berpuasa di musim panas begini. Maka dia bertekad menanggung sendiri beban puasa semua orang!” seorang warga mejelaskan.

Penasaran, musafir menemui Kepala Kampung. Dan dia jadi tambah bingung mendapati si Kepala Kampung di rumahnya sedang menghadapi makanan yang melimpah-ruah dalam keadaan tak henti-hentinya mengunyah.

“Lho! Katanya sampeyan nanggung puasanya seluruh warga?”

“Lha iya! Karena nanggung puasanya begitu banyak orang, sahurku jadi nggak selesai-selesai!”

19 thoughts on “Beban Kepala Kampung”

  1. moh luqman hakim says:

    Awalnya nyimak serius
    tengahnya hikmah mendalem
    akhirnya senyum
    Syukron

    1. sugeng13064990 says:

      Salam,Jangan su udzon dulu,cerita memang segitu apa ada lanjutanya…!sepuntene sak derenge menawi lepat tulong dileresake,Zaman Riyen wonten setunggale kekasihe pengeran kalao siyang diya tak pernah puasa bila dilihat dhohir,Beliao selalu makan bila siyang hari,Pada suatu hari ada yang memberanikan bertanya,karena sudah terkenal kewaliannya kok tidak puasa,beliao menjawab dengan enteng saya tidak makan kok,lalu yang bertanya tadi disuruh lihat kedalam mulut beliao,tapi apa yang tampak tak seperti yang dibayangkan si penanya,didalamnya terlihat lautan yang luas,Dikalangan orang khos tidak mustahil bisa menanggung kelaparan/kesusahan orang lain,Allohu jalla jallaluhu ,Barokalloh Wassalam.(Al jahil)

  2. gemblungdinulur says:

    Bacaan ringan yg cerdas,
    Htr nuhun,
    :-)

  3. mulyono says:

    kakkeane

  4. Ana says:

    foto profil knapa Jokowi?

  5. PRIANTO says:

    Capek deh… :))

  6. komeng says:

    boleh juga candanya he….

  7. b.priyono says:

    cerdas.. tapi napa musti foto dia Gus,,

    1. Sofian J. Anom says:

      Cuma kebetulan saja, Kang. Dapatnya dari google dengan keyword “kepala kampung” di antara yang bagus foto orang itu. Nggak ada hubungan dengan isi postingan kok. Harap maklum. :D

  8. sri mulyati says:

    Wkwkwkwk. . . .hhddeehhhh

  9. Kang Edi says:

    Itu tentang puasa. Lha ini saya punya cerita tentang imam sholat tarawih. Kalau yang ngebut, yang baca fatihah hanya bermodal satu kali tarik nafas, disebutnya laksana naik bis Akas, yang Patas pula. Tetapi kalau kyai Zailani yang ngimami, dibilangnya seperti naik bis Kenongo yang jalannya pelaaannnnn sekali.

    Monggo, kalau berkenan, silakan baca di: http://www.ediwinarno.blogspot.com/2013/07/kyai-zailani.html

  10. M Nurdin says:

    Waduhh, ueeenak yo, setelah bulan Ramadlan jadi gemuk. Memang pas fotonya Pak Jokowi, jadi bikin penasaran, sekalian ngasih saran ke Pak jokowi, Supaya Banyak makan. Wkwk

  11. muchtar says:

    Asemmm… Belakangnya gokil…. Hehehe

  12. nilta says:

    Awal sih serius, blakangan kktawa gk henti2

  13. yudistira al-Habsy says:

    wkwkwkwk,,,,,,ada2 aja banyolannya.cerdas tapi menghibur,klo gitu ane mau deh jadi kepala desa!!!

  14. KANG JULI says:

    gus gus, njenengan ki lucu gak entek2,

  15. aji says:

    huahahaaha suka suka :v

  16. suwoko says:

    Masya Allah gus, gus. Nek nglucu mbok sedengan mawon. Ben sing maos wetenge ga mlintir2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *