Al Munawwir

KH Ahmad Warson Munawwir

KH Ahmad Warson Munawwir

Naskah kamus sudah selesai ditulis, tapi Kyai Warsun tak kunjung menyerahkannya kepada penerbit untuk dicetak. Ia membawa naskah itu ke Rembang untuk ditunjukkan kepada Kyai Bisri Mustofa,

“Mohon diperiksa, Kyai, kalau-kalau masih ada kekurangannya”.

Kyai Bisri malah tak mau menyentuh naskah itu.

“Buat apa?” katanya, “sudah jadi begini ya langsung dicetak saja!”

Kyai Warsun meringis bimbang,

“Lha wong Al Munjid saja (kamus bahasa Arab ensiklopedik karya dua pendeta Kristen asal Lebanon, Louis Ma’louf dan Bernard Tottle –Terong Gosong) masih banyak kesalahannya, apalagi cuma bikinan saya ini…”

“Lha iya!” Kyai Bisri menyergah, “Walaupun masih banyak kesalahan diterbitkan ya nyatanya ‘ndak apa-apa to? Tetap banyak manfaatnya juga to?”

Kyai Warsun garuk-garuk kepala.

kamus-almunawwir

“Guuus, Gus…”, Kyai Bisri melanjutkan, “sampeyan itu sudah mencurahkan kemampuan habis-habisan untuk mengumpulkan, meneliti, menyusun, menulis, sampai jadi naskah sebegitu tebalnya… kurang apa lagi? Sudah sangat besar jasa sampeyan. Nah, nanti kalau sudah diterbitkan, ya gantian tugasnya pembaca untuk meneliti kalau ada kekurangannya. Biar pembaca yang mengoreksi. Kalu perlu, biar orang lain menyusun kamus baru untuk menyempurnakan kamus sampeyan ini… Lha sampeyan nyusun kamus ini kan maksudnya juga mengoreksi dan menyempurnakan Munjid to?”

Kyai Warsun akhirnya medapatkan kemantapan untuk menerbitkan naskah itu. Atas saran Kyai Ali Ma’shum, kakak iparnya, kamus itu diberi judul “Al Munawwir”, tafa-ulan kepada Kyai Muhammad Munawwir, ayahandanya sendiri.

“Judul kitab yang enak ya seperti kamusnya Warsun itu, sederhana dan gampang diingat”, kata Kyai Ali kepadaku suatu kali, “jangan seperti embahmu… bikin judul sukanya yang aneh-aneh… ‘Al Ibriz…. (artinya: emas murni– Terong Gosong) Mbok tadinya kasih judul ‘Al Bisri’ gitu saja kan enak to…?”

Lahumul Faatihah…

 

Catatan:
“Al Ibriz” adalah judul kitab tafsir Al Quran dalam bahasa Jawa karya Kyai Bisri Mustofa.

9 thoughts on “Al Munawwir”

  1. mathori a elwa says:

    maturnuwun gus!

  2. kang muchlas says:

    hehehe… kapan panjenengan ndamel buku “Al Yahya” gus?

  3. Kang Ibud says:

    Karya yang spektakuler Gus!

  4. Lasykar says:

    sahe sahe sangeeettt sahe…

  5. Lasykar says:

    Izin share gus….

  6. Atin Khoiro Ummatin says:

    Karya yang tak lekang dimakan waktu, tak lapuk ditelan masa…

  7. sun says:

    kenanganku, tiap kali aku ngimpi bertemu Bapak Yai mesti langsung ada telpon dari Bapak, “Sun, kabarmu apik, salam kagem kang roko”, sampai ktika aku dapat musibah, bliau pingin skali nyambangi aku sampai satu minggu sebelum meninggal bliau. Bapak…..bapak yang sangat menyayangi para santrinya, trima kasih Bapak…Kamus hadiah Bapak akan ku manfaatkan sebaik-baiknya..

  8. Alfin Hidayat says:

    Kini kitab tafsir Al Ibriz sudah tersedia dalam wujud latin berbahasa jawa, lengkap 30 juz dalam 1 kitab, klik tautan di bawah ini

    http://alfinlatife.blogspot.com/2015/03/tafsir-al-ibriiz-versi-bahasa-jawa.html

  9. Alfin Hidayat says:

    Kini kitab tafsir Al Ibriz sudah tersedia dalam wujud latin berbahasa jawa, lengkap 30 juz dalam 1 kitab, klik tautan di bawah ini
    http://alfinlatife.blogspot.com/2015/03/tafsir-al-ibriiz-versi-bahasa-jawa.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *