Pelajaran Marketing

Mbah Lim dan Mbah Dim

Jika kau temui seorang lelaki tua tinggi-besar, hitam-kelam, bajunya tidak dikancingkan hingga kelihatan kaos oblongnya yang agak kumal, kain sarungnya sedikit kedodoran, bertelanjang kaki, mungkin beliau itu Kiyai Dimyathi Rois, Kaliwungu, Kendal. Suatu hari, dengan penampilan seperti itu dan menenteng sebuah buntalan sarung, beliau masuk show-room mobil. Gadis penjaga yang cantik jelita jadi risih, bahkan cenderung curiga. Tapi demi ketaatan kepada protap, dia berusaha kelihatan ramah ketika menyapa,

“Mau beli mobil, Pak?”

“Ya”.

Gadis penjaga menunjuk Suzuki Carry,

“Ini keluaran baru. Mesinnya bandel dan irit”.

Mbah Dim mengacuhkannya, malah mendekati sebuah sedan BMW mentereng.

“Kalau yang itu mahal, Pak!” kata gadis penjaga.

Mbah Dim membuka buntalan sarung yang ditentengnya dan menuang isinya sehingga bergepok-gepok uang menggunung diatas lantai.

“Segitu cukup?” katanya.

* * *

Kalau Gus Mus punya kamera digital super-canggih, bukan berarti beliau fotografer profesional. Suatu kali di sebuah toko elektronik, beliau iseng menunjuknya,

“Coba lihat yang itu!”

“Wah! Itu mahal, Pak!”

“Bungkus!” kata Gus Mus, tanpa menanyakan harga.

* * *

“BUATLAH CALON PEMBELI TERSINGGUNG SUPAYA LAKU JUALANMU”

8 thoughts on “Pelajaran Marketing”

  1. Ulil albab says:

    Top gus, pnampilan bolh ndeso tp rjeki kutho. Pokok mati urip melok kyai

  2. Kemas says:

    Maksudnya nopo kalo yang jadi pembeli poro Yai pake metode teng inggil niku Gus Yahya :P :D

  3. ilmiah1996 says:

    top!
    patut diterapkan!
    :)

  4. bayu lodra says:

    wahhh showroom mobil apa yah carry dan bmw satu lokasi hihihihihih

  5. dian indrianto says:

    wkekekekek….yg lihat-lihat rupanya agak “purikan” hehehe

  6. penatih says:

    foto ini di ambil saat muhaimin datang bersama tokoh2 PKB ke kaliwungu dg acara halaqoh alim ulama se jawa bali lampung untuk mendukung SBY sebagai presiden dan muhaimin sebagai wakilnya….sebelum pilpres 2009…..saya ingat poersis dg pakaian mbahlim Lim dan Mbah Dim…Mbah dim belum sempat ganti pakaian sampai rombongan Mbahlim datang karena njagong sama saya yg datang lebih dulu untuk merembukkan islam yg semakin radikal…….

  7. ana n andy says:

    hahahahha,,,, mantaBB patut d cobo ilmu marketingnya. tp klo d keluarin terus d pamerin doang gmana gus???

  8. anadandelion says:

    stlh membaca detik kesatu “di mana lucunya?”, detik kelima “senyum”, detik kesepuluh “(ketawa)”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *