KB ala Pesantren

Pemerintah mencanangkan “Revitalisasi Program Kependudukan” karena belakangan ini dirasa terlalu banyak orok dilahirkan. Ini berarti urusan KB (keluarga Berencana) jalan lagi.

Pada jaman Orde Baru dulu, pesantren disambati oleh Pemerintah Soeharto untuk membantu kampanye KB. Pesantren mau, bahkan tampil sebagai salah satu ujung tombaknya. Tapi bukan berarti tanpa perdebatan internal.

Kiyai Misbah Mustofa, Bangilan, adik kandung Kiyai Bisri Mustofa, Rembang, dalam kitab tafsir “AL IKLIL” karyanya, menganggap program KB –dengan penyebarluasan penggunaan alat-lat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan– sama saja dengan perogram “zero population”-nya Fir’aun yang diterapkan pada Bani Israel dulu. Maka Kyai Misbah mengharamkan KB.

Di pihak lain, Kiyai Bisri Mustofa, kakak kandungnya, menulis sebuah risalah pendek berjudul “Risalah Keluarga Berencana” yang isinya memuji program ini sebagai tindakan bijaksana. Kiyai Bisri menganalogikan orang bikin anak itu seperti mengundang hajatan. Berapa tamu yang hendak diundang harus diperhitungkan dengan kemampuan untuk menjamu dan menghormati mereka nantinya. Kalau mampunya menjamu orang cuma 20, ya jangan ngundang 40. Kalau mampunya memelihara anak dengan layak cuma 2, ya jangan bikin banyak-banyak.

(Soal perbedaan kakak-beradik ini akan menjadi cerita tersendiri)

*   *   *

Seorang dokter Madura menegur ibu anggota Muslimat setempat yang hendak melahirkan anak ke-8,

“Kok ta’ maso’ KabBih, sampiyan?!” (Kok tidak masuk KB, Sampeyan?)

“Neka pon maso’ kabbih, Pak Dokter! ‘Mon ta’ maso’ kabbih, ta’ nyaaman, ta’iye!” (Ini sudah masuk semua, Pak Dokter! Kalau tak masuk semua, tak sedap la yauw!)

*   *   *

Seorang sepupu perempuan menikah dengan Ketua MWC NU Rembang. Sepupuku itu telah masyhur sebagai perempuan yang teramat subur. Beberapa tahun yang lalu kudapati ia datang sendirian ke rumah sakit dengan tertatih-tatih ketika hendak melahirkan anaknya yang ke sebelas (!) dalam usia 45 tahun (!!!).

Suatu sore aku berkunjung ke rumahnya yang didepannya terpasang papan nama “PENGURUS MWC NU KECAMATAN KOTA REMBANG”. Dikerubuti keponakan-keponakanku, aku pun memanggil tukang bakso dan memesan delapan mangkok untuk delapan keponakan (dari 11) yang sudah bisa makan bakso.

Gerobak bakso berhenti didepan rumah dan si tukang bakso meracik dagangannya. Beberapa jurus kemudian, setelah kuperkirakan racikan bakso selesai, kusuruh keponakan-keponakanku keluar untuk mengambil sendiri mangkok jatah masing-masing.

Saat aku membayar, si tukang bakso bertanya dengan mimik keheranan,

“Itu tadi anaknya semua ya, Pak?”

“Iya. Memang kenapa?”

“Ooo…” tukang bakso manyun, “waktu Bapak pesan tadi, saya kira ada rapat…”

*   *   *

Seperti biasa, hari itu Mbah Wahab Hasbullah (Tambak Beras,Jombang) rahimahullah, melayani banyak tamu di rumah beliau. Satu per satu tamu-tamu itu beliau tanggapi hajatnya. Yang bertanya dijawab, yang mengeluh dihibur, yang minta suwuk disuwuk…

Sampai akhirnya tinggal seorang anak muda yang sudah datang sejak awal tapi belum pamit juga padahal tamu lain sudah pulang semua.

“Sampeyan pundi?” (Sampeyan dari mana?) Mbah Wahab bertanya.

“Sangking mriki mawon”. (Dari daerah sini)

“Paring asmo?” (Siapa namanya?)

“Adib”

“Bin?” (Anaknya siapa?)

“Wahab Hasbullah…”

Ternyata anak muda itu adalah putera beliau sendiri yang pulang dari pondok…

*   *   *

__________________
Resep KB paling alami:
Naik dari sebelah kiri terus turun ke sebelah kanan.

Catatan: Jangan mampir!

12 thoughts on “KB ala Pesantren”

  1. kaqfa says:

    yang ceritanya mbah Wahab Hasbullah udah pernah denger,
    tapi tetep aja lucu.

  2. Ahmad Maruv Salim says:

    maksudnya naik sebelah kiri dan turun sebelah kanan itu gimana?
    (serius)

    1. Yahya C. Staquf says:

      Hehehe… ndang rabiyo, mengko rak mudheng dhewe.

  3. a.latif says:

    ya cuma naik turun ranjang aja gus ma’ruv, itu maksudnya jangan mampir… (belum nikah ya?.. hehehe..)
    lucu.. lucu..

    1. majid ibrahim says:

      hahaha… gk jadi enak dong…

  4. wawan says:

    KB yg aneh….hehehee

  5. khasilul says:

    guyon tingkat tinggi

  6. m. arwan hamidi says:

    wkwkwkwkkkkwkwkwkwkkwkwkwkkw…..

  7. moh arif says:

    kulo nyuon dongane mawon gus…!!!

  8. ABDUL GHOFAR MACHIN says:

    Gus ADIB bin K.H.A. Wahab Hasbulloh telah mendahului kita. Al-fatihah…

  9. Rosyidi says:

    Mas Kyai, saya sudah nikah, tetap saja belum mudeng dengan joke “naik sebelah kiri, turun sebelah kanan..”. Mohon dijelaskan dengan aforisma yang lebih teknis.

  10. imam ghozali says:

    ha ha ha…kuocak pool gus…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *