Keperluannya Menjadi Wali

Konon ada tujuh puluh hijab untuk “sampai” kepada Allah. Diantara hijab-hijab itu adalah: kekeramatan!

Pagi itu santri-santri Krapyak tercekam oleh kuliah ba’da shubuhnya Kiyai Zainal ‘Abidin Munawwir. Walaupun yang beliau sampaikan adalah kisah yang sudah diketahui semua orang dan cara beliau menyampaikan –seperti biasa, sesuai watak beliau– begitu datar, tanpa emosi dan tanpa hiasan retorika sama sekali, tapi cara pandang beliau terhadap kisah itulah yang bikin merinding.

“Hasud, dengki, adalah ma’shiyat yang pertama kali dilakukan makhluq kepada Allah”, Mbah Zainal menerangkan, “Iblis mendengki Nabi Adam ‘alaihis salam karena ia yang merasa telah beribadah ribuan tahun ternyata tidak dijadikan wali oleh Allah, malah Nabi Adam yang baru saja diciptakan langsung diangkat menjadi wali. Maka Allah pun melaknat Iblis. Padahal… apa sih jeleknya kepingin menjadi kekasih Allah?”

*   *   *

Seseorang mendatangi Gus Mus dan memuji-mujinya.

“Sampeyan ini tinggal selangkah lagi sudah jadi wali, Gus!”

“Selangkah lagi gimana?”

“Sampeyan tinggal pergi ke Hadlramaut, ziarahi semua makam habaib auliya-illah disana… pulangnya pasti sudah jadi wali!”

Gus Mus mendengus,

“Memangnya kalau sudah jadi wali terus mau apa?”

One thought on “Keperluannya Menjadi Wali”

  1. moh.bisri says:

    Ha…ha..ha.. Sama juga ketika orang pd sibuk riyadhoh..suluk..pingin ketemu dan sampai pd Allah…nah pertanyaannya sama..kalau sdh ketemu Allah kamu mau apa?..apa terus tamat hidupmu…?..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *