Kaake’anee!

topeng

Namanya Muhammad Abdul Hamid. Seorang sayyid, cucu Kanjeng Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Tapi saya tak punya informasi tentang marganya. Kemungkinan As Saqqaaf. Beliau hidup sezaman dan bertetangga dengan Kyai Kholil Harun di kampung Kasingan, Rembang. Tak banyak yang mengetahui nama aslinya itu, karena orang-orang lebih mengenalnya sebagai “Mat Amit”. Bahkan mereka terbiasa menyebut atau memanggilnya dengan sebutan itu secara “njangkar” tanpa embel-embel “Mbah” –walaupun terhitung sepuh, “Pak”, apalagi “Yik”.

Mat Amit dikenal berangasan. Setiap bertemu orang, selalu yang ia lontarkan adalah:

“Kaaake’aneee…!!!”

Itu adalah kata yang lazim digunakan sebagai makian di Rembang hingga kini. Dari kata “kakek”, makna harfiahnya adalah “kakeknya” atau “sang kakek”. Kata makian itu seolah pengganti salam bagi Mat Amit.

Perawakannya yang tinggi-besar dan lagak-lagu serta gaya bicaranya yang kasar membuatnya semakin tampak menyeramkan. Orang-orang tua bahkan sengaja menjadikannya momok bagi anak-anak yang bandel.

“Tak kandhakno Mat Amit lho!” (Awas! Kulaporkan Mat Amit nanti!) Demikian ibu-ibu biasa menakut-nakuti anaknya.

Pada kurun yang sama di lingkungan yang sama, hiduplah pula Mbah Darmo –aashliii pakai shod, ini tokoh faktual, bukan sekedar nama akun fesbuk!– seorang kusir dokar, sepantaran usianya dengan Mat Amit. Mbah Darmo penggemar setia diba’an (majelis sholawat) setiap malam Jumat di langgar Kyai Kholil Harun. Seumur hidup, tak sekali pun ia absen.

Pada suatu malam Jumat, saat mahallul qiyaam, Mbah Darmo terlihat menangis tersedu-sedu sambil membungkuk-bungkuk nyaris ngelempoh diatas lantai langgar. Orang-orang keheranan, tapi tak terlalu ambil pusing karena memang sudah biasa orang menangis terharu oleh keindahan bait-bait diba’. Usai diba’an itu, Kyai Kholil mengundang Mbah Darmo ke kamar pribadinya.

“Sampeyan kok gero-gero tadi itu kenapa?” Kyai Kholil bertanya. Gero-gero, menangis meraung-raung.

Masih sembab matanya, Mbah Darmo menjawab lirih,

“Lha apa panjenengan tadi nggak lihat juga? ‘Kan Kanjeng Nabi rawuh…”

Suatu sore menjelang jama’ah ‘Ashar, Mbah Darmo sudah nongkrong di serambi langgar, menunggu Kyai Kholil keluar ngimami, sambil menyenandungkan sholawat Badawi Shughro bersama para santri. Mat Amit muncul belakangan. Begitu berhadapan dengan Mbah Darmo, seperti biasa, keluarlah makiannya,

“Kaaake’aneeee…!”

Mbah Darmo meringis.

“Yiiik Yik…”, kata Mbah Darmo, “Sampeyan ini apa mau seumur hidup pakai topeng begitu? Mbok ya dilepas saja!”.

Mat Amit merah-padam seketika,

“Kaaake’aneeee!!!” makiannya lebih keras dari biasanya, “Kamu ini punya mulut diumbar seenaknya!!!”

Sambil begitu ia balik badan dan buru-buru pulang tak jadi ikut jama’ah.

Sejak saat itu, Mat Amit nyaris tak pernah lagi keluar rumah. Anehnya, Mbah Darmo juga ikut-ikutan menyembunyikan diri. Demikian hingga keduanya wafat.

7 thoughts on “Kaake’anee!”

  1. masprie says:

    lahumal faatihah

  2. Abahe Nely says:

    La Ya’rifu Al Wali Illa Al Wali,
    Wa Allahu A’lam bi Showaab

  3. aminur says:

    alfatihah

  4. izzat aliy says:

    Nyuwun izin share nggh gus

  5. wahyu says:

    sepertinya beliau2 ini yg jd inspirasi Gus Mus dlm menulis cerpen (judulnya lupa), di kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi

  6. afida says:

    kisah ini juga pernah ditulis dalam bentuk cerpen sepeertinya geh?

  7. Ahmad Nashih Luthfi says:

    Di bagian akhir dziba’ dan barzanji terjemahan Mbah Misbach Mustofa almarhum, seingat saya disajikan cerita Mbah Darmo ini. Lahumul faatihah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *