Pengantar Buku “The Terong Gosong”

the-terong-gosong

Untuk yang masih penasaran dengan makna “Terong Gosong” dan belum beli bukunya.

Yang namanya buku itu memanglah penakut, tak pernah berani terbit sendiri. Selalu saja harus ada pengantarnya.  Maka apa boleh buat, untuk buku ini pun terpaksa harus disediakan pengantar pula.

Buku ini dimaksudkan sebagai seri pertama dari seri-seri yang akan terbit kemudian. Judulnya: “The Terong Gosong”. Berkaitan dengan judul itu, pengantar ini mengantisipasi timbulnya dua pertanyaan:

  1. Mengapa “Terong Gosong”?
  2. Mengapa pakai “The”?

Buku ini berawal dari sebuah komunitas di laman penggemar  facebook (http://www.facebook.com/TerongGosong) yang dimaksudkan sebagai wahana silaturrahmi bagi para pengguna facebook dari kalangan pesantren. Supaya menyenangkan, yang dicanangkan sebagai kegiatan utama adalah bertukar humor dan pengalaman lucu berkaitan dengan kehidupan pesantren.

Secara asal-asalan, grup itu dinamai “Terong Gosong”. Nyaris tanpa alasan tertentu, apalagi filosofi yang mulia-mulia. Satu-satunya yang bisa disebut sebagi sumber inspirasi bagi nama itu adalah bahwa terong telah menjadi makanan yang paling populer sepanjang sejarah di lingkungan santri-santri pesantren. Biasanya, terong dibakar hingga gosong, untuk kemudian dikupas dan dipecelkan sambal terasi, selanjutnya disebut “sambal terong”, untuk dijadikan lauk makan sehari-hari.

Sebagai kredo atau semboyan, ditambahkanlah kalimat: “Ketawa secara serius, bukan senda-gurau!”.  Kenapa? Karena kalimat itu kedengaran keren, dan lucu dalam cara tidak jelas!

Hingga pengantar ini ditulis, “Terong Gosong” di facebook telah menangguk lebih dari 7.500 penggemar.  Banyak kisah anekdotal telah diunggah untuk dinikmati bersama.  Buku ini berisi sejumlah kisah terpilih yang semuanya berdasarkan peristiwa nyata. Masih banyak lagi yang tersisa, akan diterbitkan dalam seri-seri berikutnya.

Atas inisiatif  Sofian J. Anom (http://www.facebook.com/kang.anom), telah dibuka pula sebuah situs Terong Gosong tersendiri dengan alamat: http://teronggosong.com/, yang diproyeksikan untuk menampung jaringan pertemanan dunia maya dari kalangan santri pesantren. Disamping itu, dibuka pula http://blogsantri.com/  untuk memfasilitasi santri-santri yang punya minat dan semangat untuk menulis dan memelihara blog sendiri. Hidayat Muslim (Cak Dayat: http://www.facebook.com/cakdayat) bahkan membangun fasilitas SMS-broadcast center Terong Gosong yang sementara ini anggotanya telah mencapai lebih dari 100 orang.

Singkat kata, Terong Gosong menjadi komunitas yang terus-menerus berkembang.

Mengapa untuk judul buku ini ada tambahan “The”? Pengantar ini tidak akan menjawabnya. Pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya setelah terbit buku-buku seri berikutnya nanti. Maka, barang siapa ingin mengetahui jawabannya, haruslah menantikan terbitnya buku-buku itu, kemudian membelinya.

Tak ada harapan yang muluk-muluk tentang semua ini. Sebagaimana ditulis sebagai penjelasan, baik  di laman penggemar maupun situsnya: “Walaupun ada harapan untuk memetik hikmah dari lelucon-lelucon, laman ini pada dasarnya hanya mengajak tertawa saja”. Maka, demikian pula halnya dengan buku ini.

Akhirnya, perlu ditambahkan pula bahwa, walaupun isinya menyangkut kehidupan pesantren, kisah-kisah dalam buku ini diyakini dapat menggelitik siapa pun juga secara universal. Bahkan mereka yang belum mengenal sama sekali dunia pesantren, tidak akan mengalami kesulitan untuk menikmatinya. Adapun seandainya tetap saja ada hal-hal yang belum dimengerti, baik berupa istilah-istilah, slank, ataupun konteks subkultural, dapat dimintakan keterangan kepada kiyai atau santri dimana pun berada.

Berkaitan dengan itu, ucapan terimakasih secara khusus harus dipersembahkan kepada Ibu Lan Fang, novelis Surabaya pencetak best-seller, yang telah menjadi bukti nyata universalitas Terong Gosong, bahkan mempublikasikan apresiasinya yang simpatik melalui media massa.

Selamat membaca.

Rembang, 27 Januari 2011

6 thoughts on “Pengantar Buku “The Terong Gosong””

  1. bangun says:

    assalamualaikum Yai,, ceritacerita di dalamnya salah satu jalanku menuju cinta . matur suwon njeh Yai ,. I LOVE YOU.

  2. Firdaus Asrori Ma'shum says:

    dimana bukunya bisa dibeli?

  3. Ahmad Mudatsir says:

    assalamu’alaikum gus tergos, perlu diperbanyak penerbitan buku-buku kreatif biar tidak hanya ekonomi kreatif saja yg ada, sehingga konsumen menjadi binngung, saya kalaw boleh pesan buku itu bagaimana caranya, Ahmad Mudatsir di Palembang Sumsel Wassalam

  4. IZZUDDIEN MUHAMMAD says:

    YAI PINTEN HARGANE LEK BADE TUMBAS KIRA2 LEWAT PUNDI???SUWUN SEDERENGE

  5. Muhammad Ulil Abshor says:

    Assalamu’alaikum, bade tangklet tumbase buku niki sampun wonten ten toko-toko mboten.
    nek mboten wonten ajeng tumbase ten pundi mas Admin.

  6. staquf says:

    Apabila memang stoknya belum habis, buku bisa dibeli di Gramedia atau Togamas. Bisa juga membeli kepada Kang Sofian:

    https://www.facebook.com/kang.anom?fref=ts (facebook)
    @SofianAnom (twitter)
    sjanom>> ymsgr:sendim?sj.anom (Yahoo! Messenger)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *