Abdurrahman Az-Zaahid

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Zuhud haqiqi dalam definisi Imam Ghozali adalah “buruudatud dun-yaa ‘alal qolbi”, yakni ketika dunia seisinya terasa hambar dalam hati, sehingga tak ada lagi yang layak diinginkan sebagaimana tak ada lagi yang layak dihindari.

“Gus Dur itu nggak pernah punya dompet”, kata Gus Mus. Konon, sepanjang hidupnya, berkoper-koper uang sempat lalu-lalang di bawah hidungnya tanpa Gus Dur pernah menyentuhnya walau selembar pun.

Saifullah Yusuf, salah seorang keponakannya — kini Wakil Gubernur Jawa Timur — menyaksikan bagaimana Gus Dur menghadapi rasa sakit, yaitu ketika Saiful menyertainya dalam suatu kunjungan ke Seoul, Korea Selatan — jauh sebelum kepresidenan. Nahas menimpa Gus Dur waktu itu, tangannya terjepit pintu hingga ujung jari telunjuknya pecah. Hebatnya, Gus Dur seolah tidak merasakan apa-apa. Berdesis pun tidak!

“Menghadapi rasa sakit itu cuma soal bagaimana kita mengelola emosi”, katanya.

Saya sendiri pernah menyertainya dalam sebuah “road show” di Sumatera — pasca lengser. Usai sebuah pertemuan resmi di Medan, sekitar jam 23.00 WIB, dimulailah rally darat menuju Padang. Sepanjang jalan dari Medan ke Padang telah disiapkan acara-acara di beberapa tempat — ada enam tempat. Hanya di tempat-tempat acara itulah kami berhenti, di mana Gus Dur harus menyampaikan pidato dan mengikuti upacara ala kadarnya. Sampai di Padang sekitar pukul 2.00 dini hari pada hari berikutnya — total perjalanan 27 jam, di sebuah pesantren kecil di mana Gus Dur harus mengikuti sebuah haflah dan menyampaikan pidato hingga sekitar setengah empat pagi. Barulah kemudian kami beristirahat di hotel.

Selanjutnya, jam 9.00, acara di sebuah gedung pertemuan hingga jam 12.00, langsung ke bandara mengejar pesawat balik ke Jakarta. Sampai Jakarta sore hari.

Badan saya hancur. Tidak kurang dari seminggu saya harus bergelung di kasur, menunggu tulang-belulang saya tersambung kembali.

Bagaimana dengan Gus Dur?

Tiba di Cengkareng waktu itu, beliau tidak keluar dari bandara. Hanya pindah terminal untuk kemudian langsung terbang ke Barcelona! Yang menerkam benak saya adalah pertanyaan ini: kalau saya, anak muda yang waras-wiris, merasakan kesakitan tak tertahankan, mungkinkah Gus Dur, orang tua yang sakit-sakitan — sudah stroke lima kali — tidak merasakan sakit?

Sejak sangat lama sebelum kepresidenan, Gus Dur sudah terbiasa dengan perjalanan silaturrahmi yang tak henti-henti. Di antara yang setia mengithilnya adalah Zastrow Al Ngatawi, salah seorang “anak suaka”-nya. Berulang kali di ruang tamu paman saya ketika Gus Dur mampir, Zastrow mengulurkan berbagai macam penganan secara sembarangan: mulai dari biskuit sampai lemper. Gus Dur menerima apa pun yang diulurkan kepadanya tanpa bertanya dan menelan habis tanpa komentar apa-apa.

Kenikmatan terbesar yang saya rasakan sebagai Juru Bicara Kepresidenan adalah kesempatan berkeliling dunia — belasan negara sudah saya ampiri sampai-sampai saya lupa satu per satunya — hanya dengan menginthil Gus Dur dalam fungsi dan kedudukan yang lebih rendah ketimbang anjingnya Ash-haabul Kahfi. Segala makanan terbaik dari setiap negara yang kami kunjungi telah saya nikmati sehingga lidah saya menjadi lidah internasional. Berkaitan dengan ini, Nigeria adalah kenangan tersendiri.

Pada jamuan makan malam di istana negara di Abuja itu disuguhkan berbagai hidangan yang semuanya tampak amat menggiurkan. Daging berbongkah-bongkah, nasinya berwarna kekuningan seperti nasi kabuli. Musik dan tarian tradisional yang menghentak-hentak seolah mengombyongi gelinjang perut yang lapar. Begitu dipersilakan, saya pun menyendok nasi dengan tak sabar.

Belum lagi nasi menyentuh lidah, aromanya menyergap dan… aduh mak! Terror yang mengerikan! Pruwwengusnya ampun-ampunan! Entah lemak kuda nil atau lemak buaya yang dijadikan bumbunya? Prengusnya puluhan kali lipat dibanding kambing Jawa yang tak pernah dimandikan sejak nenek-moyangnya!

Segala hidangan di atas meja berubah jadi hantu! Jelas saya tak akan sanggup mendorong apa pun melewati ujung lidah, apalagi kerongkongan saya!

Saya lirik kanan-kiri, semua anggota rombongan kepresidenan nyungir-nyungir. Sebagian buru-buru menutupinya dengan pura-pura tersenyum. Ibu Negara, Yenny, dan Inayah tampak asyik menumpahkan perhatian pada sajian pertunjukan kesenian. Saya yakin, itu juga pura-pura. Sendok-garpu kaku di genggaman mereka, sama sekali tidak menyentuh piringnya!

Bagaimana dengan Bapak Presiden?

Beliau menyuap dengan lahap dan telap-telep seolah itu memang makanan yang lezat luar biasa!

*  *  *

Kalau kau tak punya hajat akan yang enak, engkau pun tak punya hajat menghindari yang tidak enak.

13 thoughts on “Abdurrahman Az-Zaahid”

  1. cumifumi says:

    araba’in fi ushuluddin :)

  2. sigit says:

    hanya presiden gus dur saja, tak ada lagi.

    1. sigit says:

      hehe…

  3. Aghus Wiyoto says:

    Hahaha…

  4. ali mikhyal muhammad says:

    dan seperti itulah pemimpin yang sebenarnya

  5. anwar says:

    Gak ada bandingnya …

  6. Must Joyo says:

    Sungguh sangat… Ngestok’né… hehehehe

  7. boel boel says:

    Hahahaaaaaaaaa….

  8. Rizal says:

    Rindu padamu gus…
    Hehehee…
    Kangen kekeh mu gus..

  9. nunu says:

    Membayangkan ekspresi gus dur makan nasi prengus telap telep hahaha

  10. Ahmadsyarofi says:

    masalahnya ada di manajemen emosi.
    wow

  11. ali shodiqin says:

    sungguh saya suka tulisan tentang zuhudnya gus dur ini, barakaLLahh……

  12. Subbhan a says:

    Bwahahahaha..
    Ya Allah..
    Kisahnya sumpah lucu bingits gus..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *