Maqom (2)

Sudah pernah ditulis catatan tentang “maqom” [klik di sini] dan penjelasan Kiyai Bisri Mustofa tentang konsekuensinya.

Suatu kali muncul dua anak muda di pintu rumah Kiyai Bisri. Mereka santri Tegalrejo dan mengaku telah berjalan kaki sejak Tegalrejo hingga Rembang. Mereka minta ijin memenuhi perintah Mbah Kiyai Khudlori untuk mampir menginap di Rembang sebelum esok hari melanjutkan jalan kaki menuju Batuampar.

Kiyai Bisri geleng-geleng kepala,

“Lha wong ada bis war-wer kok jalan kaki!” ujarnya, “memangnya pondok kalian libur?”

“Tidak, ‘Yai”.

“Lha kok kalian malah ngelayap?”

“Kami hendak riyadloh di makam Syekh Syamsuddin di Batuampar… Kalau riyadloh disana ‘kan bisa hafal Alfiyah…”

Kiyai Bisri ngakak,

“Kalau benar begitu, pondokku ini sudah kemaren-kemaren gulung tikar!”

Santri-santri itu bengong.

“Kalian ini muta’allim“, Kiyai Bisri mewejang, “yang paling utama kalian lakukan ya ta’allum, belajar! Ngaji nggak libur kok ditinggal… Besok kalian balik ke Tegalrejo saja. Nggak usah ke Batuampar!”

“Tapi Mbah Khudlori sudah mengijinkan, ‘Yai…”

“Kiyai Khudlori itu kiyai kalusen.  Mau ngelarang kalian nggak tega. Sampaikan saja salamku pada beliau, matur kalau aku yang nglarang!”

*  *  *

Orang-orang yang memegang jabatan pemerintahan juga menduduki maqom tersendiri, yaitu maqom “waalii” (bukan “waliyy”). Amal yang paling utama bagi mereka adalah mengerjakan tugas sesuai amanat jabatan mereka. Jangan sampai amal paling utama itu ditinggalkan demi amal yang kurang utama. Kiyai Bisri menolak ketika diundang untuk memberi pengajian di kantor BKKBN saat jam kerja.

“Itu korupsi waktu!” katanya.

Amal yang kelihatannya sholih, kalau dilakukan pada waktu dan tempat yang tidak semestinya, jadi tidak sholih juga. Bayangkan seandainya pagi-pagi sampeyan punya hajat gawat dengan pemangku pemerintahan, nyari Lurah nggak ada karena sedang pengajian. Njujug Camatnya, nggak ada juga, katanya sedang tawajjuhan thoriqoh. Lari ke kantor Bupati,

“Pak Bupati tidak di tempat”.

“Kemana?”

“Ziarah kubur”.

Modiaarrr!!

Lain halnya kalau kegiatan-kegiatan diluar tugas itu dilakukan diluar jam kerja. Malam hari, misalnya. Itu sebabnya saya pun tidak menegur Saifullah Yusuf, kawan saya yang jadi Wakil Gubernur Jawa Timur, yang tiap malam nyaris tak pernah absen mengikuti pengajian-pengajian di kampung-kampung dan sekali-sekali ziarah kubur.

“Asal jangan bangun kesiangan”, kata saya.

Tapi tetap saja telalu ganjil ketika suatu kali ia menelpon,

“Besok malam Jum’at ikut yuk!”

“Kemana?”

“Ke Mojokerto sama Pakdhe Karwo”.

“Ada acara apa?”

“Manakiban!”

Saya kaget sampai batuk-batuk,

“Kalian itu… uhuk… uhuk… Kepala Daerah apa modin ndeso?!!”

2 thoughts on “Maqom (2)”

  1. Sofian says:

    Tes komen lewat hape. ;))

  2. rajiv says:

    joss…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *