Di Mana Tuhan?

antri-prasmanan

Alkisah ditengah padang yang sepi Nabi Musa ‘alaihis salam kebetulan melewati seorang gembala yang sedang bercakap seorang diri,

“…di manakah Engkau, supaya aku dapat menjahit bajuMu, menisik kasutMu dan menata peraduanMu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat menyisir rambutMu dan mencium kakiMu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat mengilapkan sepatuMu dan membawakan air susu untuk minumanMu?”

“Bicara dengan siapa kamu?” Nabi Musa penasaran.

“Dengan Penciptaku, yang menguasai segalanya…”

“Apa??!” Nabi Musa murka seketika, “Alangkah lancang mulutmu! Kau kotori kesucian Tuhan dengan ucapan-ucapanmu itu!”

Si gembala terpukul oleh teguran keras Sang Nabi. Ia pun menyingkir dengan berurai air mata,

“Mulai sekarang, aku akan menutup mulutku selamanya…”

Nabi Musa membiarkannya berlalu, diam-diam merasa lega telah menunaikan tanggung jawabnya menjaga kesucian Tuhan. Tapi tak bisa lama. Kalam Allah menghentaknya,

“Mengapa engkau menghalang antara Aku dengan kekasihKu? Mengapa engkau pisahkan pencinta dari Kekasihnya?”

Tuhan ganti menegur rasulNya dan mengutusnya menyampaikan pesan cintaNya kepada si gembala.

Ini bukan pembenaran atas gagasan kaum Wahabi yang –dengan dalih menolak takwil– beranggapan bahwa Tuhan itu wujud jisim (eksistensi fisik) yang berbentuk dan berbadan. Mahasuci Allah dari segala penyifatan yang tak layak bagiNya. Teguran Tuhan kepada Nabi Musa itu bukan pembenaran atas kata-kata yang terucap oleh si gembala. Dalam kisah ini, Tuhan menegaskan bahwa kata-kata tinggallah kata-kata ketika cinta membuncah menerjang segala muara. Kata-kata bukan lagi utusan makna, melainkan hanya percikan dari air bah yang derasnya tak terpermana. Maka, teologi bukanlah segalanya.

Hanya saja, maqam cinta memang bukan milik semua orang. Hanya orang-orang khusus pilihanNya Sendiri yang Dia tempatkan disana. Orang awam membutuhkan teologi untuk menuntun akalnya. Dan kita pun mengikuti panduan Imam Abul Hasan Al Asy’ari atau Imam Abu Manshur Al Maturidi. Bukan untuk menangkap Candra Tuhan, tapi sekedar menjaga agar tidak terjerumus kedalam waham yang mengoyak iman.

Diantara panduan pokok Imam Abul Hasan Al Asy’ari adalah penegasan bahwa Tuhan itu tak terbatas. Mendakwa Tuhan berada dalam kedudukan terbatas, diatas atau dibawah, di langit atau di suatu tempat tertentu, termasuk ‘Arasy, tidaklah pantas bagi akal yang menyucikan Tuhan. Kecuali akal kanak-kanak yang boleh dimaklumi kedangkalannya.

Anak-anak panti asuhan mengantri makan. Prasmanan, tapi jelas dibatasi karena makanan harus cukup untuk semua orang.

Pengasuh panti ingin menanamkan kejujuran, membiarkan anak-anak mengambil sendiri jatah masing-masing dari sajian yang terjajar rapi diatas meja panjang itu. Di dekat piring tempe goreng yang letaknya paling depan, diletakkan tulisan peringatan:

“AMBIL SATU-SATU SAJA! INGAT, TUHAN MENGAWASI!”

Anak-anak tampak patuh semua. Tapi, ketika sampai di keranjang buah jeruk yang letaknya paling ujung, Darmo main curang. Diam-diam mengambil tiga!

“Mo! Kok ngambil tiga?” Ronny –tandem mbelingnya– menegur setengah berbisik.

“Sssst… Tenang saja…”, Darmo mengedip, “Tuhan lagi ngawasin tempe…”

7 thoughts on “Di Mana Tuhan?”

  1. Ahmad Amin Farhan says:

    assalamualaikum..
    izinkan saya berpendawat menurut akal sehat saya.. saya sangat setuju bahwa Tuhan itu tak terbatas dan Mendakwa Tuhan berada dalam kedudukan terbatas, diatas atau dibawah, di langit atau di suatu tempat tertentu, termasuk ‘Arasy, memang tidaklah pantas bagi akal yang menyucikan Tuhan. tetapi mengingat bahwa Tuhan itu Maha Suci maka menurut saya tempat Tuhan itu, dalam tanda kutip “terbatas tapi tak terbatas”.. artinya, karena Tuhan itu Maha Suci maka tempatnya tentu terbatas pada tempat-tempat yang tidak najis.. nah, tempat-tempat yang tidak najis atau suci itulah yang tidak terbatas (bisa dimana saja asal tidak najis). karena manurut saya “mukhal” atau musatahil Zat Yang Maha Suci ada di tempat najis..sebagai contoh, di toilet, misalnya,, toilet itu tempat yang rawan najis dan syaitan banyak di dalamnya, maka menurut saya tidak mungkin Tuhan ada di toilet tersebut, tidak mungkin ketika kita–maaf– “buang air besar” itu Tuhan ada di samping Kita.. akan tetapi tetap..kuasa Tuhan itu tak terbatas. Kuasa Tuhan untuk mengawasi atau melakukan segala hal terhadap kita tidak akan terbatas maskipun kita berada di tempat yang tidak mungkin ditempati Tuhan.. sekalipun menurut saya Tuhan tidak akan ada di tempat kita “membuang air” tetapi Tuhan akan tetap bisa menjungkirbalikkan kita atau melakukan apapun terhadap kita dari manapun Dia berada dengan kekuasaanNya yang tak terbatas…
    sekian pendapat saya.. terimakasih
    wassalamualaikum… :)

    1. Abdul Jalil says:

      najis (jeding), suci (masjid), itu kan syari’at kita di dunia, yg tentu saja makhluq-makhluq juga. menempatkan-Nya atau membatasi-Nya pada atau dengan makhluk itulah yg dipersoalkan.. hehe

    2. surya says:

      izinkan saya berpendawat menurut akal sehat saya.
      kalo sy pribadi tidak pake akal karena gk yakin apa akal sy sehat atau sakit,
      Tuhan tdk bs dibatasi ruang dan waktu itu mutlak adanya

    3. Sugeng says:

      Salam,Sepurone Cak Ahmat,Pengeran niku kuwoso ngersakke nopo kemawon lan damel nopo ke mawon,Saya itu orang bodoh alias(Al jahil),Menggah akale wong bodo iki tidak mau dengan mohal itu beda,Semua yang didunia Dan Akhirat mungkin semua bagi Alloh,Kita saja yang mahluk misal disuruh masak , tidak mau masak dengan dengan tidak bisa masak(mohal bisa masak) bedanya jelas,Padahal manusia katanya punya akal dia bisa belajar kalao ingin pandai,Tapi Alloh Sifatnya pandai,Mohon maaf bila Ada salah,Barokalloh Wassalam.(Al Jahil)

  2. pita says:

    Assalamu’alaikum…..

    #Mas Ahmad, ikut nimbrung ah…
    Nabi Muhammad adalah makhluk suci, tp beliau tidak terlarang untuk masuk ke tempat seperti maaf “tempat buang air”
    Begitu juga malaikat, tidak ada dalil atau keterangan bahwa maialkat pencatat amal baik dan buruk kita itu tidak ikut kita ketika kita masuk ke tempat buang air…

    #Setuju dengan mas Abdul Jalil.
    Jd analoginya bgini: misal kita membuat robot2 yang seperti wayang punya karakter masing2, trus kita juga buat ruang2 dan rumah2an buat si robot2 itu. ruangnya persis sprt rumah kita (manusia), ada toiletnya, ada kamar tidurnya dan sebagainya.
    Lalu ketika kita sedang fokus bermain atau memainkan suatu robot yang sedang ke toilet, apakah kita jadi tidak bisa hadir di toiletnya robot itu yg notabene kita yang membuat?
    kotor dan najis kan versi syariat jangkauannya si robot, tapi bagi kita yang membuat, gada bedanya, wong kita yg tau dan membuat komposisi kotoran robot itu dari apa dan sprti apa dan tidak bisa membatasi kita…..
    :)

    Wassalammu’alaikum…..

    Salam Ukhuwah

  3. sidik says:

    menurut pendapat para sesepuh…
    manusia jika dilihat dari luar angkasa… sangat jelas terlihat TAK NAMPAK…

    MAKA dari itu… nderek dawuh wae lah… sinau agama yo lagi sak kediping mata…

  4. abdul says:

    itu hanya rangkain kata untuk menumbuhkan kepahaman pada akal qt………Tuhan melebihi apa yg qt definisikan…..ibaratx qt tdk akn bisa mendefinikan dg penuh rasa Cinta dlm hati qt…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *