Membahasaarabkan Mahar

Dalam sebuah halaqah yang dihadiri oleh kyai-kyai besar, Almarhum Nurcholish Madjid melontarkan kritikan tajam,

“Bertahun-tahun bahasa Arab diajarkan di pesantren”, katanya, “tapi sedikit sekali, bahkan diantara kyai-kyainya, yang mempu mempergunakan bahasa Arab secara aktif. Pasti ada yang salah dalam metode pengajarannya!”

Kyai Badri Masduqi Probolinggo Allah yarham –lahumal faatihah– langsung mengacungkan jari,

“Pak Doktorandus!” beliau menyergah tanpa menunggu dipersilahkan oleh moderator, “kyai-kyai dan santri-santri pesantren belajar bahasa Arab itu keperluannya untuk berkomunikasi dengan tokoh-tokoh Islam seperti Imam Syafi’i, Imam Ghozali dan lain-lain. Untuk memahami kitab-kitab karya mereka. Jadi tidak perlu bisa ngomong pakai bahasa Arab seperti Sampiyan. Buat apa? Lha wong tetangganya orang Jawa semua!”

Rupanya benar yang dikatakan Kyai Badri Masduqi, kebanyakan kyai pesantren mempelajari bahasa Arab hanya sebatas untuk memahami kitab-kitab yang dipelajari di pesantren. Hal-hal yang tidak dibicarakan didalam ktab-kitab itu, biasanya kyai-kyai tak tahu bahasa Arabnya.

Mbah Kyai Ngaspani Allah yarham diminta menjadi wakil wali pernikahan putri Pak Daya’, salah seorang santri kalongnya. Sebelum mulai akad, Mbah Ngaspani terlebih dahulu menawarkan kepada si calon mantu,

“Pakai bahasa Arab, Jawa, atau Melayu?”

“Arab, Mbah”, si calon mantu mantap.

Mbah Ngaspani pun bertanya lebihh lanjut,

“Maharnya apa?”

Sudah nasibnya Pak Daya’, calon mantunya itu rupanya seorang santri yang sungguh mbeling.

“Gunting!” jawabnya.

Mbah Ngaspani tercekat. Bukan saja karena maharnya itu yang aneh. Lebih dari itu, “gunting” hampir tak penah disebut-sebut di kitab-kitab kuning, sehingga Mbah Ngaspani tak ingat bahasa Arabnya. Ia menengok kanan-kiri, kalau-kalau ada yang bisa dimintai bantuan. Tapi semua orang, termasuk kyai-kyai yang hadir, menunduk khusyuk. Gus Mus malah sibuk sendiri, mengorek-ngorek pipa rokoknya dengan sobekan kardus tempat suguhan penganan.

Tak ada pilihan lain, Mbah Ngaspani pun memulai shighot ijabnya,

“…Ankahtuka wa zawwajtuka… makhthuubataka…”, suaranya agak terbata-bata, sambil memutar otak habis-habisan, berusaha mengingat-ingat bahasa Arabnya gunting…, “Fulaanah binta Daya’… muwakkili…”

Hingga sampailah saatnya mahar itu harus disebutkan,

“…bimahri……. GUNTING… haalan!”

5 thoughts on “Membahasaarabkan Mahar”

  1. Farid says:

    Hakakkkkk………

  2. aqila78 says:

    Ha..haa..ha…ha…ha..

  3. anto says:

    ijin ngikik gus…

  4. Ahmad Mudatsir says:

    malah ada santri yg sok kearaban, ditanya sama kiyainya aqidnya bahasa arab pa jawa,,,? NGARABEK romo yai……
    romo yaipun mengucapkan sighot aqod Nikah,,,, sampek pada saat nya manten laki memberikan jawaban, QOBILTU NIKAHA HA WATAJWIIZAHA BIL MAHRIL MADZKUR HALAAAALAN. Kata Romo Yai, ijabnyab qobulonya aja belum tuntas kok sudah Halalan, nanti malam aja halalannya, ulangi……..

  5. assafanjany says:

    wkwkwkwkwkwkkwkwkwk……
    Haqqul Yaqin, selain NU nggak ada cerita semacam ini…. !!!!
    hahahhahah….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *