Tinjauan Sejarah Sosial-Politik Atas Ungkapan Penutup Pidato

Kiyai Bisri Mustofa dalam pidato kampanye Pemilu 1971 di Lombok

Kiyai Bisri Mustofa dalam pidato kampanye Pemilu 1971 di Lombok

Jangan terkecoh judul yang kelihatan keren dan sok ilmiah. Ini cuma mengajak ketawa kok…

Pada mulanya, para sesepuh ulama Nahdlatul Ulama mentradisikan ungkapan “wabillaahit taufiiq wal hidaayah” sebagai penutup pidato.  Artinya: (semata-mata) dari Allah-lah pertolongan dan petunjuk.  Itu ungkapan kerendah-hatian. Pengakuan dari pembicara bahwa ia mampu berpidato semata-mata karena pertolongan Allah, dan kalaupun hadirin tersentuh oleh pidatonya sehingga menjadi manusia yang lebih baik, itu juga semata-mata karena petunjuk Allah.

Ungkapan itu kemudian menjadi teramat populer. Semua orang menggunakannya. Seolah pidato tak dianggap sempurna tanpa ditutup dengan ungkapan itu. Orang-orang Muhammadiyah dan priyayi-priyayi abangan tak ketinggalan membiasakannya.

Kemudian datanglah masa-masa persaingan sengit antara NU dan Muhammadiyah. Yaitu ketika kaum Wahabi Minang semakin berpengaruh di lingkungan Muhammadiyah, bahkan cenderung mendominasi wacana keagamaan didalamnya. Gagasan-gagasan Wahabi dinisbatkan kepada Muhammadiyah, untuk dihantamkan kepada tradisi-tradisi NU. “Perang wacana” pun berlangsung seru. Masih ditambah lagi dengan persaingan politik sejak NU keluar dari Masyumi.

Maka, muncullah gagasan dari Kiyai Ahmad Abdul Hamid rahimahullah, Kendal, untuk merangkai ungkapan baru yang “lebih khas NU”. Beliau menawarkan “Wallaahul Muwaffiq ilaa aqwamith thoriiq”, yang terjemahannya: “Allah-lah Sang Penolong kepada seteguh-teguh tempuhan”.  Formula ungkapan ini memang canggih, gabungan antara unsur-unsur makhroj yang lebih sulit bagi lidah awam (qof dan thoo) dan kandungan  sejumlah “titik rawan” yang hanya bisa dipahami oleh orang yang mengerti dasar-dasar nahwu-shorof:

  1. Faa tasydiid pada “Muwaffiq”;
  2. Waawu pendek (tanpa mad) pada “aqwamith”;
  3. Mad (bacaan panjang) pada roo, bukan thoo, dari lafadh “thoriiq”.

Formula ini diterima secara luas oleh kiyai-kiyai NU dan segera menjadi ciri khas yang membedakan “pembicara santri NU” dari yang bukan.

Namun, di kemudian hari terjadi dinamika sosial-politik yang signifikan. Kampanye “pribumisasi Islam” yang gencar digaungkan oleh Kiyai Abdurrahman Wahid sejak 1980-an menangguk hasil luar biasa. Kampanye itu menciptakan dorongan kuat bagi kelompok kultural yang semula secara segregatif mengidentifikasikan diri sebagai “golongan abangan” untuk mendekat kepada “kaum santri”. Dan ketika mereka mulai “menggeser afiliasi”, mereka cenderung memilih identitas yang secara kultural lebih dekat, yaitu identitas NU.

Maka datanglah gelombang orang NU baru secara besar-besaran. Hingga 1990-an, yang mapan dalam wacana sosial-politik adalah bahwa  warga NU meliputi sekitar 18 % dari populasi Indonesia. Tapi saya memperoleh data hasil survey yang dilakukan oleh sebuah badan rahasia pada 1999  bahwa warga yang peri hidupnya mengadopsi ciri-ciri kultural NU (sholawatan, tahlilan, selamatan, qunut shubuh, taraweh 23 roka’at, dan semacamnya) mencapai tidak kurang dari 63 %.  Berdasarkan hasil sesnsus cacah-jiwa tahun itu (l.k. 200 juta), berarti tidak kurang dari 120 juta!

Tidak mengherankan dan tidak perlu prihatin jika pada gilirannya corak ke-NU-an menjadi semakin “awam”.

Keawaman itu tak pelak lagi tampak pula pada cara mereka melafalkan ungkapan penutup pidato. Makin sering kita dengar “pembicara NU” yang kurang hati-hati sehingga yang keluar dari lisan mereka adalah: “Wallaahul Muwaafiq ilaa aqwaamith thooriq”. Kalau diterjemahkan jadinya: “Allah-lah yang cocok kepada kaum-kaumnya orang yang berjalan”.

Saya menduga bahwa pada era 1990-an telah terjadi kesamaan persepsi secara relatif diantara para pemimpin intelektual muslim di Indonesia seperti, Gus Dur, Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, Syafi’i Ma’arif, Emil Salim, dan lain-lain, tentang strategi gerakan Islam dan pembinaan ummat. Pada saat itu tumbuh i’tikad kuat diantara para pemimpin ummat untuk mencairkan ketegangan dan menggulirkan proses rekonsiliasi diantara faksi-faksi gerakan Islam di Indonesia, khususnya diantara dua ormas terbesar, NU dan Muhammadiyah. Saya termasuk yang memperoleh keuntungan besar dari proses itu karena Gus Dur memuji saya habis-habisan di berbagai forum hanya karena yayasan yang saya bentuk bersama sejumlah aktivis mahasiswa di Yogya (Yayasan Cordova, Yogya) menggelar sebuah panel besar “Dialog NU – Muhammadiyah”.

Mencerminkan keinginan rekonsiliasi itu, Gus Dur mengakhiri sebuah ceramah dengan mengulas sejarah ungkapan penutup pidato antara “Wabillaahit taufiiq wal hidaayah” dan “Wallaahul Muwaffiq ilaa aqwamith thoriiq”, kemudian memungkasi ceramahnya sendiri dengan,

“Saya pakai ‘Wallaahu a’lam bish showaab’ sajalah! Wassalaamu’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh…

Pada gilirannya, “segregasi” antara dua ungkapan penutup pidato itu pun mencair pula. Para pembicara NU –mungkin juga karena kuatir salah melafalkan “Wallaahul Muwaffiq ilaa aqwamith thoriiq”— mulai hilang keseganannya untuk kembali menggunakan “Wabillaahit taufiiq wal hidaayah”.

Seorang santri –kebetulan namanya Taufiq, dalam suatu kegiatan latihan berpidato menutup pidatonya dengan:

“Wabillaahit Taufiiq wal Hidaayah wal ‘Inaayah wan Ni’mah wal Istiqoomah wal Habiibah was Sriatuuun…”

Dia absen semua santri putri yang cantik-cantik.

11 thoughts on “Tinjauan Sejarah Sosial-Politik Atas Ungkapan Penutup Pidato”

  1. Muhammad husni tamrin says:

    hehehe… Rupanya begitu ceritanya gus… Wah..luar biasa kejelian njenengan…

  2. Mukit says:

    Wekekek…. Kajiane jero tur lucu Gus… maturnuwun khasanahnya :)

  3. Rosyidi says:

    Lucu tapi penuh makna, mhn izin copas, biar temen2 pada baca Gus

  4. Togog says:

    Kalau saya pernah punya teman PMII, dalam sebuah sesi diskusi mengakhirinya dengan “Wallaahul Muwaffiq ilaa aqwamith thoriiq = walaupun munafik tapi tetap menarik”…. he he… (maaf, sedikit tak pantas, hi hi hi…)

    1. fauzi1011 says:

      hehe…podho Kang, tp karna sy & shbt2 PMII (ITS) kurang sreg, maka kami geser jadi :
      “Wallaahul Muwaffiq ilaa aqwamith thoriiq, janganlah munafik, dan tetaplah slalu menarik”

  5. ahnaf says:

    yah.. selama ini salah rupanya…

  6. Mohamad Farid says:

    Matur nuwun atas info ini.
    Selama ini saya tahu Itu adl tradisi NU dari para tetua NU, namun tidak sampai menjelaskan seperti ini.
    Klo di tanya,
    “knp?”,
    “Ya pokoknya ini tradisi Nu”, kata salah satu tetua.

    Mohon ijin copas…

  7. saeful bahjat says:

    ternyata senyum harus serius juga yach ?, rupanya khasanah ilmu dan senyumnya NU masih terlalu banyak untuk dieksplorasi……….

  8. Mahfuz Budi says:

    Itu masih mending, Gus Gosong. (cocok ‘gak dipanggil begitu?) Ada menteri Orde Baru yang tak paham transliterasi Arab-Indonesia memulai pidato dengan membaca “bismillahir rahmanir rahim”, dan ketika kepadanya ditunjukkan anak MTs yang sudah hafal Al-Qur’an sampai 30 juz, si menteri dengan kagum memuji, “Hebbaaat. Kalau begitu berapa juz lagi dia yang belum hafal?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *