Insiden Bilateral

sutarman-kapolri

Memasuki komplek istana negara Republik Yaman, terasa suasana siaga yang aneh. Tak terhitung jumlahnya tentara-tentara berseliweran menenteng senjata mematikan. Tapi potongan dan lagak-lagu mereka tidak terasa mengancam. Rata-rata perawakan mereka kerempeng dan miyur, sama sekali tidak mirip tukang berkelahi profesional. Sedangkan tindak-tanduk mereka pun terlihat tak lebih sigap ketimbang Banser.

Setelah acara kenegaraan bersama Presiden Ali Abdallah Salih dan para pejabat tinggi Republik Yaman usai, Presiden Abdurrahman Wahid beserta segenap rombongan bersiap meninggalkan tempat. Mobil kepresidenan telah disiagakan didepan pintu masuk gedung pertemuan, dengan sopir militer seorang tentara Yaman yang amatlah tebal kumisnya. Kolonel (Komisaris Besar?) Polisi Sutarman, ajudan yang bertugas, menuntun Presiden Abdurrahman Wahid menghampiri mobil kepresidenan itu. Para anggota delegasi lainnya berdiri berjajar, memberi penghormatan sambil menunggu angkutan untuk mereka.

Sesuai dengan Standard Operation Procedure, maka amal-perbuatan seorang ajudan dalam menaikkan Presiden kedalam mobil haruslah memenuhi rukun-rukun sebagai berikut:

  • Pertama, niyat –innamal a’maalu bin niyyaat;
  • Kedua, membukakan pintu mobil bagian belakang yang berseberangan secara diagonal dengan tempat duduk sopir;
  • Ketiga, membantu presiden masuk dan duduk di mobil;
  • Keempat, menutup pintu mobil;
  • Kelima, menghormat secara militer kepada presiden;
  • Keenam, naik mobil dan duduk di kursi depan disebelah sopir;
  • Ketujuh, memberi kode kepada sopir agar menjalankan mobilnya;
  • Kedelapan, tertib.

Tak disangka tak dinyana, baru Kolonel Sutarman melaksanakan rukun yang kelima, mendadak mobil melesat pergi. Kolonel Sutarman geragapan, berlari lintang-pukang mengejar di belakang!

Semua orang tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan peristiwa itu. Termasuk aku. Barulah sejurus kemudian kusadari, Kolonel TNI Amir Tohar, Komandan Paspampres, sama sekali tidak tertawa, bahkan pucat pasi mukanya.

“Kok tegang sekali, Pak?” aku bertanya.

Kolonel Amir tak segera menjawab. Matanya masih nyalang memandangi mobil dan Kolonel Sutarman yang ngos-ngosan, sampai kemudian sopir-militer-tentara-Yaman-kampungan itu menghentikan mobil dan Pak Tarman berhasil menaikinya.

“Aduh, Dik…” barulah Pak Amir bersuara, dengan kegelisahan yang masih bersisa, “bapak-bapak yang orang sipil bisa tertawa… Tapi buat tentara, ini soal gawat!”

Aku terkejut, tiba-tiba ikut merasa gelisah juga,

“Kok bisa?”

“Kalau circumstance-nya berbeda, ini bisa jadi insiden bilateral yang serius!”

Tanpa terasa aku menghela napas lega. Untunglah Presiden Abdurrahman Wahid telah amat terbiasa dengan kelakuan Banser, sehingga tidak sampai terjadi insiden bilateral yang paling lucu sepanjang sejarah umat manusia…

16 thoughts on “Insiden Bilateral”

  1. hardiyanto says:

    bagaimana kalau baru rukun kedua, tu mobil langsung ngaciiiir?
    kemudian sang presiden-pun berteriak keras “dasar Banser” …..
    si sopir Anser@ he he he ……… Ma’af, abis dah kebiasaan.
    wkwkwkkkk ………….

  2. hardiyanto says:

    bagaimana kalau baru rukun kedua, tu mobil langsung ngaciiiir?
    kemudian sang presiden-pun berteriak keras “dasar Banser” …..
    si sopir Banser@ he he he ……… Ma’af, abis dah kebiasaan.
    wkwkwkkkk ………….

  3. Imam M Riduan says:

    lucu sekali. betul juga pak tarman. untung driver kacangan itu ga ditembak, itukan bisa dianggap penculikan presiden

  4. Dwinanto says:

    Ha…ha…Untung Presidennya Gus Dur,…
    Coba kalo terjadi pada SBY…”Saya Prihatin”…ha…ha….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *