Sopir Kampungan: Jalur Lambat

sopir-kampungan

Tembak langsung dari Rembang ke Jakarta menjadikanku layaknya rusa masuk kampung. Segala sesuatu tentang kota besar ini terasa mengancam. Terlebih jalanannya. Memandanginya saja bisa membuat pening. Apalagi jika harus mengarungi lalu-lintasnya, yang menggerumut seperti got. Sudah pasti aku tak tahan menyetir mobil sendiri dibawah rundungan sumpek macam itu. Maka kupanggil anak seorang kerabat di Rembang untuk datang ke Jakarta menyopiriku.

Sapek, anak itu, memang bisa nyopir. Itu keturunan, kukira, karena bapaknya dulu sopir kakekku. Hanya saja, anak ini kampungannya mana tahan. Kalalaulah Rembang itu kampung, Sapek berasal dari Dusun Mbagel, bagian dari Rembang yang jauh lebih kampung lagi.

Dari Kalibata menuju hotel Sahid di Jalan Sudirman suatu pagi, aku harus terus-menerus ceriwis memandunya seperti instruktur kursus.

Mendekati tempat tujuan, aku pun mengingatkan,

“Jalur lambat, Pek…”

Sapek tak bereaksi. Apakah dia tidak dengar?

“Jalur lambat!” ulangku.

Sapek celingukan. Mobil memang sedikit dipelankan, tapi hingga tinggal beberapa meter dari celah masuk jalur lambat, ia tak juga menggeser jalurnya.

“Jalur lammbattt!!!” aku berteriak tak sabaran.

Sapek geragapan, ”Jalur lambat niku pundi…?” (Jalur lambat itu yang mana…?)

Esok harinya kusuruh Sapek pulang.

2 thoughts on “Sopir Kampungan: Jalur Lambat”

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *