Fikih Non-Muhrim

ahmadinejad-pelukan

Bagaimana hukum jabat tangan dengan lawan jenis yang non-muhrim?

Terong Gosong sudah pernah menulis tentang ini –bahkan dua judul, yaitu “Salaman dan “Rejeki Londo” — berkaitan dengan insiden Tifatul Sembiring versus Michelle Obama. Tapi baru-baru ini terjadi lagi heboh yang mirip, melibatkan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dan Elena Frias, ibunda dari mendiang Presiden Venezuela Hugo Chavez.

Saat Ahmadinejad datang ke Caracas melayat wafatnya Hugo Chaves, Sang Ibu tak mampu menahan diri, menghambur ke pelukan Ahmadinejad dalam tangis pilunya,

“Anakku sangat menyukaimu…. Aku menganggapmu seperti anakku sendiri…”

Dan peristiwa itu pun menjadi skandal. Hossein Ibrahimi, seorang mullah Iran, mengecam keras dan menghukumi Ahmadinejad berbuat tidak senonoh menyimpangi syari’at Islam. Pemberitaan media tentang ini pun begitu riuh. Bahkan media-media Barat — seperti BBC– menyorotnya dengan gegap-gempita.

Dua tulisan Terong Gosong yang ditaut diatas tidak menyinggung fikih. Dalam tulisan yang ini, Terong Gosong ingin mengulas kembali sambil sekilas menegaskan pandangan Terong Gosong tentang Syari’at. Secara mendasar, Terong Gosong dapat mengatakan bahwa: Syari’at bukanlah pasal-pasal KUHP. Syari’at adalah panduan untuk memilih sikap atau tindakan yang paling tepat dalam berbagai konteks situasional yang berbeda-beda. Maka, sebagian besar diktum syari’at tidak berlaku mutlak untuk semua kasus, tapi “situasional”. Itu sebabnya para ulama menyusun rumusan-rumusan panduan syari’at berupa ushul (teori-teori) dan kaidah-kaidah fikih.

Diantara kaidah-kaidah itu adalah:

إذاتعارض الضرران قدم أخفهما

“Apabila dua pilihan jelek saling bersaing, didahulukan (dimenangkan) yang lebih ringan kejelekannya”.

Kyai Bisri Mustofa berpesan kepada santrinya,

“Nak, kalau kamu nanti jadi kyai, lalu ada perempuan yang minta salaman denganmu, jangan kamu tolak ya…”

Salaman dengan lawan jenis non-muhrim memang jelek. Tapi lebih jelek lagi meriskir orang jadi tersinggung, sakit hati, patah arang sehingga tak mau lagi mendekat, apalagi menerima pelajaran dari kyai.

Apakah ini berarti membela Ahmadinejad dan Tifatul Sembiring? Pertanyaan itu kurang tepat rumusannya. Rumusan pertanyaan yang lebih tepat adalah: “Apakah ini khusus untuk kyai?”

6 thoughts on “Fikih Non-Muhrim”

  1. santri mbedut says:

    akhi . . .
    mohon yang agak komplit donk, misal pennjelasan dr penerapan ushul yang diatas sama permasalahannya.
    trus klo bisa lebih komplit lg juga, misal fatwa” ulama dsb.

    afwan
    (jaya trus terong gosong dan pemakannya)

  2. arip says:

    waah khusus kyai…. :D

  3. cowoperkasa says:

    ahmad dinejad kan syiah brai

  4. eti san says:

    saya pribadi, klo yang dihadapan sudah terlanjur ‘mengulurkan tangan’ untuk bersalaman maka selalu saya terima jabat tangannya, tapi klo belum ya cukup dengan isyarat sedikit anggukan kepala n senyum ( sambil nggandeng lengan suami :D ) maka yg dihadapan kita saya rasa sudah tau maksudnya, mohon saran yg lebih baik :)

  5. Lynda Ibrahim says:

    Menarik. Profesi saya adalah konsultan lintas sosial-budaya dlm cakupan bisnis. Klien2 saya adalah ekspat yg kerja di RI, atau profesional Indonesia yg akan berangkat kerja ke luar-negeri sbg ekspat. Baru2 ini istri klien saya (yg mau pindah kerja 2 thn ke AS) adalah muslimah yg bersikap tidak mau menjabat tangan non-muhrim. Saya tidak punya hak utk mengubah kepercayaan dia, tapi tugas saya adalah menerangkan konsekuensi dari sikap/sifat klien saya di tempat baru nanti. Krn Syariah bukan ilmu saya, maka saya masuk dari teori psikologi massa (utk tata-cara pergaulan scr umum) dan sejarah (utk menerangkan latar-belakang egaliter budaya AS, yg bisa membuat orang Amerika amat tersinggung krn dianggap tak sederajat bila tidak disalami).

    Saya tidak tahu apakah istri klien saya itu nanti akan mengubah sikapnya soal berjabat-tangan setelah nanti tinggal di AS, tapi yg jelas di akhir sesi dia mengucap sesuatu spt ini: “Memang benar kata pepatah, lain lubuk lain ikannya. Dan saya ikan yg nanti akan pindah lubuk. Supaya saya sendiri nyaman, karena diterima ikan2 di sana, sepantasnya saya memilah2 kembali mana prinsip2 yg harga mati dan mana yg bisa saya sesuaikan.” Andai ulama Iran belajar kerendahan hati dari istri klien saya ini, sehingga justru bisa menghargai keluhuran jiwa Ahamadinejad yg memberikan dukungan moral pada seseorang yg sedang berduka.

    Btw, setuju dgn komentar Santri Mbedut di atas, bila dalil dasar argumen Anda dielaborasi lagi & ditambahi contoh2 kasus lain, akan lebih kuat & mencerahkan bagi yg tertarik dgn isu2 seperti ini

    Terima kasih.

  6. aqnies says:

    wkwkwkwk, hanya para kyai asli lucu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *