Melawan Api

Amatir memang tak bisa diandalkan. Bahkan untuk dirinya sendiri. Seorang maling begitu cerobohnya memilih rumah Kiyai Muslih Zuhdi rahimahullah sebagai sasaran, hanya karena rumah itu kelihatan gampang dimasuki. Tapi ia segera kecewa mendapati terlalu sedikit yang bisa dipetik dari isi rumah yang serba sederhana itu. Dan, gawatnya, entah kenapa, ia tak bisa keluar! Sungguh aneh bahwa dari dalam, rumah itu seolah tak ada pintunya! Si Maling bingung dan ketakutan. Kiyai Muslih keluar kamar tidur pada jadwal bangun malamnya, dan mendapati maling itu mendoprok di ruang tamu, linglung dan pucat pasi.

Kiyai Muslih membiarkannya begitu. Baru setelah usai ibadah malamnya, beliau menyapa Si Maling, mengajaknya menemani makan sahur, lalu memberi uang dan menyuruhnya pulang.

Tapi seorang profesional pun terkadang cukup sial hingga salah sasaran. Seorang perempuan nakal merayu Kiyai Soleh Darat rahimahullah saat beliau sedang berjalan sendirian malam-malam. Kiyai Soleh mengajaknya pulang ke rumah dan menyuruhnya menunggu di ruang tamu, sementara beliau menunaikan tahajjud dan sholat hajat.

(Konon, kaifiyah sholat hajat beliau sama dengan ijazah yang saya terima dari jalur paman saya, Kiyai Mujab Shoimuri, dari gurunya, Kiyai Bisri Mustofa, dari Kiyai Ma’ruf, Kedung Lo, Kediri, dari Kiyai Kholil, Bangkalan:

  • Wudlu sempurna dengan rukun, sunnah dan adabnya;
  • Sholat hajat dua raka’at sempurna dengan rukun, sunnah dan adabnya –sholat hajat dapat dilakukan kapan saja, tidak harus tengah malam seperti tahajjud, karena datangnya hajat pun  sewaktu-waktu;
  • Mewiridkan “Yaa Syakuur” seribu kali dalam keadaan duduk usai sholat, didahului hadiyah Fatihah kepada Kanjeng Nabi Muhammad Shollallaahu ‘Alaihi Wasallam dan ashhaabis sanad –dari jalur saya berarti sekurang-kurangnya kepada Kiyai Mujab Shoimuri, Kiyai Bisri Mustofa, Kiyai Ma’ruf Kedung Lo dan Kiyai Kholil Bangkalan;
  • Doa memohon apa pun yang menjadi hajatnya.

Wa katabtu haadzihi biniyyati ijaazatil munaawalah liman waqa’a ‘alaihi haadzihil kitaabah muushiyan linafsii wa liman qabilahaa bitaqwallaah.)

Dalam doa hajatnya, Kiyai Soleh memohonkan hidayah untuk si perempuan nakal.

“Jadi enggak?” perempuan itu bertanya tak sabar ketika akhirnya Kiyai Sholeh muncul dari ruang dalam.

“Berapa taripmu?”

Perempuan itu menyebut angka.

“Nih”, Kiyai Sholeh mengulurkan uang, “Sudah. Pulang sana!”

“Lho?”

Kiyai-kiyai itu menyiram api dengan air.

Tabiat itulah yang oleh Gus Mus ingin dijadikan prinsip pribadinya.  Beliau tidak setuju ketika saya mengusulkan sikap yang lebih keras menghadapi kaum kemlinthi seperti Wahabi, MTA, HTI, FPI, dan sebangsanya.

“Jangan melawan api dengan api”, kata beliau.

“Tapi mereka sudah kebangetan! Mereka mengkafir-kafirkan kita, menentang NKRI dan berbuat semena-mena terhadap siapa saja! Siapa yang menghadang mereka kalau bukan NU?” saya berapi-api.

“Itu tugas Pemerintah. Pemerintah sudah diserahi mandat berikut segala kekuasaan yang diperlukan untuk menegakkan hukum, menjaga konstitusi dan mempertahankan keutuhan NKRI”.

Saya tak mampu membantah.

Tapi, ditunggu sekian lama, Pemerintah ganjen ini makin parah saja, sehingga Gus Mus pening.

“Rasa-rasanya, saya mulai gamang”, katanya kepada Michael Maas, koresponden koran Volkskrant, sebuah harian Belanda, “kalau Pemerintah tidak juga bertindak, apakah kami yang harus bertindak? Saya sendiri saja mulai kuatir tidak bisa menahan marah. Apalagi anak-anak muda NU…”

“Sekarang ini sudah saatnya dilancarkan penggalakan Banser!” kata seorang tokoh muda NU.

“Frekuensi kegiatannya ditingkatkan?”

“Bukan cuma itu!”

“Jadi?”

“Bansernya dibikin galak!

38 thoughts on “Melawan Api”

  1. supri manutd chicarito says:

    wis wayahe mas..nunggu komando

  2. Bisri Mustofa says:

    Wong-wong sing padha kemlinthi kuwi suwe-suwe rak kuwalat. Kuwi ngono nek padha percaya tur ngandel.

    1. idhaitusatu says:

      bener bgt mbah. tp jaman sekarang byk bgt orang yg kemlinthi itu…..

  3. mokh nandirun says:

    api dilawan air, memang lebih tepat,
    bentuk kesadaran bahwa berbeda bukan berarti harus beratem perlu di munculkan sebagai salah satu mewujudkan lingkungan yang damai dan tidak memberikan efek dendam sosial yang berkepanjangan.

  4. mokh. nandirun says:

    api dilawan air, memang lebih tepat,
    bentuk kesadaran bahwa berbeda bukan berarti harus beratem perlu di munculkan sebagai salah satu mewujudkan lingkungan yang damai dan tidak memberikan efek dendam sosial yang berkepanjangan.

  5. Achmad Tohe says:

    شكرا جزيلا على الإجازة

  6. ahmad nilnal muna says:

    qobiltu ijazataka…

  7. Ihya' Ulumuddin says:

    قبلت الإجازة

  8. Agus Emje says:

    wah, saya termasuk yang ndak sabar, je, trus gimana Gus…????

  9. Azha Nabil says:

    Salam,

    Menang tanpo ngalahake…

  10. noor hasan nawawi says:

    ngapuntene, Yai! kulo nderek posting teng facebook ngge!

  11. ahbib habiibak says:

    saya terima ijazahmu untuk saya..
    Insya allah akan saya amalkan

    Nyuwun pangestune Yi..

  12. mu'izzul umam says:

    Bagaimana supaya bisa menangkal, setidaknya membendung paham wahabi yg sekarang ini hampir masuk segenap lapisan masyarakat? Di pelosok-pelosok desa saja sudah mulai marak kegiatan mereka, kalau di kota jangan tanya lagi. Begitupun di instansi-instansi pemerintah. Kaderisasi mereka sangat kuat, pola organisasi mereka sangat tertata. Dan mayoritas mereka adalah kaum intelek; pendidikan tinggi dan penghasilan cukup tinggi.

    1. Sugiono says:

      Mari kuatkan keyakinan…. sudah ada yg Maha Mengatur. Batasan kita adalah boleh ikut cawe cawe iktiyar dan harus Iklas hasilnya. Apapun kalau kita marah menghadapinya itu kita terjebak salah.
      Pelajarannya ini memang sudah dikehendakinya maka tgt kita menyikapinya.
      Gitu jangan repot.
      Nopo nggih ngoten Gus ?

  13. PURWONO says:

    Saya terima ijazah nya Gus, smoga manfaat fidunya wal ahirat. Khususon ila sohibul izazah al fatihah..

  14. p. rahmat says:

    Suwun Ijazahipun,Gus… Idza Sholuhat NU Sholuhat Indonesia

  15. Siroj says:

    qobiltu Ijazatak, Gus..

  16. mudatsir says:

    mohon berkah para kekasih Alloh agar manusia kotor dan dekil seperti aku ini selalu mampu meniti shirot al mustaqim sebagaimana apa yang telah di tempuh para kekasih Allh itu, biarlah kendati hanya norok buntek di belakang beliau yang mulia itus u, jadikan aku pelanggal tag ini kirimi terus kisah-kisah beliau terutama gus yahya cholil staquf brafvo gus kulo mudatsir di Palembang.

  17. rajiv says:

    قبلت إجازتك …. شكرا

  18. lukman says:

    قبلت إجازتك …. شكرا ikut mengamalkan GUS..

  19. zeela says:

    qobiltu ijazatak,, syukron guz,,, insyaAllah diamalkan,,

  20. mohamad subkhan fathar says:

    qobiltu ijazatak yai…semoga bermanfaat Aamiiin…

  21. kang prapto says:

    قبلت إجازتك …. شكرا

  22. cecep furqon says:

    Qobiltu

  23. umar subhan says:

    kulo trampi ijazahipun mugi GUSTI ALLAH pinaringan RIDHO. khusushon ila shohibul ijazah ghofarolahumul fatihah

  24. ahmed machfudh says:

    qabiltu ijazatakum wa syukran, matur sembah nuwun

  25. aris n says:

    ijin share gus

  26. yusuf gunarso says:

    kula tampa ijazahipun Gus Cholil .. kagem shohibul ijazah al fatihah..!

  27. slamet says:

    qobiltu! tur suwun…

  28. mazz says:

    qobiltu gus.. matur nuwun

  29. moch sueb says:

    qobiltu ijazahtakakum.., syukron. jazakallahu khoiron katsiiron

  30. chusnul ma'arif says:

    Qabiltu izaazatakum

  31. m. abdul adhim says:

    Qobiltu,
    mohon izin menerima ijazah sholat hajatnya dr panjenengan dan insy mengamalkannya,

  32. hamid alrasyid says:

    qobiltu ijazataka gus. nyuwun izin ngamalaken lan mundhut sanad dugi njenengan

  33. agung yls says:

    Qobiltu gus, matur nuwun ijazahnya

  34. imam says:

    Qobiltu

  35. Ihsan says:

    qobiltu ijazataka gus.

  36. Harits Roviq S says:

    قبلت

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *