Shummun Bukmun

Hari minggu, 2 Mei, Osama mati. Berita-berita di tivi pada mulanya penuh riang-gembira, tapi segera berganti gambaran kegelisahan dan kekuatiran tentang balas dendam apa yang mungkin dilakukan oleh pengikut-pengikutnya. Diberitakan pula bahwa Presiden Obama merancang sebuah kegiatan di ground zero –situs bekas puing-puing menara WTC yang hancur pada peristiwa 11 September (2001)—dan akan hadir sendiri di sana pada hari Kamis, 5 Mei. Tepat pada hari itulah rombongan kami harus bertolak dari Brussel ke Amerika.

Kami merasa, situasi rawan. Sekurang-kurangnya, pasti demikianlah persepsi orang Amerika. Karena itu kami mengantisipasi pengamanan yang ketat, bahkan mungkin berlebih-lebihan. Saya ingat ketika masuk Amerika pertama kali, di bandara San Fransisco, 2004, saya tidak diperbolehkan antre di loket imigrasi biasa. Hanya karena saya tidak berkulit putih, mereka serta-merta menggeret saya ke satu ruangan khusus, bersama-sama dengan orang-orang kulit berwarna lainnya. Disitu saya diberondong pertanyaan-pertanyaan yang nyinyir sekali, mulai dari asal-usul saya sampai kegiatan-kegiatan yang akan saya lakukan di Amerika secara rinci. Karena saya membawa surat undangan Pemerintah Amerika untuk saya, mereka tidak menahan saya terlalu lama. Tapi orang-orang kulit berwarna lainnya di ruangan itu mungkin tidak seberuntung saya.

Benar saja, sebelum mengantre di check-in counter United Airlines di bandara Brussel, kami sudah dicegat oleh seorang petugas dari perusahaan penerbangan Amerika itu, yang lantas menginterogasi kami. Ketika Holland Taylor mengatakan bahwa kami diundang oleh The Heritage Foundation untuk peluncuran buku “The Illusion of an Islamic State”, petugas itu meminta contoh bukunya, membolak-balik halamannya seolah ingin mengetahui “jenis kelamin” buku itu, bahkan merasa perlu untuk mendiskusikannya dengan seorang koleganya terlebih dahulu, sebelum mengijinkan kami lewat.

Maka, Holland Taylor pun merancang tata cara untuk melancarkan urusan kami di bandara Dulles, Washington DC, nantinya.

“Saya tidak bisa satu antrean dengan Bapak-bapak karena saya warga negara Amerika”, ia membrifing kami, “karena itu saya tidak bisa langsung membantu kalau ada apa-apa. Tapi, apa pun yang mereka tanyakan, jawab saja dengan sabar”.

Karena Gus Mus tidak bisa berbahasa Inggris, ia meminta saya untuk ambil posisi didepan Gus Mus dalam antrean nanti, untuk kemudian menawarkan diri kepada petugas imigrasi untuk menjadi penerjemah bagi Gus Mus.

“Walaupun ada banyak loket, Bapak-bapak tetap dalam satu antrean saja, jangan berpencar”.

Apa lacur, bandara sepi ketika kami tiba. Kami sudah ulo-ulonan didepan satu loket, tapi petugas imigrasi dari loket lain yang menganggur memanggil Gus Mus untuk segera diproses. Dan Gus Mus pun menurut saja. Untung loket itu cuma bersebelahan dengan yang saya datangi.

Pertanyaan-pertanyaan petugas imigrasi itu standar saja, tapi saya jadi kurang konsentrasi karena harus mengamat-amati Gus Mus.

“Where are you from?” (Anda dari mana?), saya dengar petugas menanyai Gus Mus.

“Indonesia”, suara Gus Mus mantap.

“What are you here for?” (Anda disini mau apa?)

“Indonesia!” suara Gus Mus sama sekali tidak berkurang mantapnya!

Hampir saja saya memburu ke tempat Gus Mus, tapi petugas imigrasi yang melayaninya sudah menyetempel paspornya dan mempersilahkannya lewat.

Gus Mus senyum-senyum.

“Kalah sama shummun bukmun”, kata beliau, “tak shummun bukmun terus ora kakehan cangkem dhe’e!” (Kubacakan [suwuk] shummun bukmun jadi nggak banyak cingcong dia!)

11 thoughts on “Shummun Bukmun”

  1. qomar says:

    salah satu diplomasi saudi arabia mati di brondong thaliban dalam perjalananya ke yaman……..
    Lihatt di chenel al jazirah

  2. dian indrianto says:

    dimasa kecil saya, Shummun Bukmun saya pake untuk ngusir anjing yg menghadang dijalan sepulang ngaji di langgar… :)

  3. Ahmad Fikry Ashshiddiqy says:

    Ditempat saya shummun bukmun juga biasa dipakai buat ngusir anjing, tapi saya sendiri belum pernah nyoba :)

  4. qusyairi ahmad says:

    disana juga usum suwuk ya…

  5. andi mikoyanto says:

    mantep tenan…apalagi yg blg gus mus..insyl lebih manjur hehehe

  6. Ahmad Maruv Salim says:

    ora tau dolanan suwuk. :D

  7. banserx31 says:

    bravo Gus… :-D
    ngakak tiada henti…

  8. iaser says:

    nderek ngakak

  9. Misbahoel Oeloem says:

    untung ae sing disuwuk petugase thok,
    coba pesawate di-shummum bukmun…
    dadine…?

  10. M Sa'dullah says:

    Hehehe…
    Sudah tiba saatnya Mbah Mus memakai jurus pamungkasnya.

  11. Agus says:

    Kelingan shummun bukmun go ngindari polisi, he… alhamdulillah diijabah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *