Join Tuhan atawa Sarkub Amerika

Di tangga "Masjid Al Falah" dengan menara gereja Saint Thomas Aquinas di latar belakang.

Di tangga “Masjid Al Falah” dengan menara gereja Saint Thomas Aquinas di latar belakang.

Di ruang pertemuan yang lumayan tidak luas itulah, 50-an orang anggota jamaah, lengkap dengan anak-anak mereka yang berlarian kesana-kemari, bercengkerama dengan Gus Mus. Aroma Terong Gosong menyeruak dari lantunan sholawat Badar yang dipimpin oleh para ibu. Sang Imam, Syaikh Achmad Munjid An Mandury Al Jugjawy Al Filadilfy, mengisahkan suka-duka mereka semua di tanah rantau. Banyak diantara mereka adalah para pekerja yang harus bertungkus-lumus di pabrik-pabrik setiap hari: berangkat jam 4 dini hari, jam 12 malam baru sampai rumah lagi. Kerinduan pada kampung halaman bercampur kehausan akan siraman rohani mempersatukan tekad mereka beriuran mewujudkan oase mungil itu.

Untuk pertemuan-pertemuan rutin dan ibadah sehari-hari, tempat itu memang lumayan. Masalah timbul ketika berkumpul jamaah besar, seperti saat sholat ‘Id. Lima ratus orang jelas tidak akan muat dijejalkan ke ruang sempit itu. Untunglah, tidak jauh dari situ, hanya beberapa puluh meter di seberang Jalan Ke-17 (17th Street) Philadelphia itu, ada gereja Saint Thomas Aquinas yang megah. Di gereja itu rutin digelar peribadatan khusus untuk umat Kristen Indonesia. Bahkan didatangkan seorang pendeta dari Indonesia untuk melayani mereka. Gereja itu membuka pintunya lebar-lebar untuk dipinjamkan kepada jamaah muslimin Indonesia kapan saja butuhnya. Join rumah Tuhan pun jadi tradisi.

Join rumah Tuhan? Sebaiknya tidak usah minta fatwa MUI untuk soal ini, karena MUI bukan Tuhan.

Syaikh Ahmad Rafiq Al Banjary Al Jugjawy Al Filadilfy, mursyid jama’ah masjid al Falah, berkisah tentang seorang pendahulunya di Philadelphia, yaitu Syaikh Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen Al Qoodiry As Sailuuny Al Filadilfy. Tak ada informasi yang jelas tentang asal-usul tokoh ini. Orang hanya tahu bahwa beliau adalah seorang mursyid thoriqoh Qoodiriyyah yang sejak awal abad ke-20 hidup mengasingkan diri di hutan-hutan Srilangka (Ceylon). Setelah ditemukan, serta-merta orang ramai mengunjungi tempat pengasingannya, hingga pada 1971 ada yang berinisiatif memboyongnya ke Amerika dan menyediakan “paseban” –mereka menyebutnya “mazar”—lengkap dengan masjid di Philadelphia untuknya. Beliau bersedia datang ke Amerika tapi belum bersedia menetap dan hanya wira-wiri secara berkala sampai akhir 1970-an atau awal 1980-an. Beberapa tahun menetap di Philadelphia, beliau wafat pada tahun 1986 dan dimakamkan di kompleks pasebannya.

Sarkub Amerika

Kini makamnya pun ramai dikunjungi orang yang berziarah, bertahlil dan bertawassul. Dan jauh mendahului Gus Dur, bukan hanya kaum muslimin yang menziarahinya, tapi dari berbagai kalangan agama dan keyakinan yang berbeda-beda. Syaikh Ahmad Rafiq mengenal seorang Yahudi Amerika yang menjadi pengikut dan peziarah setia di makam Bawa. Apakah Bawa seorang pemimpin politik pemersatu bangsa seperti Gus Dur? Ternyata tidak.

Tawajjuhan

Sejak masih hidup, Bawa menggelar majlis-majlis dzikir secara rutin di pasebannya. Siapa pun yang datang beliau ajak berdzikir, tentu saja ala thoriqoh Qoodiriyyah yang seumur hidup diamalkannya. Beliau tidak pernah mempertanyakan asal-usul atau latar belakang orang yang datang. Beliau bahkan tidak pernah mengajak –apalagi mengharuskan—orang masuk Islam! Pokoknya diajak berdzikir saja. Maka berdatanganlah orang-orang itu menjadi pengikut dzikirnya: jelas banyak muslimin, tapi tak sedikit pula umat Kristiani, Yahudi, Hindhu, Buddha, dan lain-lainnya. Semua berdzikir bersama Bawa. Seolah-oleh beliau berkata,

“Apa pun agamamu, kita mengesakan Tuhan yang sama!”

(Dan sudah pasti yang dimaksud Tuhan disini bukanlah teh botol!)

Join Tuhan? Jangan minta fatwa MUI!

3 thoughts on “Join Tuhan atawa Sarkub Amerika”

  1. qusyairi ahmad says:

    Join Tuhan? Jangan minta fatwa MUI!, pasti fatwa mui haram muakkad, sejenis teronggosong bukan mui,…. yang saya ingat bintang film mandarin namanya anita mui …

  2. ulul arham says:

    rohmatan lil ‘alamin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *