Jernih dan Merdeka

Kyai Ali Ma'shum

Kyai Ali Ma’shum


Kita hidup dalam kepungan lembaga-lembaga dan label-label. Lembaga-lembaga merantai kita dalam kotak-kotak dan prosedur-prosedur, sedangkan label-label laksana kaca mata kuda yang menjepit kedua pelipis kita hingga gepeng.

Ketika Ulil (Abshar Abdalla) hendak membentuk JIL (Jaringan Islam Liberal), Gus Dur menasehati,

"Pakai label itu lebih banyak rugi ketimbang untung", kata beliau, "label cenderung mengundang serangan".

Ulil tetap membentuk JIL. Dan nyaris serta-merta ia menjadi sasaran tembak bagi siapa saja yang mencurigai Yahudi, Israel dan Amerika. Tak seorang pun cukup sabar untuk memperhatikan gagasan-gagasan Ulil beserta argumentasi dan khazanah pengetahuan yang diusungnya. Orang hanya bernafsu mengincar label JIL yang ditempel di jidatnya!

Pada gilirannya, semua yang anti-Yahudi jadi anti-JIL. Kemudian yang tidak setuju dengan pendapat-pendapat Ulil jadi anti-JIL. Bahkan di kalangan NU, "tanah tumpah-darah"-nya Ulil sendiri, berkembang pula gairah anti-JIL, gara-gara Ulil meneriakkan: "Semua agama sama"!

Pada tahap berikutnya, kesalahpahaman, kebencian dan syak wasangka mengeruntel di benak orang-orang yang memang sempit ruang-pikirnya sehingga kaburlah beda antara JIL, Ulil, pluralisme, pembaruan, Yahudi, humanisme, dan segala yang tidak cocok dengan kegalakan "agamis". Maka, JIL menjadi hantu sapu jagad. Nyaris mirip PKI dulu. Barangsiapa menyuarakan feminisme atau multikulturalisme atau pluralisme, dicap JIL –tidak kurang dari MUI (Majlis Ulama Indonesia) merasa perlu mengeluarkan fatwa haram khusus berkaitan dengan ini! Yang membela hak-hak minoritas (khususnya Ahmadiyah): JIL. Yang menjalin kerja sama dengan Amerika: JIL. JIL kemudian menjadi "alat kampanye" yang amat efektif bagi tiran-tiran kecil disekitar kita, yaitu dengan agitasi mereka: "Barangsiapa tidak setuju dengan saya: JIL!"

Belakangan –saya kuatir– "logika bersih lingkungan" mulai diterapkan. Konon Kiyai Najih Maimun menyusun suatu daftar hitam eksponen JIL yang harus diwaspadai, dan di urutan nomor satu ia tempatkan: Kiyai Mustofa Bisri! Karena Gus Mus mertuanya Ulil?

Itulah afatnya label.

Akan halnya lembaga-lembaga, tak kurang pula teganya menindas kita. Lembaga membawa klaim yang dijadikan senjata untuk menodong dan menuntut kepatuhan kita, yaitu "kehendak kolektif yang mapan". Kita harus patuh atau kita menjadi musuh bersama. Pada tingkat lanjutnya, lembaga-lembaga bahkan mengangkangi klaim kebenaran!

Mengapa orang-orang tertentu harus duduk dideretan terdepan walaupun datang terlambat sedangkan yang lain di belakang walaupun datang lebih awal? Lembaga! Mengapa harus memakai model pakaian tertentu untuk datang ke suatu tempat atau acara tertentu? Lembaga!

Dulu, Gus Dur menuai hujan kecaman hanya karena menjadi Ketua Dewan Juri Festival Filem Indonesia (FFI). "Kiyai kok jadi juri kethoprak!" kata orang. Sementara itu, penerbitan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) atas sejumlah koruptor dinyatakan benar karena "sudah sesuai prosedur".

Gambaran realitas memang tidak selalu sengeri itu. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa lembaga-lembaga dan label-label seringkali mengeruhkan cara berpikir kita dan merampas kemerdekaan kita. Oleh karena itu, orang-orang pandai terkadang sengaja menabrak kungkungan lembaga-lembaga dan label-label itu demi memelihara kejernihan pikir dan jiwa merdekanya. Ingat bagaimana Presiden Abdurrahman Wahid keluar menemui para demonstran pendukungnya hanya dengan celana pendek?

Mbah Kiyai Ali Ma'shum mengajak sejumlah santri anggota DPR –label bikinan santri-santri Krapyak untuk menyebut para khadam ndalem yang bertugas mengurus dapurnya kiyai; DPR artinya: DaPuR– masuk restoran "Legian". Sebuah restoran yang pada waktu itu tergolong paling mewah di seantero Yogya. Santri-santri itu berbunga-bunga luar biasa. Kapan lagi bisa jajan di restoran mewah macam itu? Walaupun sarung mereka kedodoran ditengah para pengunjung lain yang necis-necis, mereka tak perduli.

"Ayo! Kalian pengen pesan apa?" Mbah Ali mempersilahkan santri-santrinya ketika pelayan restoran menghampiri meja mereka. Tapi tak ada yang berani mendahului kiyainya.

"Aku minta air panas saja", kata Mbah Ali.

Pelayan mengernyit,

"Teh atau…?"

"Enggak! Air putih saja… yang panas!"

"Makanannya, Pak?"

"Enggak! Itu saja!"

Santri-santri jadi belingsatan. Kalau Mbah Ali cuma air putih, mana berani mereka pesan yang mahal-mahal? Akhirnya pesanan mereka pun seragam: teh manis!

Tak lama kemudian, semua pesanan –yang cuma minuman– tersaji di meja. Santri-santri segera sibuk meniupi wedang teh yang terlalu panas. Mbah Ali merogoh saku, mengeluarkan kantong plastik kecil. Isinya gula. Merogoh saku lagi, sebutir jeruk nipis diletakkan diatas meja. Merogoh lagi, sebuah pisau lipat kecil di tangannya. Dan mulailah Mbah Ali meracik wedang jeruk buatannya sendiri…

4 thoughts on “Jernih dan Merdeka”

  1. Fadloli Yasin says:

    ha ha ha Top markotob, tak tambahi (th 198….? pulang dari manaqib kubro di kediri, oleh-olehnya kranjang nasi berkat, sampai mantingan . mandek..mandek golek warung sing eeeenaaak kata mbah Ali.. dpt warung cukup megah dan bersih,, kami
    masuk warung,,, mbah ali pesen kopi aku dan temen-temen ngikut pesen kopi, batin ku knp nasinya lama ….? kopi hampir habis…. dadaan mbah ali ngendiko “cung berkat di mobil gowo mrene..” waaaah iki numpang makan berkat di warung….?

  2. ahmadi says:

    sungguh jiwa yg merdeka.begitu indah.

  3. Teja Utama says:

    Saya kira bukan saja kemerdekaan berpikir yang menonjol dari mereka, para “Shogun” ilmu dan akhlaq itu, namun yang lebih penting lagi adalah kejujuran. Jujur bersikap sebagaimana keinginan mereka dan terlihat laksana memerdekakan kehendak karena tanpa pretensi apapun. Kejujuran semacam itu pulalah, yang jika membuat seseorang menjadi sangat rapi dan serius, akan menunjukkan maqam yang asli. Khusu’ dan dines asli. Bukan atas nama muru’ah ataupun kaidah-kaidah mu’asyaroh tertentu.

  4. Muslim says:

    Resikonya mengaku liberal harusnya kan memang siap ketemu orang-orang yang beda pendapat dengannya. Seorang liberal sejati harusnya menghargai semua jenis pemahaman dan pemikiran, termasuk yang berbeda pendapat dengannya. Kalau ada kalimat “klaim kebenaran” terhadap mereka yang kontra thd Ulil, bukannya itu berarti njenengan sedang bilang, “tuh yang kontra Ulil, lagi sok bener.” Berarti kan njenengan sedang bilang “kalian ngaku bener itu nggak bener”, di saat itu njenengan sendiri sedang mengklaim kebenaran… Just a thought. Semoga njenengan dengan keterbukaan pikiran njenengan bersedia membiarkan komentar yang bernada beda ini. Assalamu ‘alaik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *