Banser Rasional

Setelah keributan kecil diatasi, prosesi dilanjutkan. Banser yang terkapar bangkit lagi. Dia itu banser yang heroik. Ia tak mau digantikan temannya. Apa pun yang terjadi, tugas harus diselesaikan sampai tuntas.

Diatas panggung, Ketua Umum sudah reda tawanya. Dengan khidmat ia terima Sang Saka Merah putih, lalu menghampiri rak bendera. Apa lacur, ketika hendak dimasukkan lobang pada rak, tiang bendera itu tak mau! Ketua Cabang terpilih membantu, tak juga mampu. Beberapa orang banser dari regu pengawal keluar barisan untuk turun tangan, tetap saja tak ada hasilnya! Batang tiang bendera itu terlalu besar untuk lobangnya!

Apa boleh buat, akhirnya hanya bendera NU dan Anshor yang dipasang. Bagaimana dengan Sang Saka? Si Banser dengan penuh dedikasi menyediakan diri untuk membawa terus bendera itu diatas panggung, mendampingi Ketua Umum selama menyampaikan pidatonya. Lagi-lagi ia tak mau digantikan.

Maka demikianlah, Ketua Umum memberikan pidato pelantikan dengan Banser Pembawa Sang Saka berdiri dibelakangnya agak kesamping. Banser itu sungguh teguh. Walaupun Ketua Umum meledeknya habis-habisan, ia hanya cengar-cengir saja.

Tapi ketika riuh-rendah sorak dan tawa menyambut pidato Ketua Umum semakin seru,  Si Banser diam-diam balik kanan, lalu melangkah tegap hendak turun panggung.

“Lho! Lho! Lho! Mau kemana itu?” Ketua Umum menegur.

Banser berhenti, balik kanan, mengambil sikap sempurna, dan melapor,

“Siap, Gus! Capek, Gus!”

One thought on “Banser Rasional”

  1. zen says:

    Banser yg penuh dedikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *