Fikih Bendungan

Rofiqoh Darto Wahab

Rofiqoh Darto Wahab

Fiqih itu luas dan luwes. Apalagi jika berfiqih secara manhaji, yakni dengan mendayagunakan ushul-nya. Salah satu kaidah fiqih nyaris secara literer menggambarkan keluasan dan keluwesan itu:

الأمرإذا ضاق اتسع و إذااتسع ضاق
“Segala urusan itu jika sempit terluaskan, jika luas menyempit”

Maka, fiqih pun mensyaratkan kontekstualitas, sebagaimana panduan kaidah:

الحكم يدور مع علته وجوداوعدما
“Segala hukum beredar beserta ‘illatnya, dalam (menentukan) ada dan tiadanya”

Perkembangan zaman melahirkan masalah-masalah baru yang belum pernah timbul di zaman yang lalu (unprecedented) sehingga kian menuntut pendayagunaan ushul fiqih untuk menggali hukum atas masalah-masalah baru itu. Kalaupun banyak kyai sepuh dulu “tidak berani” melakukan istinbat (penggalian) hukum sendiri dan memilih membiarkan pembahasan hukum masalah-masalah baru itu mauquf (terhenti tanpa keputusan), itu karena tawadlu’ dan kehati-hatian memegang tanggung jawab fatwa. Kyai Turaihan Ajhuri rahimahullah bahkan dengan tajam menyatakan posisinya berkaitan dengan ini:

“Kita tidak berhak membuat qaul (pendapat hukum) sendiri. Hak kita hanya sebatas “naqlu aqwaalil ‘ulamaa” (mengutip pendapat-pendapat para ulama). Karena kita bukan ulama!”

Demikian tandas Mbah Turaihan, seorang faqiih sekaligus ahli ilmu falak yang langka tanding pada masanya.

Tapi perkembangan zaman pun terus mendesak. Tidak melambat malah bertambah cepat secara akseleratif. Sedangkan ummat tidak boleh dibiarkan bingung atapun liar tanpa panduan. Maka kita pun mengenal kyai-kyai ahli ushul yang progressif seperti Kyai Abdul Wahab Hasbullah rahimahullah dan Kyai Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh hafidhahullah wa athaala baqaa-ah, yang kerap menyodorkan penyikapan-penyikapan yang bernas atas berbagai dinamika zaman dan memberi jalan keluar dari kebuntuan, walaupun terkadang menimbulkan kontroversi karena tidak disetujui oleh kyai-kyai ahli fiqih yang lebih berhati-hati.

Para kyai amat sadar akan potensi kontroversi itu. Itulah sebabnya mereka kemudian mengembangkan berbagai pendekatan komunikasi untuk menjembatani kesenjangan. Di antara yang kreatif mengrajin jembatan komunikasi untuk keperluan itu adalah Kyai Bisri Mustofa Rembang.

Akhir 1950-an, lahirnya “The Beatles” yang menjadi begitu populer di seantero dunia menandai semakin dahsyatnya penetrasi budaya Barat menembus berbagai saringan budaya komunal sehingga membuat khawatir sejumlah pemimpin kita. Sampai-sampai Bung Karno sendiri mengecam “serangan” The Beatles itu, yang dicemoohnya dengan sebutan “budaya ngak ngik ngok”.

Di Rembang, Kyai Bisri Mustofa membeli seperangkat rebana dan melatih santri-santri putri memainkannya. Salah seorang yang paling bagus suaranya didaulat menjadi vokalis – dia adalah Rofiqoh, yang belakangan melejit karirnya sebagai penyanyi gambus hingga era 1970-an: Rofiqoh Darto Wahab. Kyai Bisri bahkan menggubah sendiri sejumlah lagu untuk dimainkan oleh “grup samroh” bentukannya itu.

Belakangan, Kyai Bisri mengundang para kyai untuk bersilaturrahmi dan “mayoran” seperti adatnya. Seusai pesta makan – sudah pasti sambal terong gosong tidak ketinggalan — Kyai Bisri membuka diskusi,

“Para kyai yang mulia, dewasa ini kita saksikan datangnya banjir bandang yang luar biasa, yaitu banjir budaya Barat yang masuk mempengaruhi anak-anak kita. Sebagaimana seharusnya dalam menghadapi banjir, kita perlu membangun bendungan, agar arus banjir bisa diarahkan dan tidak sampai menenggelamkan kita semua. Saya telah merancang sesuatu sebagai ikhtiar membangun bendungan itu, yang nanti saya mohon para kyai memberikan pertimbangan dan menghukuminya”.

Kyai Bisri memberi kode ke ruang dalam, dan grup samroh pun segera beraksi. Kyai-kyai terkejut, tapi tidak berkata apa-apa. Beberapa malah lenggut-lenggut menikmati irama, hinga sejumlah lagu bermuatan sholawat dan doa-doa selesai dimainkan.

Kyai Bisri mengusungi alat-alat tabuh berupa rebana berbagai ukuran lengkap dengan icik-iciknya ke hadapan para kyai.

“Nah… bagaimana?” ia menagih pandangan mereka.

Ruangan senyap. Mbah Ma’shum Lasem diam seribu bahasa. Mbah Baidlowi meraih icik-icik dan membunyikannya didekat telinga.

“Kok kedengarannya ringan di telinga ya…?” kata beliau, tidak berbau fiqih babar blas.

Para kyai akhirnya bubar tanpa membuat kesimpulan fiqih apa pun atas “bendungan” Kyai Bisri itu.

Selang beberapa waktu kemudian, datang rombongan pemuda Ansor dari Cepiring, Kendal, menghadap Kyai Bisri. Kang Sukis, pimpinan rombongan – kini Mbah Sukis sudah 70-an usianya — mengadukan gencarnya kegiatan Pemuda Rakyat (organisasi pemuda onderbouw PKI) di kampungnya,

“Mereka membuat grup drum band yang bagus sehingga pemuda-pemuda kampung kami jadi tertarik. Kami ingin membentuk grup drum band Ansor untuk mengimbangi, tapi dilarang oleh Rois Syuriyah dan kyai-kyai lainnya. Haram, katanya. Bagaimana menurut panjenengan, Kyai?”

Kyai Bisri mesem. Ketika buka suara, beliau tidak memberi ulasan fiqih, malah bersenandung,

“Sholaatullaah salaamullaah
‘Alaa Thoohaa rosuulillaah
Sholaatullaah salaamullaah
‘Alaa Yaasiin habiibillah

Lungguh amben mangan berkat
Ngethok tali nganggo welat
Nabuh dramben aku mupakat
Ojo lali nggonmu sholat”

[Duduk di amben (balai-balai) makan berkat
Motong tali pakai welat (bilah bambu yang ditajamkan)
Main drum band aku sepakat
Asal jangan lupa sholat]

Rombongan Ansor pulang dengan girang sekali.

6 thoughts on “Fikih Bendungan”

  1. Edi Winarno says:

    “Sholaatullaah salaamullaah
    ‘Alaa Thoohaa rosuulillaah
    Sholaatullaah salaamullaah
    ‘Alaa Yaasiin habiibillah

    Mbeleh macan cacah sewelas
    kaca bolong disemen kuat
    akeh wacan sing ora jelas
    tapi maca Terong Gosong pancen manfaat…”

    1. prazetyozetyo says:

      ini baru mantab :)

  2. khodijah al kubro says:

    muuaaaannntaaaabbbbzzzzssss !!!!

  3. hasan says:

    sholatullah salamullah
    ala thoha rasulillah
    shalatullah salamullah
    ala yasiin habibillah
    omah gosong sebab kualat
    siram banyu supaya ambyar
    terong gosong emang manfaat
    apa maneh ben dina anyar

  4. Bisri Mustofa Kebumen says:

    Setelah membaca ini saya terus blusukan mencari lagu2 Rofiqoh yang pernah saya dengar waku kecil dulu. Saya temukan lagu Panggilan Jihaf. Saya ingin info penggubah lagu dan penulis liriknya siapa ya? Begitu indah dan membangkitkan semangat perdamaian. Ini lirikya:
    Allahu akbar 2x
    Allah Allahu akbar

    Kalam suci menyentuh kalbu berjuang
    Maju serentak membela kebenaran
    Untuk negara bangsa dan kemakmuran
    Hukum Allah tegakkan 2x

    Allahu akbar 2x
    Allah Allahu akbar

    Putra putri Islam harapan agama
    Majulah serentak genggamkan persatuan kalam Tuhan

    Mari kita memuji mari kita memuja 2x
    peganglah persatuan kalam Tuhan

    Kalam suci menyentuh kalbu bernuang
    Maju serentak mencapai kemenangan
    Untuk negara bangsa dan keadilan
    Panggilan jihad hidupkan 2x

    Allahu akbar 2x
    Allah Allahu akbar

    Pemuda pemudi Islam bangunlah
    Panggilan jihad rampungkan
    Wasiat Muhammad peganglah
    Harta da jiwa serahkan
    Binalah persatuan sirnakan perpecahan 2x
    Persatuan kalam Tuhan

    Kalam ilahi menuntut persatuan
    Perpecahan melumpuhkan kekuan
    Pertimaian menguntungkan musuh Tuhan
    Hanya iman tauhid dapat menyatukan
    tuntutan agama menjadi tuujan
    Panggilan jihad hidupkan 2x

    Allahu akbar 2x
    Allah Allahu akbar

    Ulama pemimpin Islam dengarlah
    Demi agama sadarlah
    Ulama pemimpi Islam dengarlah
    Demi agama sadarlah
    Hentikan pertikaian ciptakan perdamaian 2x
    menuju petsatuan kalam Tuhan

    Kalam ilahi menuntut persatuan
    perpecahan melumpuhkan kekuatan
    Pertikaian menguntungkan musuh Tuhan
    Tuntutan agama menjadi tujuan
    Panggilan jihad hidupkan 2x

    Allahu akbar 2x
    Allah Allahu akbar
    Panggilan jihad hidupkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *