Misteri Alhamdulillah

Santri Sarang zaman itu mengagumi qona’ahnya Wak Din. Dia punya sepetak rumah bambu yg disekat jadi dua: satu bilik pribadi, selebihnya untuk warung sederhana melayani santri-santri. Di biliknya hanya ada satu lincak (dipan) bambu serba guna. Pada saat-saat tertentu, orang yg lewat di samping rumahnya akan mendengar suara-suara khas dari bilik bambunya,

“…Kriyeet… Allahu Akbar… kriyeet… sami’allahu liman hamidah…”, dan seterusnya.

Istri Wak Din jauh lebih muda dan lumayan cantik dan mereka belum punya anak. Suatu malam, dua orang gus dari Jombang lewat, mendengar suara ribut sekali dari lincak bambunya Wak Din. Lincak berhenti, ganti suara Wak Din bergumam,

“Alhamdulillaah… besok lagi…”

Esok harinya, kedua gus sarapan di warung Wak Din. Puas makan minum, mereka bersendawa seperti paduan suara,

“Hhaiiikk…. alhamdulillaaahh… besok lagi…”

Wak Din kontan bangkit melempar piring seng kearah kedua gus yang ngibrit lintang pukang,

“Kurrang ajaarrrr!!!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *