Antara Bungkus dan Isi

الأعمال صور قائمة وأرواحها وجود سر الإخلاص فيها

(Amal itu [barulah] merupakan sosok yang siaga. Nyawanya adalah eksistensi rahasia ikhlas di dalamnya) — Asy Syaikh Muhammad ibn ‘Athoillah As Sakandary.

Amal itu bungkus, rahasia ikhlas (kalau ada) isinya.

Haji Saiful Mudjab, Yogya, muballigh andalan warga NU pada masanya. Seusai pengajian, suatu kali, shohibul hajat tidak hanya menyelipkan amplop ke tangannya, tapi masih ditambah dua kardus berkat: yang satu besar, satunya lagi kecil.

Sesampainya di rumah, Pak Saiful Mujab memberikan kardus berkat yang kecil kepada sopirnya.

“Nih! Jatahmu!” katanya. Toh si sopir baru beranak satu. Tak banyak mulut yang menunggunya di rumah.

“Terimakasih, Yai!” jawab sopir, lalu buru-buru pulang setelah memasukkan mobil ke garasi, karena sudah larut malam.

Pak Saiful Mujab sendiri, seperti biasanya kalau pulang bawa berkat, segera membangunkan anak-isterinya sendiri,

“Berkat! Berkat!” ia sengaja mengeraskan suara.

Sembari masih mengucek-ucek mata, anak isteri pun merubung kardus besar yang diletakkan diatas meja makan. Dari ukurannya saja kelihatannya menggiurkan. Nyai Saiful membagikan piring-piring, lalu membuka tali rafia yang mengikat berkat itu.

“Haahh?!!!” mereka terhenyak hampir serempak.

Kardus itu hanya berisi nasi putih tanpa lauk sama sekali!

Dalam perjalanan mengantarkan Pak Saiful Mujab pada pengajian kali berikutnya, Sopir membuka bicara,

“Shohibul hajat yang kemarin itu royal sekali ya, Pak Kyai!” katanya, “jatah saya saja satu ingkung bakar seekor utuh! … Kalau lihat ukuran kardusnya, jatah Pak Kyai pasti paling tidak tiga!”

Pak Saiful Mujab diam seribu bahasa…

Para pemimpin sejumlah “negara Islam paling berpengaruh” bertemu di Doha, Qatar, 2001. Diantara mereka adalah Presiden Abdurrahman Wahid dari Republik Indonesia. Mereka bersepakat untuk mengalang pertemuan rutin diantara mereka secara berkala demi meningkatkan kerja sama multilateral dan membicarakan berbagai permasalahan yang melanda dunia Islam pada umumnya. Telah mereka sepakati pula bahwa pertemuan berikutnya akan diselenggarakan di Jeddah, Arab Saudi. Hanya saja, masih ada perdebatan antara Pangeran Abdullah dari Arab Saudi dan Presiden Pervez Musharaf dari Pakistan. Pangeran Abdullah menganggap cukup pertemuan Jeddah yang akan datang itu disepakati saja tanpa harus disebut secara eksplisit dalam deklarasi yang akan mereka umumkan. Pervez Musharaf ngotot agar hal itu disebut, untuk “menjamin komitmen semua pihak”. Keduanya berdebat begitu sengit sehingga Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, Raja Qatar yang memimpin pertemuan mengalami kesulitan untuk menengahi.

Akhirnya, Presiden Abdurrahman Wahid angkat bicara.

“Ini soal bungkus dan isi”, kata Presiden, “Deklarasi itu bungkus, komitmen kitalah isinya. Marilah kita semua lebih mengedepankan isi. Karena isi itu biasanya lebih penting daripada bungkusnya. Contohnya: BH!”

Semua orang tertawa tergelak-gelak. Sheikh Hamad yang sedang iseng meremas-remas kertas sampai tak sadar melempar kertas itu ke arah Presiden. Lalu buru-buru berdiri, menghampiri Presiden, minta maaf berluang-ulang sambil mengelus-elus pundaknya.

Gelak tawa lebih ramai lagi, menandai dipungkasnya perdebatan.

8 thoughts on “Antara Bungkus dan Isi”

  1. Sidoel Tattid says:

    ikutan wae….

  2. Arridho Ariyanto Fathuridho says:

    wkwkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk

  3. nur chamid says:

    isinya memang mantap…

  4. Mas Masrur says:

    isi lebih penting,apalagi spt contoh diatas

  5. syaiful says:

    Lebih suka isi daripada bungkus

  6. Ahmad Maruv Salim says:

    sial, aku belum pernah merasakan “isi”. :D

  7. Bisri Mustofa says:

    kecerdasan linguistik perlu dipupuk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *