Gus Dur Bukan Semar

semar-by-superheru

Banyak orang menisbatkan Gus Dur kepada Semar. Barangkali karena perawakannya yang gemuk, ditambah sepak-terjangnya yang senantiasa mencerminkan hati nurani rakyat, sebagaimana Semar, tokoh wayang yang digambarkan sebagai perwujudan rakyat, baik dalam aspirasi maupun kuasanya. Tapi Mbah Lim (Kiyai Muslim Rifa’i Imampuro) tidak setuju.

“Bukan Semar… bukan Semar…”, katanya, “Wisanggeni! Yang benar Wisanggeni!”

Wisanggeni adalah anak Arjuna dari perkawinannya dengan Dewi Dursanala, puteri Bathara Brahma. Mirip Gatotkaca, Wisanggeni juga dicemplungkan kawah Candradimuka ketika masih bayi, tapi malah memperoleh kesaktian luar biasa. Wisanggenilah yang berhasil menyingkirkan Bathara Kala. Hanya saja, untuk itu ia harus rela mengorbankan diri, mati lebih dahulu dan tidak mendapat jatah mendampingi Pandawa dalam perang Bharatayudha.

Menjelang Muktamar NU ke-29 (Cipasung, 1994), Mbah Lim datang menjenguk Gus Dur di Kantor PBNU, Jl. Kramat Raya, Jakarta. Mbah Lim membawakan sebotol madu. Secarik kertas tertempel di botol itu dan Gus Dur tertawa membaca tulisan Mbah Lim disitu:

“MADU KUAT UNTUK KETUA UMUM LIMA PERIODE”

Gus Dur menolaknya,

“Sampeyan minum sendiri saja, Mbah… biar sampeyan yang jadi Ketua lima periode!”

“Bodong…bodong…bodong…!”

Kini Gus Wisanggeni sudah tiada. Harusnya Bathara Kala pun telah sirna. Tapi Bharatayudha didepan mata…

One thought on “Gus Dur Bukan Semar”

  1. Misbahoel Oeloem says:

    iso2 resepe Mbah Lim dadi rebutan…….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *