Mbah Hamid dan Mbah Bisri

Kyai Bisri Mustofa dan Kyai Abdul Hamid

Kyai Bisri Mustofa dan Kyai Abdul Hamid

Kebanyakan suwuk (doa mantera) diterapkan dengan air: kyai membaca doa kemudian ditiupkan ke air. Air suwuk itulah yang nantinya menjadi sráná (sarana) bagi yang membutuhkan, misalnya dengan meminumnya atau mengoleskannya ke bagian tubuh tertentu sebagai ikhtiar pengobatan —ingat air yang dicelupi batu ajaibnya Ponari!

Memasuki halaman kediaman Mbah Kyai Abdul Hamid Pasuruan rahimahullah pada suatu sore, Kyai Bisri Mustofa Rembang —Allah yarham— mendapati seorang santri sedang menyirami halaman itu dengan air dari selang untuk menekan debu agar tak berterbangan.

“Sungguh sayang”, gumam Mbah Bisri, “sráná kok dibuang-buang…”

Pintu rumah Mbah Hamid tertutup. Sejumlah orang yang punya hajat hendak sowan, menunggu dengan khusyuk di sekitarnya.

Tanpa sungkan-sungkan, Mbah Bisri meneriakkan salam,

“Assalaamu’alaikum!”

Tak ada jawaban. Orang-orang ngeri melihat kekurangajaran Mbah Bisri, tapi ragu-ragu untuk menegur. Mungkin mereka pikir, kalau usaha Mbah Bisri ada hasilnya, mereka akan ikut untung juga…

“Assalaamu’alaikooom!” teriakan Mbah Bisri lebih keras lagi. Tetap tak dijawab.

Santri yang menyirami halamanlah yang kemudian menegur,

“Maaf, Pak”, katanya, “Mbah Yai sedang istirahat!”

Tak menanggapi teguran si santri, Mbah Bisri malah semakin meninggikan suaranya dengan nada yang nelangsa,

“Yaa Allah Gustiiii….!” ratapnya, “beginilah nasib manusia kotor macam aku ini… mau sowan wali saja kok nggak ditemuiii…!”

Suara berdehem dari dalam, disusul Mbah Hamid membuka pintu.

“Jangan begitu lah, Nda…,” tegur beliau, “sampeyan ini kok mêsthi yang ênggak- ênggak saja…”

”Nda” adalah sapaan akrab antar teman. Beliau berdua memang sama-sama santrinya Mbah Kyai Kholil Harun rahimahullah di Kasingan, Rembang.

Orang-orang —yang sejak lama menunggu— berebut menciumi tangan Mbah Hamid dengan riang-gembira, dan mereka semua dipersilahkan masuk. Tak ada yang ingat untuk mengucapkan terimakasih atas “jasa” Mbah Bisri.

Di ruang tamu, Mbah Bisri pun menyampaikan hajatnya.

“Begini, Nda”, katanya, “sampeyan ‘kan ngerti, aku ini muballigh…”

“Hm…”

“Lha… aku ini belum punya mobil”, Mbah Bisri melanjutkan, “kalau terus-terusan kesana-kemari naik bis umum ‘kan bisa jatuh wibawaku…!”

Mbah Hamid manggut-manggut.

“Terus… maksudmu gimana?” beliau bertanya.

“Yaah… sampeyan yang dekat dengan Pêngéran, mbok sampeyan mintakan mobil buat aku!”

Mbah Hamid tersenyum.

“Ya sudah… ayo…”, beliau mengajak semua orang, “’alaa niyyati Kyai Bisri… al faatihah!” Kemudian menadahkan tangan membacakan doa, diamini yang lainnya.

Begitu doa selesai dibaca, Mbah Bisri langsung menyerobot,

“Mereknya apa, Nda?”

_______________________________

Catatan tambahan:

  1. Sumber cerita: Gus Mus
  2. Jawaban Mbah Hamid atas pertanyaan Mbah Bisri: “Kalau ’ndak Fiat ya Holden”.
  3. Tak lama sesudah didoakan Mbah Hamid, Mbah Bisri memperoleh uang min ĥaitsu laa yaĥtasib yang cukup untuk membeli mobil. Gus Mus, yang diperintah mencari mobil untuk dibeli, mengubek dari Jakarta sampai Surabaya, dan tidak menemukan mobil ditawarkan orang kecuali merek Fiat atau Holden. Akhirnya diperoleh mobil sedan Holden keluaran 1968.

Yahya Cholil Staquf

Pernah menjadi Juru Bicara Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Saat ini sebagai Katib Syuriah PBNU dan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang.

You may also like...

34 Responses

  1. hary says:

    saya ini orang bodoh yg gak bisa apa2 ,setelah membaca tulisan di atas hati ini terasa sejuk dan bahagia, semoga beliau2 di rahmati alloh dan kepri badiannya di tiru semua umat….amiin….

  2. hary says:

    semoga pemikiran dan kepribadian beliau2 diteruskan oleh semua umat…amiin…..salam alaikum..

  3. qo2m says:

    hmmm…. persahabatan yg penuh berkah ilaa yaoumil qiyamah…

  4. سبحان الله

  5. Ya Allah Gustiii,,, mugi angsal cipratan berkahe yai2..

  6. ningnung says:

    subhanallah, emang kyai sangat dekat dengan ummat.
    ~ ningnung media

  7. Aà Ë Nök via Facebook says:

    sae

  8. Abu Ahmad Al-kamal via Facebook says:

    ya allah…ya robby..rembang tulen tenan…jempol 4 guus..

  9. Ah ah ah ah. . . . . . .
    Jan Komplit tnan . .
    Merk ipun nusul. .

  10. Yg penting jangan meremehkan do’a orang lain karena mengklaim do’a sendiri yg makbul

  11. indahnya bersama para ulama lahumulfaatihah….

  12. ‘ala niyati mbah Bisri, minta merk Kiat ESEMKA

  13. Ceritanya selalu menarik…
    Cara penyajiannya pun apik…
    Terong gosong emang asyik…

  14. Wah iku ìso di tiru nda?mau minta laptop ah.
    Monggo di amiinì sareng sareng.

  15. minta bojo seng ayu ahhh… monggo diamini,,,,

  16. abdussalam says:

    hahaha mantap

  17. Untuk Mbah Bisri & Mbah Hamid Al Fatihah

  18. lanjutkan terong gosong dg cerita2 penuh hikmah insyaallah manfaat untuk umat…amin.

  19. anwar says:

    Subhanallah..dahsyatnya doa wali

  20. Menarik nih buat di share..tiru ah..

  21. Podo 2 waline,selevel…awas lho yg lain jgn ikut2an…

  22. Ini adalah contoh pengamalan (praktek) ber-istighotsah, bahkan didalam kisah ini tersirat juga anjuran untuk beristighotsah dengan pola yang dicontohkan oleh Kiyai Bisri Mustofa. Tentu saja bagi masing-masing pribadi disyaratkan tata-krama yang patut. Kalau Kiyai Bisri terkesan “glah-gleh” kepada Kiyai Hamid, itu karena beliau berdua adalah kawan lama yang seangkatan mondok di Kasingan, Rembang.

    Adapun masalah ber-istighotsah kepada orang sholih yang sudah wafat, kita ber-husnudhdhon bahwa pada hakikatnya ia hidup disisi Allah dalam limpahan karunia-Nya. Ber-husnudhdhon kepada orang sholih dan kepada Allah Ta’ala tidak ada ruginya sama sekali.

    Kesimpulan: ini memang UNTUK DITIRU.

  23. merk mobil terbaru…merk mobil cap do’a…

  24. Zen Mehbob via Facebook says:

    ::
    lahumaa al-faatihah…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>