Fikih Ciblon

mandi-sungai

Syari’at adalah panduan untuk menetapi tingkah yang paling patut dalam setiap situasi atau aktifitas. Kepatutan itu ditimbang terkait hubungan antara manusia dengan tuhannya dan dengan sesamanya. Dalam sudut pandang ini, syari’at lebih merupakan “alat bantu” ketimbang “palu vonis”. Yakni membantu manusia untuk mencapai kebaikan, bukannya menghakimi.

Larangan menghadap atau membelakangi kiblat saat buang hajat ditempat terbuka, misalnya, mengandung pertimbangan kepatutan terkait kemuliaan kiblat. Tapi tidak berarti kepentingan pragmatis selamanya diabaikan.

Seseorang bertanya kepada As Sya’bi (Abu ‘Amr ‘Amir bin Syarahil bin ‘Abdi Dzi Kubar Al Humairi –seorang faqih dari kalangan tabi’in),

“Kalau aku mandi di sungai kemudian sekalian buang hajat didalamnya, bolehkah menghadap atau membelakangi kiblat?”

Jawaban Asy Sya’bi:

“Menghadaplah kearah pakaianmu kau letakkan, supaya tidak dicolong orang!”

5 thoughts on “Fikih Ciblon”

  1. uswah says:

    Hehee… mantab gus :D

  2. Bunda Cinta says:

    Tambahan Ilmu yg sedikit tp sangat ber arti buatku, trimakasih, met pagi……..

  3. fadhianarumata says:

    bagus bagus

  4. jauharimuchlas says:

    hehehe…. akhir akhir ini bahasanya kok canggih banget tho gus. kayak bahasa akademisi bukan bahasa santri kendhil

  5. Elsy Dharmawan says:

    Betul betul ngena.. :)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *