Sopir Keramat

sopir-keramat

Aku amat mencintai Mbah Syahid Kemadu. Aku sungguh yakin, Mbah Syahid itu keramat. Segala sesuatu tentang Mbah Syahid senantiasa membangkitkan keinginanku untuk ngalap barokah kepada beliau. Maka ketika diberi tahu bahwa Kamto pernah bertahun-tahun mengabdi kepada Mbah Syahid, serta-merta aku berminat kepadanya.

Kamto adalah sopir “profesional” yang menjadi tukang tes mobil di bengkel langganan ayahku di Rembang. Akbar, pawang mobil ayahku, membawanya kepadaku. Aku pun segera membawanya ke Jakarta tanpa banyak tanya. Bahkan aku merasa amat besar hati. Kalau Kamto pernah menjadi sopir Mbah Syahid, pastilah ia juga sudah menerima banyak ijazah suwuk sopir yang akan lebih menjamin keselamatanku di tangannya.

Apa mau dikata…. Bukan bunda salah mengandung, dasar nasib tak mau diuntung. Begitu masuk jalanan Jakarta, langsung ketahuan kalau Kamto itu sopir yang bahkan jauh lebih gombal ketimbang Sapek. Melihat mobil-mobil lain berseliweran saja mukanya pucat pasi. Begitu gemetarannya ia sampai bolak-balik salah memasukkan persneleng, telat menginjak kopling, melorot mundur di tanjakan, terlalu patah membelok sampai kijang dinasku babak bundhas menyerempet tiang listrik, terlalu ke pinggir sampai masuk got… dan seterusnya… dan seterusnya….

Aku menghadapi dilemma. Aku tak tahan lagi disopiri Kamto Ultra Gombal itu, tapi tak berani menyuruhnya pulang seperti Sapek karena takut kuwalat kepada Mbah Syahid. Untunglah, tak lama kemudian justru Kamto sendiri yang tak tahan dengan gerutuan dan omelanku setiap hari, kemudian minta pamit pulang. Aku mengijinkannya dengan girang.

Hanya saja, persoalan ini terasa mengganjal di hati. Bukan hanya pada diriku saja, tapi juga seluruh keluargaku, yang semuanya amat mencintai dan memuliakan Mbah Syahid. Walaupun Mbah Syahid tak tahu-menahu akan hubunganku dengan Kamto, tetap saja kami khawatir kalau-kalau persoalan ini menjadi “duri khilaf pembawa walat”. Aku ingat betul wejangan kakekku dan guru-guruku,

“Berhati-hatilah kepada kekasih Allah. Kalaupun dia rela kamu salahi, mungkin saja Kekasihnya yang tidak terima!”

Maka ibuku pun merasa perlu secara khusus menemui Nyai Syahid untuk membicarakan masalah Kamto ini.

“Mohon maaf, Nyai”, ibuku matur, “Yahya, anak saya, mengajak mantan sopirnya Mbah Syahid ke Jakarta, tapi anaknya… maksud saya sopirnya itu… yang tidak tahan, lalu minta dipulangkan…. Bukannya Yahya yang ngusir, lho, Nyai…”

Nyai Syahid terkejut,

“Lho, setahu saya, Abah –maksudnya: Mbah Syahid—itu dari dulu tak pernah ganti sopir. Ya Subekan itu dari dulu…”

Gantian Ibuku yang bingung,

“Lha katanya pernah nyopiri Mbah Syahid kok, Nyai”.

“Siapa namanya?”

“Kamto”.

“Oooo…”, Nyai Syahid terbuka ingatannya, “dia itu memang pernah sampai empat tahun ikut di sini…. Tapi tidak nyopir!”

“Oh, cuma merawat mobil, Nyai?”

“Tidak juga…”

“Lha… terus…?”

”Ngopèni sapi!” (Merawat sapi!)

10 thoughts on “Sopir Keramat”

  1. saif569 says:

    wah salah prediksi ni gus….ternyata sopir kramat sapi….wkwkwkwk**ngakak mode on

  2. Ahmad Maruv Salim says:

    lain kali ngajak saya aja gus :D

  3. Jama'ah Fesbukìyah says:

    Haha
    Mungkin sapinya sapi wedok…jadi nunggu dipikul slangkangane..

  4. mas wahid says:

    heheh.. slamet kamto

  5. Ahmad Mudatsir says:

    kemaruk keramat guusss guuus,,,,,paling keramatan aku lek dibanding kamto hahahahah tak tunggu gusss tugas keramate,,,,Musi Banyuasin Sumsel keramat…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *