Terminologi

Ini bukan ilmu tentang terminal, walaupun seksologi itu memang ilmu tentang seks. Ini adalah kata yang sering dipergunakan sebagai istilah untuk “istilah”. “Terminal” itu sendiri –entah kenapa– seringnya hanya dipergunakan untuk menunjuk pusat pemberhentian bis. Untuk kereta api disebut “stasiun”, untuk kapal “pelabuhan”, sedangkan pesawat terbang “bandara”, dan hanya bagian-bagian dari bandara disebut “terminal”.

Pada waktu sakit yang terakhir, ayah saya oleh dokter dinyatakan menderita “sirosis” pada “lever”, yaitu pengerasan pada organ hati. Saya sempat membaca lembar diagnosis dari rumah sakit dan saya lihat ada kata-kata: “stadium terminal”. Meskipun tidak mengerti artinya, saya yakin ayah saya tidak akan dibawa ke lapangan sepak bola (stadion) atau pusat pemberhentian bis (terminal).

Saya pernah membaca juga di suatu tempat: “Pasukan infanteri berhasil melakukan penetrasi ke wilayah musuh”. Tapi di tempat lain saya baca: “Pada penetrasi yang pertama kali itulah terjadi kerusakan selaput dara”!

MUI pernah mengeluarkan fatwa haram atas “pluralisme”, yang oleh MUI sendiri dimaknai dengan: “faham yang menganggap semua agama sama”. Padahal makna sesungguhnya dari terminologi itu, sebagaimana dipergunakan dalam perbincangan populer dan dalam wacana ilmu-ilmu sosial adalah: “sikap menerima secara terbuka perbedaan-perbedaan dalam berbagai segi kehidupan masyarakat dan kesediaan bergaul secara damai ditengah segala perbedaan”. Entah dari mana MUI memperoleh rujukan tentang makna “pluralisme” seperti yang mereka tetapkan itu, sedangkan pemaknaan seperti itu tidak ditemukan dalam khazanah ilmu mana pun. Apakah MUI telah menciptakan bidang ilmu tersendiri? Ataukah mereka bodoh? Apakah orang-orang bodoh boleh berfatwa?

Mas Muri (Dr. Makmuri), seorang peneliti senior di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) orangnya dermawan. Ia pernah menitipkan sejumlah uang cukup banyak untuk amal jariyah.

“Sudah saya belanjakan dan mendapat dua puluh sag semen!” saya melapor kepadanya belakangan.

Lain waktu ia minta tolong dicarikan dua orang tenaga pengumpul data untuk sebuah penelitian yang sedang digarapnya, dengan syarat sarjana S1. Saya pun mengirim dua orang kerabat dari Rembang untuk bergabung dengan timnya. Sore hari dua orang itu berangkat dengan bis malam, pagi-pagi Mas Muri sudah menelepon,

“Bagaimana tenaga penelitinya?”

“Kemarin sore sudah saya kirim dua sag!” saya menjawab mantap.

“Lho?” Mas Muri bingung, “ini bukan urusan semen yang dulu! Tenaga pengumpul data yang saya minta itu lho!”

“Lha iya! Sudah saya kirim dua sag!” saya ngotot.

Mus Muri terdengar mulai jengkel,

“Kamu ini gimana… saya ini serius!”

“Iya… saya juga serius…. Kemarin memang sudah saya kirim dua sag. Pagi ini insyaallah nyampai di LIPI…. Yang satu Ismail, SAg., satunya lagi Kholili, SAg…..”

26 thoughts on “Terminologi”

  1. adhi says:

    SAg Sarjana Alam Gaib?

  2. imronesia says:

    SAG: sarjana agak gimana..???

    1. Yahya C. Staquf says:

      Sarjana Agak “gini” (sambil jari telunjuk miring diatas jidat)

  3. widodo ristianto says:

    numpang nyengirrr,

  4. qusyairi ahmad says:

    biarkan saja lah gus kasian biar punya proyek, masalahnya dari dulu produknya cuma dua kalau tidak halal ya haram ….

  5. Ayik H. Arif says:

    Negeri yang kaya ulama’ karbitan– ;-)

  6. Anas Kurniawan says:

    awal cuplikan komentar :
    ” MUI pernah mengeluarkan fatwa haram atas “pluralisme”, yang oleh MUI sendiri dimaknai dengan: “faham yang menganggap semua agama sama”. Padahal makna sesungguhnya dari terminologi itu, sebagaimana dipergunakan dalam perbincangan populer dan dalam wacana ilmu-ilmu sosial adalah: “sikap menerima secara terbuka perbedaan-perbedaan dalam berbagai segi kehidupan masyarakat dan kesediaan bergaul secara damai ditengah segala perbedaan”. Entah dari mana MUI memperoleh rujukan tentang makna “pluralisme” seperti yang mereka tetapkan itu, sedangkan pemaknaan seperti itu tidak ditemukan dalam khazanah ilmu mana pun. Apakah MUI telah menciptakan bidang ilmu tersendiri? Ataukah mereka bodoh? Apakah orang-orang bodoh boleh berfatwa?
    akhir cuplikan.
    Tanggapan :
    Dengan sejalan perkembangan waktu terminologi bisa mempunyai makna yg berbeda. MUI dengan memberikan penjelasan terminologi baru “pluralisme”, dengan: “faham yang menganggap semua agama sama” adalah CERDAS, karena dengan menjelaskan dan mengkhususkan istilah “pluralisme” sehingga larangan haram hukumnya tdk salah sasaran. lain halnya dengan tidak menjelaskan apa arti terminologi “plurarisme” yg dimaksud oleh MUI, maka adalah tindakan bodoh. Dengan demikian akan kelihatan siapa yg BODOH

    1. moh.bisri says:

      Nas..nas..idiot betul kau ini bodoh kok dipelihara..baca yg betul yg namaya istilah itu sdh ada definisi umum yg dalam kamus yg jg sdh dipahami secara ilmiah oleh kalangan umum ..dan berlaku luas dikalangan akademisi buka sekedar berlaku dikalangan geng MUI aja..benar benar bego lu..lu kalau wahabi kapiran bilang aja lu gamapang ketahuan dari cara berfikir lu..

  7. Ahmad says:

    yang kelihatan pintar mungkin ya… yang pengin ngetik “pluralisme” kemudian diketik “Plurarisme”… benar benar pintar. huruf L dengan R dalam keyboard itu jauh mas…. *piss

  8. Shohib says:

    Wah, sebagai sarjana S.Ag, jadi tersungging saya, Gus. :)

  9. abdussalam says:

    hehehe,…

    Sag sagan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *