Illat

Gus Dur ImpeachmentApa pun yang mereka sebut sebagai “Sidang Istimewa MPR” itu menyatakan memberhentikan Gus Dur dari jabatan presiden. Tentara menyusun pasukan di lapangan Monas dengan panser-pansernya.

Presiden memanggilku ke ruang kerja.

“Saya tidak akan keluar dari sini”, beliau bersabda, “Kalaupun mati, biarlah saya mati di sini…. Kita ini ‘indal ma’rikah, di tengah medan pertempuran dalam jihad fi sabilillah… semua ini kita lakukan demi jihad fi sabilillah toh?… ya istana ini ma’rikahnya. Kalau saya pergi dari sini, itu namanya firor minaz zahf, lari dari medan pertempuran. Itu dosa besar!”

Maka, hingga berhari-hari, aku juga tak berani keluar dari istana itu, walaupun tak ada yang bisa kulakukan selain berkeliaran saja di sekitar Presiden. Setelah pakaianku mulai tak tertahankan baunya, aku minta dikirim ganti dari rumah.

Dan suatu hari Presiden merosot kesehatannya dan tim dokter kepresidenan datang memeriksanya. Sesudah diperiksa, Presiden memanggilku.

“Ini ada ‘illat baru… alasan hukum baru… al hukmu yaduuru ma’al ‘illah wujuudan wa adaman… hukum itu beredar bersama ‘illat, baik ada mapun tiadanya…”, beliau mewejang, “Saya ini sakit. Kata dokter tadi, dalam darah saya ada trombosis, penggumpalan, dan karena komplikasi yang saya alami, hanya Rumah Sakit John Hopkins di Boston, Amerika, yang punya kemampuan merawat saya. Karena itu, Gus, saya akan ke Amerika. Tidak meninggalkan pertempuran, tidak! Tapi berobat karena sakit…”

Aku tercenung. Pikiranku berkecamuk. Perasaanku campur-aduk. Presiden mendapat ‘illat baru. Apa ‘illatku? Kutunggu-tunggu, tak ada perintah Presiden untukku. Dan aku pun tak berani membuka mulutku.

Makin dekat saat keberangkatan Presiden, aku makin galau. Kalau tak ada ‘illat baru untukku, berarti aku wajib bertahan di sini, tak perduli akan bagaimana nasib nyawaku nanti…

Orang-orang yang mencintai Presiden berkerumun di istana. Alangkah banyaknya mereka. Aku mencium tangan Presiden dan air mataku seolah tak hanya mengalir di wajahku saja tapi menyembur dan menggenang-genang didalam dadaku.

“Sugeng tindak, Pak Dur…”

Lalu aku ikut dalam bondong-bondong orang mengantarkan Presiden ke Tugu Proklamasi. Presiden berpidato, berbicara kepada rakyat, sebelum berangkat. Baru sesudah itu iring-iringan mobilnya berlalu ke ujung tatapan mataku.

Aku masih belum punya ‘illat baru. Jadi aku harus kembali ke medan pertempuran. Aku pun memaksa dengkulku yang gemetaran melangkah kembali ke gerbang Istana. Tapi tentara-tentara yang sebelumnya begitu ramah dan hormat kepadaku, kali itu berwajah garang. Mereka melarangku masuk lagi, bahkan untuk sekedar mengambil sendiri tas dan pakaian-pakaian kotorku. Salah seorang dari merekalah yang mengambilkannya untukku.

Sejurus aku marah. Tapi sebuah gagasan segera menyelinap ke dalam benakku:

“Kayaknya, inilah ‘illat baruku”.

Aku mahshur, terhalang dari memasuki tempat ibadahku. Maka aku boleh berbalik badan dan pulang ke rumah. Walaupun harus rela tak mengantongi kebanggaan. Tapi diam-diam lega, karena ada harapan tidak ketiban dosa….

6 thoughts on “Illat”

  1. udin says:

    Good job gus :D

  2. mustahal ns says:

    Saat itu kami berada di tugu proklamasi,saat itu pula sakitnya tu disini gus…

  3. kang din says:

    A humanis die at here…

  4. Abdullah Afif says:

    al faatihah………

  5. edhie says:

    ….kami yg di daerah jg ikut mrebes mili gus. Saat itu saya blm muslim dan blm kenal NU…..matur nuwun gus, mengingatkan bhw saat itu saya pernah sms mohon wwcr dg gus yahya

  6. tolani says:

    lahul fatichah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *