Kanjeng Nabi yang Tidak Mau

Peristiwa hari Rabu, 3 April 2013

Peristiwa hari Rabu, 3 April 2013

Pada suatu Ramadlan, saya berangkat umroh. Dalam perjalanan Jakarta-Jeddah, kebetulan kursi saya di pesawat bersebelahan dengan Tifatul Sembiring–waktu itu dia masih ketua partai dan belum jadi menteri–dan kami pun sedikit mengobrol setelah saling menyapa.

“Berapa hari?” ia bertanya.

“Yah… seperti biasa… tiga hari di Madinah, lalu empat hari di Makkah”

“Saya sepuluh hari tapi tidak ke Madinah. Cuma di Makkah saja terus pulang”.

Saya tidak berkomentar dan obrolan tidak berlanjut karena ia lalu bangkit mengambil mushaf dari tas tentengnya.

“Maaf ya”, katanya, kemudian tampak memusatkan perhatian ke halaman-halaman mushaf.

Syaikh Ahmad Nursaif, pengampu rubath thullab di Hafair, Makkah, adalah guru dari Kyai ‘Athourrahman Hisyam–Kyai Thour–dan adik-adiknya. Suatu kali beliau berkunjung ke Indonesia dan menengok murid-muridnya itu di Leler, Purwokerto. Menurut Gus Zuhrul Anam, adik Kyai Thour yang juga menantu Kyai Maimun Zubair, Syaikh Nursaif bercerita tentang salah satu live show Bin Baz di televisi Saudi.

Dalam dialog interaktif di televisi itu, seseorang bertanya lewat telefon,

“Saya menunaikan ibadah haji, tapi tidak sempat ziarah ke makam Rasulullah. Bagaimana hukumnya?”

“Oh, tidak apa-apa!” Bin Baz menjawab lugas, “Asal tahu saja, saya sendiri dua puluh lima tahun tinggal di Madinah, dan tidak sekali pun berziarah ke makamnya!”

Syaikh Nursaif tampak geram ketika meriwayatkan hal itu,

Su-ul adab kok bangga!” kata beliau.

Belakangan, saya menyampaikan riwayat dari Gus Anam itu kepada Gus Mus. Beliau cuma nyengir.

“Wong itu Kanjeng Nabi sendiri yang tidak mau didatangi kok”, komentarnya, “Dulu, banyak orang ingin sowan kepada Mbah Hamid Pasuruan tapi tidak berhasil ketemu. Banyak juga yang mau sowan tapi nggak sempat-sempat, atau bahkan sama sekali tidak tergerak hatinya untuk sowan. Itu semua karena Mbah Hamid-nya sendiri memang tidak mau disowani oleh yang bersangkutan. Itu baru wali. Apalagi ini…. Kanjeng Nabi je!”

Saya pun teringat kisah seorang kyai Rembang yang sudah datang ke Pasuruan, tapi hingga berjam-jam menunggu di ruang tamu, Mbah Hamid tidak muncul, sampai kyai Rembang itu putus asa lalu pulang. Dalam perjalanan pulang itu sopirnya bercerita, betapa tadi Mbah Hamid menemuinya di tempat parkir dan mengobrol dengannya sampai lama sekali!

Yang membuat saya geli sendiri adalah khayalan yang lantas muncul di benak saya: bahwa Sunan Kalijaga tiba-tiba sowan kepada gurunya di Tuban pada hari Rabu, di luar waktu yang biasa.

“Lho? Belum waktunya kok sudah kesini?” Sunan Bonang heran.

Muridnya tersipu,

“Sudah kepingin, ‘Njeng Sunan…”

“Lha katanya di tempatmu sedang ada tamu? Kok malah kamu tinggal?” Sunan Bonang senyum-senyum menggoda.

5 thoughts on “Kanjeng Nabi yang Tidak Mau”

  1. bagus says:

    maknyus

  2. Iwan says:

    Ringan tp menyejukkan…makasih Gus

  3. rofi mutawakil says:

    apakah kalo ada tamu kita harus meng hindar apa harus di hormati

  4. rohmat_buchori@yahoo.com says:

    lha wong kangen wae ora kok ngarep arep syafa’at…

  5. iwan says:

    Koq sepertinya artikelnya berkurang atau berubah ya yai?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *