Sembada

Bilik-Pengantin

Tanggung jawab mengajarkan agama itu berat. Harus sembada. Harus bisa mengamalkan sendiri apa yang diajarkan. Al Quran mengecam keras kaum “jarkoni”: iso ujar-ujar ora iso nglakoni (bisa memberi nasehat tapi dirinya sendiri tidak mengamalkan).

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (Al Baqarah: 44)

Kyai Thoyyib Daiman (Waturoyo, Pati) lebih sepuh setahun dari Kyai Maemun Zubair. Jadi usianya kini telah mencapai lebih 87 tahun. Maka beliau pun geragapan ketika mendadak diminta memberi ular-ular (nasehat) penganten,

“Apa pun yang saya nasehatkan, saya sendiri harus bisa mengamalkan. Gimana saya bisa kasih nasehat yang paling dibutuhkan penganten? Lha wong saya sendiri kabelnya sudah ‘ndak nyetrum babar blas!”

One thought on “Sembada”

  1. Edi Winarno says:

    Bener itu. Lha wong doa yang selalu dipanjatkan sepasang pengantin adalah memohon agar para tamu itu segera pergi. Supaya mereka segera bisa menyambung setrum yang sudah pada methentheng. Hehe… :)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *