Antek Amerika

Gus Mus di Amerika

Gus Mus di Amerika

Mengapa Gus Mus pergi ke Eropa dan Amerika? Apakah ia datang ke tempat-tempat jauh itu untuk mengemis-ngemis kemuliaan dari orang-orang Eropa dan Amerika? Apakah Gus Mus merasa kurang mulia berada diantara santri-santrinya di kampung Leteh, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang? Apakah orang-orang Eropa dan Amerika itu begitu mulia di mata Gus Mus sehingga perlu disowani dan dialap berkahnya? Apakah Gus Mus itu gila hormat atau gila popularitas atau gila uang atau gila beneran?

Gus Mus datang ke Brussel, Kerajaan Belgia, atas undangan dari H. E. Werner Langen (asal Jerman), Ketua Delegasi Parlemen Eropa untuk Hubungan-hubungan dengan Negara-negara Asia Tenggara dan ASEAN, dan H. E. Arif Havas Oegroseno, Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belgia dan Uni Eropa. Undangan ke Amerika datang dari Walter Lohman, Direktur Pusat Studi Asia di The Heritage Foundation, sebuah think-tank untuk kebijakan-kebijakan dalam dan luar negeri Amerika Serikat. Apakah Gus Mus memohon-mohon untuk bertemu mereka? Silahkan menduga-duga sendiri, apabila tidak ada jaminan bahwa omongan Gus Mus bisa dipercaya.

Dalam diskusi dengan anggota-anggota Parlemen Eropa di Brussel terungkap bahwa pemerintah negara-negara Eropa dan masyarakat (pribumi) Eropa pada umumnya dewasa ini sedang dilanda kegelisahan menyangkut masalah-masalah yang muncul di seputar keberadaan para imigran muslim dari Afrika Utara, Timur Tengah, Asia Tengah dan Pakistan, yang cenderung meningkat pesat jumlahnya. Di satu sisi, membanjirnya imigran itu melahirkan masalah-masalah ekonomi dan kriminalitas, ditambah kecenderungan makin menguatnya di kalangan kaum imigran itu “ideologi Islam” yang bersikap “subversif” terhadap sistem sosial-politik dan keseluruhan eksistensi masyarakat Eropa. Di pihak lain, masyarakat Eropa pribumi pun cenderung makin meningkat kecurigaannya terhadap Islam sehingga menguat pula sikap Islamo-phobia (membenci Islam secara apriori) di kalangan mereka.

Diskusi di The Heritage Foundation menampilkan narasi yang nyaris serupa, kecuali data bahwa peningkatan populasi muslim di Amerika lebih banyak karena pindah agama (konversi) ketimbang imigrasi. Toh dirasakan pula bahwa di kalangan kaum muslimin Amerika semakin berkembang pula paham keagamaan Wahabi-Salafi –secara eksplisit disebut oleh para pembicara Amerika dalam diskusi tersebut—yang mereka tengarai bersikap ekslusif terhadap masyarakat Amerika umumnya dan subversif terhadap sistem sosial-politik Amerika. Beberapa tahun yang lalu, FBI (Federal Bureau of Investigation), dalam salah satu operasi penggeledahan, menemukan dokumen milik seorang tokoh Wahabi-Salafi dan pemimpin jaringan Al Ikhwanul Muslimun Amerika yang berisi cetak biru strategi kelompok mereka dalam “jihad peradaban” untuk menghancurkan Amerika dari dalam. Isu-isu seputar hal ini dengan sendirinya menambah bumbu yang menyengat atas krisis hubungan Amerika dengan dunia Islam sejak War on Terror. Islamo-phobia di tengah masyarakat non-muslim Amerika pun tumbuh kian subur pula.

Mengapa Gus Mus?

Para pengundang itu tertarik kepada buku “Ilusi Negara Islam” (dapat didonlod disini) yang baru-baru ini diterjemahkan kedalam bahasa Inggris (dengan judul: “The Illusion of an Islamic State”) karena buku itu menggambarkan pengalaman Indonesia menghadapi berkembangnya ideologi Wahabi-Salafi dan ideologi-ideologi Islam radikal lainnya. Mereka beranggapan, buku itu dapat mengispirasi para pembuat kebijakan dan masyarakat umum di Eropa dan Amerika dalam menyikapi perkembangan Islam di wilayah masing-masing.

Gus Mus diundang karena dia adalah penulis epilog untuk buku itu, dengan tulisannya yang berjudul: “Jangan Berhenti Belajar”. Lebih dari itu, Gus Mus juga dipandang sebagai “the next in the row” (orang berikutnya) setelah Gus Dur (Kiyai Haji Abdurrahman Wahid) yang telah diterima dan diyakini oleh masyarakat global sebagai personifikasi faham keislaman yang moderat, toleran dan pro-human (berpihak pada kemaslahatan umat manusia secara keseluruhan).

Orang-orang itu mengundang Gus Mus tanpa mengatakan apa yang mereka harapkan dari Gus Mus atau penjelasan apa yang ingin mereka dapatkan dari Gus Mus. Maka dalam orasi-orasinya pada forum-forum yang diselenggarakan oleh para pengundang itu, Gus Mus pun –seperti yang biasa ia lakukan dalam ceramah-ceramah pengajian kampung– sekedar menyampaikan gagasan-gagasannya sendiri tanpa memperdulikan kemungkinan persepsi atau tanggapan apa pun dari para pendengarnya.

Pokok-pokok gagasan itu adalah sebagai berikut:

  1. Islam bagi Gus Mus adalah rahmatan lil ‘alamin –dengan pengertian yang telah sering kita dengar atau baca sendiri dari beliau;
  2. Kelompok-kelompok muslim tertentu menjadi radikal dan bersikap bermusuhan terhadap siapa pun diluar kelompok mereka karena berkiblat pada gagasan-gagasan Islam yang dipropagandakan oleh gerakan Wahabi-Salafi yang berpusat di Saudi Arabia;
  3. Mereka yang curiga dan fobi terhadap Islam hanya melihat atau mengambil referensi dari propaganda Wahabi-Salafi dan secara hantam kromo menganggap Islam identik dengan apa yang dipropagandakan oleh Wahabi-Salafi itu;
  4. Kedua belah pihak (yang disebut dalam poin (2) dan (3) diatas) saling memperuncing kesalahpahaman dan kebencian satu terhadap yang lain dengan sikap-sikap dan tindakan-tindakan yang salah serta aniaya dari masing-masing terhadap yang lain –Gus Mus menyebut pembelaan Barat yang membabibuta kepada Israel dalam penjajahan Palestina dan kekerasan membabibuta kelompok radikal sebagai contoh-contohnya—karena aniaya satu pihak merupakan dalil tambahan untuk membenarkan kebencian pihak lainnya;
  5. Kedua-duanya sama-sama keblinger karena mengabaikan “Islam jenis lain”, yaitu seperti yang dipahami oleh Gus Mus sendiri;
  6. Pemahaman Islam Gus Mus, yaitu sebagai rahmatan lil ‘alamin, oleh Gus Mus sendiri diyakini sebagai paham yang dianut oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia, dan berkaitan dengan itu, Gus Mus mempersilahkan untuk mengecek kepada tokoh-tokoh besar dunia Islam dewasa ini, seperti Grand Sheikh Al Azhar, Kairo, Syaikh Muhammad Thonthowi, Grand Mufti Syria, Syaikh Badruddin Hasun, Rais ‘Aam Nahdlatul Ulama, Syaikh Ahmad Muhammad Sahal bin Mahfudh, dan lain-lain.

(File mp3 rekaman diskusi berikut orasi Gus Mus di The Heritage Foundation dapat didonlod disini)

Kehadiran Gus Mus di Eropa dan Amerika memancing ketertarikan berbagai pihak. Tidak kurang dari tim penasehat keamanan Presiden Obama yang terkait dengan Islam mengundang Gus Mus ke Gedung Putih untuk didengar pandangan-pandangannya. Demikian pula Center for Security Policy, sebuah think-tank kebijakan keamanan Amerika yang dipimpin oleh Frank J. Gaffney Jr., mantan asisten Menteri Pertahanan Amerika Serikat bidang kebijakan keamanan internasional.

Di kantor Center for Security Policy, tidak jauh dari Capitol Building (Gedung Parlemen Amerika), Gus Mus dirubung sekumpulan orang sangar yang sebagain besar Islamo-phobs (pembenci Islam). Mereka menghujani Gus Mus dengan pertanyaan-pertanyaan dan gugatan-gugatan nyelekit tentang Islam. Tapi mereka segera dibikin terlongong-longong oleh jawaban-jawaban santai Gus Mus yang berisi penjelasan-penjelasan yang belum pernah mereka dengar dari referensi Wahabi-Salafi, yang selama ini menguasai persepsi mereka tentang Islam. Mereka bingung: kalau Islam itu seperti yang dijelaskan oleh Gus Mus, mereka mau membenci apanya? Berbagai kajian dan proposal strategi yang bertahun-tahun mereka susun untuk mengganyang Islam secara global jadi buyar tidak karuan, karena asumsi-asumsinya tentang Islam runtuh.

Lebih bengong lagi mereka mendengar keluhan Gus Mus,

“Salah satu sahabat terdekat Amerika adalah Arab Saudi. Tapi kaum simpatisan Arab Saudi di Indonesia melaknat Amerika setiap hari. Sedangkan kami, hanya karena kami memegangi sikap moderat dan toleran dalam ber-Islam, oleh mereka dituduh antek Amerika. Padahal Amerika sama sekali tidak mengenal kami!

24 thoughts on “Antek Amerika”

  1. agung budi setiawan says:

    tak kenal emang tak sayang ….

  2. Zaenal Arifin Az-Zuhri says:

    sikap Moderat sprti ini sering dikonotasikan faham liberalis, sehingga stigmanya mnjd terpola mnjadi sebuah pemahaman sbgian orang bahwa demokratis = liberalis. inilah pentingnya mmbri interpretasi yg benar (apa, bagaimana dn untk apa) ttg maqosid makna rohmatan lil’alaamin. kpd kaum radikal (wahabi-salafi).

    1. syafruddin says:

      betul mas

  3. zulfi says:

    sesuatu yang haq dengan kebathilan sampai kapanpun tidak akan pernah dapat di persatukan…..

    ngomong2 soal radikal memang radikal sendiri apa toh artinya???

    1. cahnakal says:

      sudah tidak perlu di perdebatkan. yang haq adalah haq yang bathil tetap bathil. kalau tidak setuju berarti bathil, yang haq itu yang membenci seisi dunia kecuali para ahli surga …

  4. purea says:

    dan pada faktanya juga terjadi perepecahan paradigma berpikir di kalangan organisasi yang berlambangkan tali tampar tersebut, yah bisa di pikir sendirilah….

    dan soal radikal, perlu menurut saya kita melihat apa arti kata tersebut, setahu saya konotasinya pun positif, termasuk fundamental,,, kenapa kok tiba2 menjadi negatif??? sehingga sebelum menjustifikasi sesuatu ada dasarnya, dan apa yang salah dengan salafi? bukankah komentar2 seperti ini malah menimbulkan perpecahan oleh karena itu janganlah ASHOBIYAH lah, justru tanpa sadar kita berada dalam keFANATIKan sebuah golongan,,,

    dan melakukan PENOKOHAN terhadap seseorang secara berlebihan, menurut saya ini juga tidaklah baik, kalau memang mainstreamnya mengarah ke ‘modernisasi’

    1. abdul says:

      @purea: perepecahan paradigma di NU (organisasi yang berlambangkan tali tampar) tidak merubah pemahaman ttg Islam sbg Rohmatal Lil’alamin, dan istilah yg lebih tepat bukan “perepecahan paradigma” tapi “perbedaan paradigma”.

  5. Anis says:

    @purea, Gus Mus mah kagak pakai PENOKOHAN udah jadi tokoh Mang! Ini pan cuma cerita kejadian. Kalau beliau keliatan bagus banget, yach emang bagus dari sononye! Kite cinte ulama kite, situ ada urusan ape? Sirik aje loch!

    “Radikal”, apa pun arti asalnye, sekarang dipakai buat nyebut wahabi-salafi biang kerok!

  6. Dilla Fajarina says:

    Purea@ begini nih kalau kamu belajar Islam dari buku2 terjemahan, tidak brguru scra mukholathoh dgn masyayikh yg tafaqquh fiddien! Ga tau siapa Gus Mus, Atw hayatur-rasul aja km belum pelajari? Komentarmu jdi asal njeplak!

  7. arlan says:

    purea@kebanyakan belajar islam dari buku2 terjemahan,komentar kok njeplak tok

  8. Riza Rahma says:

    Wes tow…
    Pokok seng penteng pewarise poro nabi iku poro ulama, duduk poro pengarang buku seng ra nggenah sumber ilmune…

  9. Gazebokubroer says:

    opo meneh mung moco ning internet yo mas riza? nek pengin ngerti agomo yo kudu sinau marang kyai ojo mung mbah gugel ae..

  10. abdul rohman says:

    yo ora ngono to kang,sinau kuwi opo mesti karo kyai tok kan yo ora tokang,sinau kuwi iso karo sopo wae ,iso lewat seng di ngeti,di rungokno karo seng di rasakno.Tapi uwong kuwi jaran gelem sinau karo seng di ngeti karo seng di rasakno neng ati,roto2 kur gelemsinau moco tok dadine nek ora cocok karo buku di anggep salah kuwi lo seng keblinger

  11. kang Adam's says:

    walau beda pendapat yang penting tetap bersatu…..

  12. Morenoazka says:

    Sah2 saja belajar dari kyai,dari internet ,dari mbah gugel ,dari penerjemah2 buku yg dapet ilmunya gaktau darimana ato dari ustadz2 yg nemu ilmunya lewat pikiran2 stresnya. Yg gak baik itu baru tau sedikit aja udah lngsung menghakimi syirik,kufur,bidngah bla bla bla….. Udah ngrasa ahli surga sendiri. Udah ngrasa islamnya paling murni.. Trus hilang sifat tawadhu’nya sesama manusia.. Ada kan yg kyak gitu???

  13. wafi says:

    Wah nyebut lambang NU dg tali tampar terkesan tidak paham. Justru jagadnya tdk dilihat. Insya Allah hasil istikharoh ulama. Moga hatinya dibukakan rahmat (lil alaamin)

  14. diduk_gawok says:

    “Inequality comes from some dirty minds”…heheheheee :)

  15. Soe Chandar says:

    Rasanya Menghormati orang tua, guru, ulama aja kagak ngerti, Gimana pemahaman Abang Purea?????
    Akhlaqul karimah itu juga pokok dari tuntunan Allah SWT dan nabinya, Naudzubillahi Mindzalik

  16. Romi Haristah Abdullah says:

    Pada dasarnya agama ISLAM adalah rahmatan lil ‘alamin , mereka yang suka perang paradigma biasanya adalah orang orang yang tidak memahami bahwa mahabenar itu ya Gusti Alloh SWT ,, mereka selalu meyakini bahwa pendapat mereka paling benar dan selalu mencari cari kesalahan dari sebagian kelompok yang dalam pengamalan ibadahnya sedikit berbeda .
    Untuk itu mari KITA NGAJI dan JANGAN SALAH MEMILIH GURU , dan saya amat sangat meyakini bahwa ULAMA ULAMA NU , adalah guru terbaik dalam membangun ISLAM YANG RAHMATAN LIL’ALAMIN.

  17. kangjuw says:

    sinau yang utama tetap melalui guru dari kitab2 yang mu’tabar.
    mbah gugel atau kang pacebok hanya sekedar referensi tambahan ataupun pembanding.
    arabic gugel juga bisa sebagai sarana mencari index ayat maupun index hadis, namun sekedar sarana sekunder, bukan yang primer.
    itu menurut saya. setuju apa tidak terserah anda.

  18. abdullah says:

    Aku merasakan kekhawatiran romo Kyai pada faham wahabi karena faham tersebut semakin mengikis ketaklidan umat pada kyai . Wahabi menekankan semua kepada Alquran dan assunah. Islam yang lurus jauh dari bid’ah,takhayul ,khurafat.

  19. Arifian dyan says:

    Lope u gusmus

  20. Aziez Masykur says:

    @abdullah & purea : Alhamdulillah ada penganut wahabi yang sudi untuk mampir di rumah kami (teronggosong). Terima kasih untuk cacian dan makiannya, tanpa kalian hidup kami kurang greget dan urup.

  21. Alie says:

    Mungkin krn web wahabi lg sepi, jd mampir sini…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *