Surat dari Antwerpen

Grogi di dekat Gus Mus.

Kris Bossaert grogi di dekat Gus Mus.

Pengantar Terong Gosong

Telah saya singgung tentang His Excellecy Kris Bossaert dalam catatan terdahulu dengan janji akan menulis catatan khusus tentang profilnya. Beberapa hari yang lalu ia menulis surat yang menarik sekali isinya untuk saya, dan saya rasa perlu dibaca juga oleh teman-teman teronggosongiyyun. Maka saya terjemahkan suratnya dan saya aplod sebagai catatan ini, sebagai appetizer (pembangkit nafsu makan) sebelum catatan tentang profilnya.

Ini adalah balasan atas surat saya, yang pada mulanya menyebutnya dengan Your Excellency –sebutan yang lazim kepada seorang pejabat diplomat—karena ia adalah Konsul Jenderal Kehormatan Republik Indonesia untuk Kerajaan Belgia. Karena kuper, saya baru tahu kalau ada jabatan macam itu, sedangkan yang ditunjuk sebagai pejabatnya pun bukan warga negara Indonesia melainkan warga negara Belgia. Saya jadi kagum bahwa seorang asing, bukan orang Indonesia, seperti dia, bersedia menerima tugas untuk mengurus kepentingan-kepentingan Indonesia di negerinya sendiri (Belgia).

Memang, alasan dibentuknya Konsulat Jenderal Kehormatan di Belgia antara lain karena hubungan historis yang erat antara kedua negara, yaitu bahwa Belgia adalah negara yang paling awal mengakui kedaulatan Republik Indonesia sebagai negara merdeka. Tapi lebih dari itu, saya terpesona oleh kesungguhannya menjalankan tugas-tugasnya, seperti yang ia perlihatkan ketika mengurus kegiatan-kegiatan bagi delegasi kami, yang datang ke Belgia atas sponsor Keduataan Besar Republik Indonesia di Belgia. Kesungguhan macam itu rasa-rasanya makin sulit kita temukan, bahkan dari pejabat-pejabat yang orang Indonesia asli di tanah air sini.

Karena ia menolak dipanggil dengan sebutan Your Excellency, kini saya memanggilnya Pak Kris.

Surat Pak Kris

Staquf yang baik;

Jangan sungkan-sungkan memanggil saya Kris. Rasa hormat saya terhadap kamu, Holland Taylor dan Gus Mus bukanlah karena jabatan-jabatan kalian, tapi semata-mata karena pribadi kalian. Itu adalah jenis kehormatan yang hanya bisa kita dapat melalui pergulatan (membaguskan sikap dan tindakan) kita sendiri, dan kita tidak memperolehnya dari jabatan yang mengesankan atau lebih mengesankan.

Saya menaruh hormat yang dalam terhadap delegasi Nahdlatul Ulama kalian yang mempesona yang datang ke Belgia. Saya merasakan sejak saat pertama: keterbukaan, saling menghormati, kesediaan untuk memahami. Dan itulah yang melahirkan kekuatan ini, sinergi di antara kita semua.

Jangan salah, saya tidak ingin menyejajarkan diri dengan seorang pemikir spiritual hebat seperti Gus Mus. Berada di dekatnya saja sudah merupakan satu keberuntungan. Seorang yang sebegitu mampu menyampaikan begitu banyak hal dengan begitu ringkas kata, menakjubkan!!! Dia seharusnya ikut politik (jadi politisi) di Belgia; (kalau dia mau) pasti kita bisa membentuk pemerintahan dalam waktu seminggu! (Perlu kau ketahui, sudah hampir setahun ini kami bertikai untuk membentuk pemerintahan [tanpa hasil]. Kenapa? Orang-orang –kubu-kubu politik yang terpilih— tidak mau saling mendengarkan satu sama lain!)

Mengapa saya bikin banyolan macam ini? Sekedar untuk membenarkan apa yang kau katakan dalam artikelmu “Antek Amerika” di mana kamu mengisahkan bahwa Gus Mus menyodorkan gagasan-gagasannya tanpa mengkhawatirkan apa yang dipikirkan audiens tentang gagasan-gagasannya itu. Kita berdua tahu, Gus Mus tak perlu merasa takut, karena gagasan-gagasannya murni, jujur, greget dan perawan, gagasan-gagasan yang tidak akan melukai (siapa pun). Itulah sebabnya saya memandang dan mendapati delegasi kalian begitu unik, dan itu sebabnya saya percaya organisasi kalian (Nahdlatul Ulama) bisa memainkan peran kunci untuk menjadikan Islam lebih dihargai dan lebih dipahami oleh seluruh dunia. Gus Mus tidak menyembunyikan pikiran sampingan, tidak punya kepentingan politik di balik kata-katanya, tidak ada sasaran-sasaran materi yang diburu, atau tekanan-tekanan dari kelompok-kelompok tertentu untuk ditangkal ataupun dibiarkan.

Tidak. Dia cuma punya satu greget: dunia yang benar-benar lebih baik untuk semua orang: kaum beragama atau tak beragama, umat Kristen, Muslim, apa pun warna kulit mereka, apa pun tingkat pendidikan atau kecerdasan mereka. Sebagai seorang non-believer (orang tak beragama), saya mengakuinya sebagai KEYAKINAN SEJATI. Sebagai orang tak beragama, saya mempercayai kata-katanya. Sebagai orang tak beragama, saya menyimak dan menerima seruannya, karena saya tidak perlu khawatir ditipu (dimanipulasi). Pernyataan yang murni dan jujur, itulah yang diteguhi Gus Mus. Dan saya sangat percaya bahwa dari titik-tolak (angle) itulah Barat bisa berdialog secara sempurna dengan Timur. Dan tidak ada hambatan untuk mewujudkan masyarakat aneka budaya dan aneka keyakinan yang damai dan bermartabat. Saya yakin, mereka yang fobi Islam di Barat akan mendengarkan seruan Gus Mus dan merubah sikap mereka.

Maka, ayolah, jangan meremehkan peran besar yang bisa dimainkan oleh Gus Mus dan Nahdlatul Ulama untuk menciptakan jalur tengah yang terbuka ini, untuk membangun rintisan bagi dialog antar agama di seluruh dunia.

Kalau Tuhan itu ada, mengapa Dia harus membikin masalah dari ini: siapa atau lewat gerbang mana (= agama) engkau datang kepadaNya? Sebagai Muslim, Kristen, atau apa pun? Selama engkau menghargai perasaan-perasaan mendasar, cinta, memahami kemanusiaan.

Hal di atas membawa kita pada masalah penting itu: (pengajaran agama di) sekolah. Tidak seharusnya kami curiga pada sekolah Islam, karena menganggap murid-muridnya dicuci-otak –ketakutan yang marak di Barat sini. Pastikan bawa sekolah-sekolah mengajarkan keyakinan Islam yang murni, kebenaran obyektif dari apa yang dimaksudkan oleh Sang Nabi; dorong guru-guru dan murid-murid membicarakan Islam dengan rasa cinta dan keterbukaan seperti yang dilakukan oleh organisasi kalian (Nahdlatul Ulama). Itu akan mengarahkan pelajar-pelajar Muslim menjadi seperti kalian dan Gus Mus, agar mencita-citakan dunia yang toleran dan meningkatkan kualitas hidup dengan tradisi Muslim.

Kalaupun belakangan ada pelajar-pelajar Islam yang ingin menjadi fanatik yang membenci orang dan menghancurkan dunia, itu karena mereka memang jahat, putus asa atau karena lasan-alasan lain, apa pun itu. Dan pengajaran sekolah tentang penghargaan atas cinta dan keyakinan non-kekerasan tidak akan (mampu) mencegah mereka dari tindakan-tindakan buruk mereka!

Tapi marilah kita menengok sisi cemerlang dari pesan kalian dan apa yang membelajarkan kita dari buku karya Gus Dur “Illusi Negara Islam”. Pesan ini, ulasan-ulasan ini, sangat terang dan logis, sehingga bahkan seorang pembenci Islam (Islamo-phobic) akan berubah pikiran tentang Islam yang sesungguhnya. Persoalannya, bagaimana masyarakat muslim dapat “menjual” gagasan-gagasan ini, pesan kuat ini, kepada komunitas-komunitas agama lainnya? Di sinilah pemasaran dimulai. Tangkap perhatian orang 5 menit dan manfaatkan kesempatan untuk menyampaikan prinsip-prinsip dasar dari pesan mulia ini: “Bukanlah keyakinan (agama) kalian atau keyakinan mereka yang menghalangi kehidupan harmonis di antara masyarakat-masyarakat dengan budaya dan agama yang beragam. Sebaliknya, agama adalah kesempatan yang unik untuk memulai kebersamaan di atas planet yang indah ini”.

Betapapun, kita semua perlu bersyukur hidup di atas planet bumi, di mana hidup itu mungkin. Seandainya kita harus hidup di “planet” bulan, wah, itu masalah besar!

Kau tahu, saya selalu berminat pada banyolan.

Salam saya untuk kalian semua, terutama juga untuk Gus Mus.

Segeralah beri kabar!

Kris.

Tanbiihun

Dalam suratnya yang terbaru, Pak Kris mengingatkan tentang “potensi bahaya dunia maya”.

“Banyak orang muda hidup dalam dunia maya, internet, komputer, twitter, dan lain-lain”, katanya, “Teknologi-teknologi ini sangat perkasa dan juga sangat individualistik, sehingga orang cenderung menghayati dunia maya ini sebagai dunia yang sesungguhnya, dunia di mana diri mereka sendiri adalah pemimpin-pemimpin yang unik, dunia yang bisa mereka otak-atik menurut fantasi mereka sendiri. Sampai mereka menyadari bahwa program komputer bikin-bikinanlah yang menjadi pondasi dari fantasi mereka, dan mereka mendapati dunia yang hampa di balik fantasi itu, tanpa kehangatan manusia, tanpa teman-teman yang nyata, jauh dari kenyataan yang sesungguhnya. Dan di sini, di Barat, mereka mencoba-coba narkoba dan alkohol untuk mengembalikan mimpi dunia maya itu. Kita tahu, petualangan berbahaya ini tidak mengarah kemana-mana selain penghancuran diri sendiri. Karena itu, perkumpulan-perkumpulan sosial, menggalang kegiatan-kegiatan kelompok, merengkuh nilai-nilai bersama seperti agama, cinta tanah air, membangun keluarga, adalah jaminan satu-satunya bagi hidup yang kreatif dan layak dijalani”.

Mafhumnya: kopdar itu penting.

29 thoughts on “Surat dari Antwerpen”

  1. dian indrianto says:

    saya setuju dengan kalimat terakhir. “Mafhumnya: kopdar itu penting.”

  2. navies basysya says:

    bertambah wawasanku, makasih gus

  3. supri manutd chicarito says:

    dekat dgn orang2 yg dekat dg Tuhan sllalu menyejukkan

  4. Ayik H. Arif says:

    Jadi kopdarnya kapan neh? :D

  5. agung budi setiawan says:

    kunciny 2 :1.kejujuran dan..ke 2. kopdar…he..he..

  6. ibnu muhammad zainur says:

    sebelumnya saya mau nanya artinya staquf apa ya???

    wah pak kris ini seorang non-believer tapi mau berfikir dan membuka hatinya..

  7. Achmad Arief says:

    saya lama mencari pemikiran dan pemahaman itu, dan banyak ‘orang tua’ itu telah pergi, akhirnya aku kembali kemakam bapak-ibuku, sambil memohon agar aku dapat ketemu dengan Wali-MU

  8. Achmad Arief says:

    lama aku mencari pemikiran dan pemahaman itu disekitarku – tp ‘orang2 tua’ telah banyak yg pergi

  9. burhanudin says:

    Yai, saya dulu pernah kerja di perusahaan furniture di Semarang (Asia Mas). BigBos saya namanya Mr.Kris Bossaert asal Belgia. Perusahaannya namanya UTP Belgium. Apa bener ini orang yang sama? Kalo saya lihat fotonya kok sama persis, bedanya kalo Kris Bossaert bos saya bisnisnya di furniture, kalo Kris Bossaert ini diplomat. Kalo bener sampaikan salam saya….
    Nuwun..

    1. Yahya C. Staquf says:

      Dia memang punya bisnis furnitur di Semarang

  10. thomas says:

    Cerita lintas budaya yg menarik.
    Ijin Sharing Gus Yahya C. Staquf.

    Trimakasih.

  11. Insa Mutamimah says:

    Gus Mus Ulama’ kharismatik

  12. Kang Wawan says:

    Speechless….. Gusmus ku, Indonesiaku.

  13. winaryo says:

    hidup Gusmus…

  14. rois says:

    seperti tempe, enak dibacem dan perlu

  15. kuntoro torro says:

    Its time to show to begin…save the world. Came on Gus!

  16. LUKMANUL HAKIM says:

    SEMOGA SEHAT SELALU GUS…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *