Barokah Sijjin

sijjin

Ramadlan 1997, Lilik masuk Makkah sebagai jamaah umroh. Ia membayar Rp 5 juta kepada biro travel untuk biaya perjalanannya dan menggembol USD 1.000 uang saku. Pada waktu itu belum krisis. Harga dollar masih Rp 2.500 per USD. Jadi total modal Lilik adalah Rp 7,5 juta.

Visa umrohnya hanya berlaku lima belas hari. Tapi sejak awal Lilik sudah bertekad tidak mau buru-buru pulang. Ia ngendon di Mekah, sembunyi di kos-kosan mukimin yang nyelempit, menunggu musim haji tiba. Itu karena ia terlalu ngebet naik haji tapi uangnya tak cukup buat bayar ONH. Maka ia pun nekad ikut program “haji gelap”. Lilik selamat melewati dua bulan masa sembunyi, walapun uang sakunya ternyata mepet. Ia kontak isterinya di rumah, minta kiriman uang saku tambahan. Sang isteri pun lantas menenitipkan USD 1.000 kepada seorang paman yang berangkat haji resmi.

Setelah mendapat kabar pamannya tiba di Makkah, Lilik pun menyambangi maktab untuk mengambil kiriman. Seharian ia nongkrong di maktab, ngobrol melepas rindu dengan pamannya dan jamaah haji dari kampung halamannya. Sore hari ia turun dari maktab, mengantongi USD 1.000 kiriman isterinya. Apa lacur, baru beberapa langkah meninggalkan pintu, tiba-tiba ada orang mencengkeram tanggannya: polisi Saudi mencokoknya! Rupanya, sejak masuk maktab ia sudah dicurigai penjaga yang lantas lapor polisi. Lilik dirangket. Dijebloskan ke “sijjin” –penjara.

Kami semua, teman-temannya, geger. Apalagi belakangan ada kabar Lilik dituduh mencuri karena pegang uang saat ditangkap. Tak sanggup rasanya membayangkan Lilik dipotong tangan gara-gara terima uang kiriman dari isterinya sendiri!

Tiga bulan kemudian saya pulang ke Tanah Air, Lilik masih didalam penjara. Saya segera dirundung macam-macam urusan yang membuat saya nyaris lupa padanya. Sampai lebih setahun kemudian tiba-tiba ia muncul di rumah saya dalam keadaan yang berbeda total dari dulu-dulunya. Nyaris membuat saya pangling. Lebih bersih. Lebih gemuk. Lebih sehat. Dan bawa mobil pribadi! Apa kisahnya?

Singkat kata, Lilik akhirnya dibebaskan karena tidak terbukti mencuri dan sama sekali tak ada pengakuan kehilangan dari penghuni maktab. Uang USD 1.000 dikembalikan kepadanya dan ia dipulangkan atas biaya Pemerintah Saudi. Gratis. Nah, atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, beberapa waktu sebelum ia bebas, terjadi krisis ekonomi yang melanda negeri kita. IMF memaksa Pemerintah kita menerapkan sistem mata uang mengambang hingga segera saja nilai rupiah anjlok dan harga dollar melonjak hampir mencapai Rp 17.000 per USD! Maka USD 1.000 di kantong Lilik jadi bernilai Rp 17 juta. Praktis Lilik untung Rp 7 juta dari seluruh modal awalnya! Indahnya lagi, duit itu pun mendatangkan untung berlipat-lipat setelah dipakainya memodali pengembangan usaha dagang kainnya. Lilik sukses jadi juragan dalam waktu beberapa bulan saja. Tahun berikutnya, 1998, ia membayar dua kursi ONH untuk berangkat haji bersama isterinya. Resmi!

Lilik menceritakan semua kisahnya dengan mata berkaca-kaca. Rasa syukur memancar-mancar dari wajahnya.

“Ternyata, penjara juga ada barokanya”, katanya.

4 thoughts on “Barokah Sijjin”

  1. kangrejo says:

    Subhanalloh

  2. jauhari muchlas says:

    alhamdulillah teronggosong muncul maneh.

  3. seringinfo says:

    alhamdulillah, slamet lan bejo tenan iki mas lilik,,, terus posting masbro, tak nteni lanjutane

  4. Edi Winarno says:

    SEMOGA si Jupe juga mendapat barokah di penjara. (Hust, apa hubungannya ini?!)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *