Kuasa Manusia dan Takdir Allah

KH. Bisri Mustofa

KH. Bisri Mustofa

Walaupun sama-sama dianggap mu’tabar (legitimate) dalam lingkungan Ahlussunnah Wal Jama’ah, tidak berarti madzhab Imam Abu Manshur Al-Maaturidi dan madzhab Imam Abul Hasan Al-Asy’ari itu sama dan sebangun. Ada macam-macam perbedaan pendapat antara keduanya. Dalam hal kebebasan manusia (al-hurriyyah al-insaaniyyah –terhadap kuasa Tuhan) misalnya, Al-Asy’ari memandang keberadaan kuasa manusia (qudroh insaaniyyah) itu membarengi tindakan (aksi) tanpa ada intervensi dalam signifikansinya terhadap aktualisasi tindakan. Di pihak lain, Al Maaturidi berpandangan bahwa kuasa manusia itu ada sebelum aksi, dan projektif baik terhadap aksi (bertindak) maupun non-aksi (tidak bertindak), serta signifikan terhadap aktualisasi aksi, hanya saja tidak berdiri sendiri (bukan faktor tunggal) terhadap aktualisasi aksi itu. Maka Allah-lah Sang Kreator yang meng-ada-kan segala sesuatu. (Hasan Mahmud Asy-Syaafi’iy, Al-Madkhal Ilaa Diraasat ‘Ilm Al-Kalaam).

Haji Zainal Mustofa — konon nama aslinya adalah Joyo Sutopo alias Po Dijoyo alias Joyo Rotiban — seorang saudagar cukup kaya yang amat menyukai — bahkan mencintai — mereka yang berkhidmah kepada ilmu dan agama, yakni para kyai dan santri. Ia gemar memberi bantuan dan jasa kepada mereka, tidak jarang dalam bentuk dan cara yang “agak berlebihan” karena sangat inginnya memuliakan mereka. Dalam lakunya itu tersirat kedambaannya akan anak-cucunya nanti menjadi pengkhidmah ilmu dan agama pula.

Kyai Kholil Harun sebagai sahabat dekat amat faham isi hati Haji Zainal Mustofa. Itu sebabnya belakangan beliau mengambil alih pendidikan Mashadi, salah seorang anak Haji Zainal Mustofa –yang pada waktu itu sudah yatim. Kemudian, saat Mashadi dianggap sudah mencapai umur, Kyai Kholil menjodohkannya dengan putri seorang kyai di Tuban, agar memperoleh barokah dari perjodohannya dan dari (calon) mertuanya, yakni barokahnya ahli ilmu. Apa lacur, Mashadi malah melarikan diri karena merasa belum siap menikah.

Lebih sebulan Mashadi berkelana tanpa tujuan ditemani seorang sahabat bernama Mabrur. Hingga pada akhirnya ia tak sanggup lagi memikul rasa bersalah terhadap kyainya. Mashadi kembali kepada Kyai Kholil dan mohon ampun. Sang kyai memaafkannya, bahkan beberapa bulan kemudian menikahkannya dengan puterinya sendiri, Ma’rufah, yang waktu itu baru berumur 10 tahun. Dan kali ini Mashadi tak berani lagi menolak. Apalagi minggat.

Selanjutnya Mashadi langsung dikirim ke Makkah bersama Gus Suyuthi, putera Kyai Kholil, untuk menunaikan ibadah haji dan belajar kepada para ulama disana selama dua tahun. Dengan izin Allah, harapan Kyai Kholil menjadi kenyataan. Berkat barokah dari perjodohannya dan dari mertuanya, Mashadi yang sepulang dari Makkah memakai nama Bisri Mustofa itu kemudian menjadi pengkhidmah ilmu dan agama.

Yang menarik adalah ungkapan Kyai Kholil Harun tentang perjodohan anak dengan santrinya itu,

“Kamu jadi menantuku itu bukan keinginanku”, kata Kyai Kholil, “Itu taqdir Allah”.

Kyai Kholil Harun mengikuti madzhab siapa?

2 thoughts on “Kuasa Manusia dan Takdir Allah”

  1. sidik says:

    lajeng kedah pripun niki gus…???

  2. moh.bisri says:

    Kesalahan utama dalam memilah dan menilai takdir adalah melihat unsur manfaat atau kebaikan yg di persepsi oleh masing 2 individu, sangat subyektif. Tp mmg jg tdk bisa obyektif krn tdk banyak manusia yg bisa menangkap maksud dari kuasa dan kehendak Allah tsb..paling cerdas adalah kita jgn terburu buru menilai sebuah kejadian dg otak atik rasa atau gede rasa..yg pasrah dan tundukkan saja gejolak rasa jiwa dan fikiran kita kpd Allah dg khusnudzon saja..dg kata lainapapun yg terjadi adalah kehendak dan kuasa Allah..takdirNya..yakinkan bahwa semuanya itu adalah maksud baiknya Allah semat..ambil khikmah atau pelajaran atau apalah yg bisa..kalau tdk bisa..ya masak percaya dg kebaikan Allah saja kok susah sih..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *