Simpanan

Mbah Harun seorang nelayan dari Desa Karangmangu, Sarang. Ia punya sebuah perahu kecil yang biasa disebut “cukrik”. Tiap hari ba’da shubuh ia berangkat melaut, pulang sekitar waktu dluha. Yang ia peroleh hari itu ya untuk nafkah hari itu. Sore hari, Mbah Sintho’, isterinya, biasa berkunjung ke tetangga-tetangga, terutama yang kelihatan kurang berpunya. Kalau ada rejeki yang lebih dari kebutuhan sampai esok pagi, kelebihan itu ia serahkan kepada yang membutuhkan. Mbah Sintho’ tidak suka menyimpan-nyimpan.

Semua anak-anak Mbah Harun dan Mbah Sinto’, yaitu Umar Harun, Kholil Harun, Fadlil Harun dan Shodiq Harun, di kemudian hari menjadi pengabdi ilmu-ilmu agama dan menurunkan dzurriyyah yang mengabdi kepada ilmu-ilmu agama pula.

Di Pesantren Soditan, Lasem, Haflah Mauludiyyah adalah kegiatan rutin. Tanpa diminta, biasanya beberapa hari sebelum acara akan berdatangan macam-macam hantaran dari masyarakat sekitar, berupa beras, bumbu-bumbu, jajanan, bahkan kambing dan sapi. Hanya saja, hari itu seseorang mengirimkan beras terlalu banyak dan terlalu dini, sehingga Nyai Nuriyah, isteri Kiyai Ma’shum, kerepotan menyimpannya. Apalagi waktu itu pas Nyai Nuri hendak pergi untuk suatu keperluan, sedangkan Kiyai Ma’shum belum turun dari langgar, mengajar santri. Nyai Nuri pun menyuruh menumpuk begitu saja karung-karung beras itu didekat dapur, kemudian pergi meninggalkan rumah.

Turun dari langgar usai mengajar, Kiyai Ma’shum kaget melihat tumpukan karung-karung itu. Nyai Nuri belum pulang.

“Dari mana ini?”

“Tadi ada orang ngirim”, santri ndalem menjawab.

“Untuk apa?”

“Tidak tahu… Nyai tidak berpesan apa-apa…”

Kiyai Ma’shum kelihatan tidak senang.

“Bagi-bagikan ke tetangga sana! Semuanya!”

Tak ada yang membantah.

Semua karung habis, Kiyai Ma’shum belum puas. Beliau lihat di pojok dapur masih ada karung teronggok, meskipun hanya separoh isinya.

“Itu! Bagikan sekalian!” perintahnya.

Nyai Nuri yang baru pulang kemudian ganti kaget.

“Karung-karung beras tadi mana?”

“Kusuruh bagi-bagikan!” suara Kiyai Ma’shum ketus.

“Lho?”

“Numpuk beras banyak-banyak begitu buat apa?” Kiyai Ma’shum kentara gusarnya, “banyak orang lain yang butuh kok!”

Nyai geleng-geleng kepala.

“Bukannya numpuk, Pak”, ia menjelaskan, “itu sumbangan orang untuk muludan…”

Kiyai Ma’shum tercingak.

“Aku nggak tahu…”

Tak berkata apa-apa lagi, Nyai masuk dapur untuk menyimpan buntalan entah apa yang dibawanya.

“Lho?!” terdengar lagi seruan kagetnya, “karung yang di pojokan sini mana?”

“Kusuruh bagikan sekalian”.

Nyai bengong.

“Lha yang buat diliwet besok apa?”

“Ngliwetnya besok kok sekarang sudah nanya…” Kiyai Ma’shum tenang…

4 thoughts on “Simpanan”

  1. Taufan Harimurti says:

    hidup dgn kesederhanaan dan selalu berprasangka baik kpd Allah..

  2. Basirun Mohammed says:

    jaman sekarang …
    apa masih ada ya orang yang seperti beliau almaghfurlah ..?
    subhanallah …

  3. ahbib habiibak says:

    subhanallah..bisa dan mampu pa gak ya kita seperti itu.,kalo aku koq berat..

  4. kang sodron says:

    Lha iyo, kbeh wes dcepak’i kro seng nggwe urip..nduwe jagane sesok wes ayem

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *