Tim Sukses

Awal 1990-an, Kongres IPNU di Lasem, Rembang. Seorang teman baruku menelepon bahwa ia mengikuti kongres itu dan sudah berada di sebuah hotel di Lasem. Aku pun berangkat hendak menyambangi.

Kamar hotel kelas melati itu –sudah yang paling mewah yang tersedia di seantero Lasem– penuh orang. Suara mereka riuh rendah. Ada yang bicara berapi-api, ada yang berbantah sengit, ada yang malah bercanda-canda. Gelak tawa meletup sekali-sekali. Tapi semua orang jelas merubung teman baruku, Saifullah Yusuf.

Setelah disambut denganĀ  riang gembira, aku memperoleh penjelasan bahwa Saiful hendak maju dalam pencalonan Ketua Umum IPNU. Itu membangkitkan semangatku. Kupandang sekeliling ruangan, ada lebih lima belas orang, dan lebih banyak lagi bersenda-gurau di emperan kamar. Ini cukup banyak, pikirku. Untuk memperebutkan hanya sekitar 300 suara, ini cukup banyak. Tiga puluh suara lebih adalah modal awal yang cukup. Aku segera mengajak bicara tentang gagasan-gagasan kampanye dan penggalangan. Aku merasa punya cukup banyak pengetahuan dan pengalaman soal beginian dan aku membicarakannya dengan fasih sekali sehingga mereka serta-merta menjadi sama bergairahnya denganku.

Kami bekerja keras: merumuskan isu-isu, rapat, membuat pamflet dan selebaran, rapat lagi, membeli duren, rapat, mengamati gadis-gadis peserta Kongres IPPNU, rapat lagi, dan seterusnya. Kami juga membagi tugas kasak-kusuk untuk menggalang dukungan cabang-cabang. Aku dan Zastrouw Al-Ngatawi kebagian mempengaruhi cabang-cabang dari Jawa Tengah dengan bermacam argumentasi yang telah kami siapkan, kecuali Cabang Rembang. Kepada Rohim, Ketua IPNU Rembang, aku tak banyak berhujjah.

“Kamu harus pilih Saifullah Yusuf”, kataku, “Awas kalau tidak!”

Pemungutan dan penghitungan suara dilalui dengan penuh ketegangan, sampai keluar hasil akhirnya: Saifullah Yusuf (hanya) memperoleh dua (D.U.A) suara!

Aku menggerutu dan menyumpah-nyumpah panjang-pendek.

“Ini tidak benar! Ini tidak benar! Kita sudah bekerja begitu kerasnya tapi semua orang berkhianat!”

“Siapa yang berkhianat?”

“Ya tim kita sendiri! Kemana perginya suara mereka?”

“Suara siapa?”

“Tiga puluh orang lebih! Dua suara itu pasti yang satu dari Rembang, satunya lagi dari Pasuruan karena ketuanya saudaramu. Berarti tim kita justru nggak ada yang mau ngasih suara!”

Saiful meringis,

“Lha wong mereka memang nggak punya suara…”

“Lho?”

“Mereka kan bukan peserta”.

“Lho?”

“Mereka itu Romli… Rombongan Liar…”

One thought on “Tim Sukses”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *